Kelompok musik Kataswara baru-baru ini merilis single berjudul Menyesal Baca Berita, sebuah karya yang menangkap keletihan banyak orang di era informasi terus-menerus. Lagu ini relevan sekarang karena menyorot bagaimana arus berita yang tak henti membuat respons manusia menjadi datar — bukan sekadar reaksi singkat, tetapi perubahan yang memengaruhi cara kita merasakan dan berpikir.
Dalam balutan musikal yang sengaja sederhana, Kataswara memilih nuansa hitam-putih untuk menggambarkan suasana hati yang menipis: bukan ledakan kemarahan, melainkan keputusasaan yang bergerak pelan. Suara dan lirik bekerja bersama untuk menampilkan perasaan hampa yang muncul ketika fakta berubah menjadi tontonan sehari-hari.
Pesan yang lebih dalam dari sekadar kritik media
Lagu ini tidak hanya mengeluh tentang kualitas berita. Kataswara menempatkan perhatian pada dampak personal: bagaimana keterpaparan terus-menerus pada kabar bisa membuat empati dan kepekaan sosial ikut memudar. Alih-alih menawarkan jawaban, single ini berfungsi sebagai peringatan—mengajak pendengar memperhatikan apa yang hilang dalam diri mereka seiring informasi yang mengalir deras.
Musik itu terasa seperti catatan kecil tentang kebingungan kolektif—saat peristiwa serius jadi bahan konsumsi cepat, dan kesedihan dipertontonkan tanpa memberi ruang bagi pemahaman atau pemulihan.
Apa arti ini bagi pendengar hari ini?
Relevansi lagu Kataswara paling nyata ketika kita melihat konsekuensi praktis: perubahan kebiasaan membaca, penurunan kualitas diskursus publik, dan beban emosional yang tak terlihat. Lagu ini menempel pada satu pertanyaan sederhana tapi penting: bagaimana kita menjaga manusiawi di tengah banjir informasi?
- Pemrosesan emosional: Terlalu banyak kabar dapat melelahkan kemampuan kita untuk merespons secara empatik.
- Ketahanan informasi: Menjadi selektif dan kritis terhadap sumber kini bukan sekadar preferensi — melainkan kebutuhan.
- Peran kreator: Musisi dan seniman mulai memakai karya untuk merefleksikan kondisi sosial-alamiah, bukan hanya untuk hiburan.
- Ruang refleksi: Memberi diri waktu menjauh dari layar membantu mengembalikan perspektif pribadi yang hilang.
Secara musikal, Kataswara memilih tempo yang menenangkan namun menekan; aransemen yang tidak berlebihan memberi ruang bagi lirik untuk berbicara. Pilihan estetika hitam-putih dalam materi visual menambah kesan kekosongan yang ingin disampaikan, tanpa perlu dramatisasi berlebih.
Di tengah perdebatan tentang kecepatan dan akurasi informasi, karya semacam ini penting karena mengingatkan kita bahwa ada biaya emosional dari kebiasaan konsumsi berita modern. Bukan hanya soal apa yang kita ketahui, tetapi juga tentang apa yang kita rasakan dan kehilangan dalam prosesnya.
Menyesal Baca Berita bukan sekadar lagu protes; ia berusaha membuka ruang bagi pendengar untuk berhenti sejenak, menimbang kembali kebiasaan informasi mereka, dan mempertahankan bagian kemanusiaan yang mudah terkikis oleh arus berita tanpa henti.
Artikel serupa :
- Lussy Renata hadirkan 3 lagu baru: ungkap sisi paling personal soal asmara
- Sheila On 7 Kembali dengan Gebrakan: Single ‘Memori Baik’ Bersama Aishameglio & Duta Chiara!
- Joji umumkan album baru usai vakum tiga tahun
- Godi Suwarna Pukau Ciamis dengan Puisi: Siap Terhanyut dalam Magis Kata!
- Heboh! YG Entertainment Rilis Album Baru Blackpink, Babymonster, Treasure: Simak Detailnya!

Dewi Permata adalah jurnalis hiburan yang memiliki hasrat besar terhadap
dunia perfilman, musik, dan budaya populer. Dengan pengalaman lebih
dari tujuh tahun di industri media, ia telah melakukan wawancara
eksklusif dengan banyak tokoh terkenal dan mengulas berbagai tren di
industri hiburan.






