UN dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan serta Perlindungan Anak (KPPPA) bersama UN Women dan UNFPA menggelar pemutaran film dan diskusi pada 5 Desember 2025 di CGV fX Sudirman, Jakarta, sebagai bagian dari kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan. Acara ini menandai peluncuran serangkaian film pendek yang dirancang untuk membuka diskusi publik tentang ancaman baru: kekerasan digital yang semakin menargetkan perempuan dan anak perempuan.
Permasalahan ini relevan sekarang karena penetrasi internet dan penggunaan media sosial terus meningkat, memperluas potensi bahaya yang bersifat pribadi sekaligus sistemik. Bagi banyak keluarga dan pembuat kebijakan, film dan diskusi tersebut menjadi alat untuk memahami konsekuensi nyata dan menimbang kebijakan pencegahan.
Peluncuran film pendek dan konteksnya
Pada acara itu dipamerkan lima karya hasil program UNiTE Short Film Fellowship 2025, sebuah inisiatif yang didukung oleh Global Affairs Canada. Program mengaitkan sineas lokal dengan organisasi internasional—mulai dari UNDP, UNESCO, hingga WHO—untuk mengangkat bentuk-bentuk kekerasan berbasis digital melalui narasi pendek yang mudah diakses publik.
Karya-karya tersebut sengaja fokus pada pengalaman korban, cara penyebaran konten negatif, dan dampak psikologis jangka panjang. Tujuannya bukan sekadar memperlihatkan problem, melainkan menyediakan materi edukatif yang bisa dipakai sekolah, komunitas, dan pembuat kebijakan.
Pesan dari pemerintah dan mitra internasional
Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Veronica Tan, menegaskan perlunya sinergi lintas sektor: pemerintah, platform digital, lembaga pendidikan, dan orang tua. Menurutnya, teknologi bisa menjadi alat pemberdayaan sekaligus sumber bahaya jika tidak diiringi literasi yang memadai.
Veronica mengingatkan bahwa anak-anak banyak terpapar konten sebelum waktunya, sehingga peran edukasi menjadi kunci. Ia menyerukan tanggung jawab bersama untuk mengurangi budaya sensasional di ruang maya dan mendorong konten yang melindungi, bukan mengeksploitasi.
- Bentuk kekerasan digital yang diangkat dalam program: pelecehan daring, stalking digital, eksploitasi gambar, dan tekanan psikologis.
- Pelibatan multi-lateral: lembaga PBB, organisasi internasional, dan komunitas sinema lokal.
- Target audiens: publik umum, pendidik, pembuat kebijakan, serta penyedia platform digital.
Kenapa ini penting bagi pembaca
Untuk orang tua dan pendidik, film dan diskusi semacam ini memberi alat komunikasi yang konkret ketika berbicara pada anak tentang bahaya online. Bagi pengguna media sosial, acara tersebut mengingatkan dampak viralitas—mengapa berhenti sejenak sebelum membagikan materi yang bisa merugikan orang lain itu penting.
Dari sisi kebijakan, inisiatif ini memperlihatkan kebutuhan akan regulasi yang lebih tanggap terhadap konten berbahaya serta mekanisme pelaporan yang efektif. Tanpa upaya terkoordinasi, korban akan terus menghadapi hambatan memperoleh perlindungan dan pemulihan.
Langkah praktis yang disorot
Panel diskusi dan filmmaker yang hadir menekankan beberapa langkah pencegahan yang bisa segera diterapkan:
- Peningkatan literasi digital di sekolah dan komunitas;
- Kerja sama dengan platform untuk mekanisme pelaporan yang lebih cepat;
- Pendampingan psikologis untuk korban kekerasan berbasis digital;
- Kebijakan internal organisasi yang melindungi privasi dan gambar personal.
Acara di CGV menutup hari dengan tanya jawab antara pembuat film, perwakilan UN, dan audiens—menunjukkan bahwa selain pembuatan karya seni, dialog berkelanjutan adalah bagian penting dari respon terhadap kekerasan berbasis digital.
Inisiatif seperti UNiTE Short Film Fellowship memberikan contoh bagaimana seni dapat berperan sebagai sarana edukasi publik dan katalis perubahan kebijakan. Bagi pembaca, pesan utama yang muncul: pencegahan memerlukan tindakan kolektif—dari rumah, sekolah, hingga platform global—agar ruang digital menjadi lebih aman bagi perempuan dan anak perempuan.
Artikel serupa :
- Pajak Netflix dan platform asing terancam batal: kesepakatan RI-AS tekan media, APBN
- Roby Tremonti viral: klarifikasi 1+1=2 memicu parodi artis dan analisis warganet
- Dyah Ayu Setyorini di Budamfest 2025: monoplay kritik stereotip terhadap perempuan
- Monolog Rika Jo soroti feminisme kodrati: pementasan Ngaos Art angkat suara perempuan
- Piala Dunia 2026: TVRI kantongi hak siar, semua laga tayang di Indonesia

Dewi Permata adalah jurnalis hiburan yang memiliki hasrat besar terhadap
dunia perfilman, musik, dan budaya populer. Dengan pengalaman lebih
dari tujuh tahun di industri media, ia telah melakukan wawancara
eksklusif dengan banyak tokoh terkenal dan mengulas berbagai tren di
industri hiburan.






