AMBON,MRNews.com,- “Katong nih cuma manusia, sa upeng sa di hadap Antua/Hu yang ezrar/akbar” (=kita hanya manusia yang kecil dihadapan Tuhan yang Kudus/Besar).
Hu/Huwa adalah ungkapan yang berarti Tuhan/Antua Basar, yang disembah seluruh alam (Hu/Huwa serua alam).
Kita diajari bahwa “manusia cuma sa upeng alus” (upeng/kacupeng= kecil sekali; alus =kecil; dua kata ini sering dipadankan untuk menegaskan betapa kecilnya kata benda yang mengikutnya).
Bila pada ukuran pengalaman, kita ini “tai ayam blender dua hari” (=taik dari ayam yang baru berumur dua hari, yang masih berlendir, belum ada sari makanan keras padanya), “seng tanding Deng Antua Basar” (=tidak boleh dibandingkan dengan Tuhan).
Bila pada ukuran kekuatan/kuasa, kita ini “taik kuku” (=kotoran pada kuku), artinya sudah kecil, tidak bertahan lama, akan sirna atau tidak ada faedahnya.
Karena itu “jang biking diri tau-tau” (=jangan menganggap kita mengetahui segalanya). “Katong pung batas tau deng mampu ada” (=pengetahuan dan kemampuan kita terbatas).
“Jang pikir diri tuh basar” (=jangan menganggap kita besar/berkuasa), sebab “di hadap Huwa, samua tundu, somba” (=dihadapan Tuhan semua tunduk menyembah), “mau raja ka rayat, anana kacupeng alus, jujaro, mungare sampe tua rambu putih” (=entah raja atau rakyat, anak kecil, pemuda-pemudi, sampai orang tua beruban putih).
“Jadi musti inga diri, katong nih cuma manusia/katong cuma abu” (=jadi harus ingat, kita hanya manusia/debu) yang “hidop tagal Antua pung bae” (=yang hidup karena kebaikan Tuhan).
Inga diri, jang biking diri.
Selasa, 8 Juni 2021
Pastori Jemaat GPM Bethania Dana Kopra-Ambon
Elifas Tomix Maspaitella (Eltom). (**)









Comment