by

“KutiKata “oleh Elifas Tomix Maspaitella (Ketua Umum MPH Sinode GPM)

MAU BIKING SUSAH SAPA?

(2 Taw. 24:15-22)

AMBON,MRNews.com,- “Biking apapa tuh jang inga diri sandiri” (=melakukan sesuatu jangan memikirkan diri sendiri), karena “ale berbuat mar orang banya bisa susah” (=perbuatan anda bisa menyusahkan banyak orang), “salah jaga ale pung turunan jua tanggong tar kuat” (=malah keturunanmu tidak kuat menanggungnya).

Nasehat-nasehat ini bersumber dari “pikir hidop eso lusa” (=hidup esok dan seterusnya ~ini semacam pengharapan masa depan) atau “jang biking susah anana cucu” (=jangan menyusahkan anak cucu/keturunan ~ini filsafat keberpihakan kepada generasi masa depan).

Jadi “berbuat tuh pikir anana cucu lai” (=melakukan sesuatu harus memikirkan anak cucu), sehingga “jang tagal katong la eso lusa dong yang susah” (=jangan karena perbuatan kita saat ini, di hari esok mereka yang susah).

Ini “pasang bae par orangtatua” (=nasehat indah untuk orangtua), karena “katong pung jalang hidop Antua su ator” (=jalan hidup kita diatur Tuhan), sebab itu “par oras yang ada nih, mau biking apapa tuh inga orang banya” (=saat ini, melakukan apa pun harus ingat orang banyak).

“Kalu dapa parcaya par karja apapa, biking deng bae-bae” (=bila mendapatkan kepercayaan untuk bekerja, kerjakan dengan baik-baik). “Jang pas jadi la maeng prentah salah-salah” (=jangan sudah diberi kepercayaan lalu suka memerintahkan hal yang salah), “karja iko suka deng unju mangarti” (=kerja sesuka hati dan sombong).

“konci rekeng orang pengeluhan iko blakang” (=alhasil, semua orang mengeluh), “tagal karja haru biru, tar ujung tar pohong/tar ujud” (=karena kerja serampangan tanpa bentuk/wujud yang jelas).

Orang yang “karja iko suka tuh” (=kerja seturut sukanya) “tar mau dapa tagor” (=tidak mau ditegur), “tagor jua bae kalu dia dengar” (=tegur pun tidak didengarnya).

Itu semua karena “karja iko suka tar pikir orang banya” dan menganggap “cuma dia sa dalang dunya seg’nap nih” (=hanya dia saja yang hidup dalam dunia ini).

Yang seperti ini, apapun yang dilakukannya “cuma bawa korsahu par orang banyak/ana cucu” (=hanya membawa sial untuk orang banyak/anak cucu; korsahu = salawar, sial).

“Jadi par samua orang tua deng orang basar, mari jua, inga ananacucu lai, jang oras nih katong basena anggale, mar eso lusa dong uru dada tar brenti” (=untuk semua orang tua dan pembesar, mari, ingat anak cucu, jangan sampai saat ini kita berleha, tetapi esok lusa mereka yang susah).

“Ada kuat deng dapa hak nih, jang biking orang susah” (=selagi ada kekuatan dan kepercayaan, jangan menyusahkan orang lain).

Kamis, 3 Juni 2021

(Pastori Jemaat GPM Bethania, Dana Kopra-Ambon). (**)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed