ISBI Bandung hadirkan Kapai-kapai, dekonstruksi minimalis yang mengejutkan

Dekonstruksi Minimalis 'Kapai-kapai'  Akan Dipentaskan di ISBI Bandung

Maret 3, 2026

Sebuah pertunjukan teater kontemporer berjudul Dekonstruksi Minimalis Kapai-kapai akan digelar pada Rabu, 11 Februari 2026 di Gedung Kesenian Sunan Ambu, ISBI Bandung. Selain menampilkan pembacaan ulang teks klasik, produksi ini relevan sekarang karena membuka diskusi tentang identitas, ilusi kebahagiaan, dan ketidaksetaraan yang masih terasa di masyarakat.

Proyek ini diproduksi atas nama Fathul A. Husein dan didanai melalui Program Penciptaan Karya Kreatif Inovatif Dana Indonesiana 2025, bekerja sama dengan UPA Ajang Gelar ISBI Bandung. Tim kreatif memilih pendekatan yang sangat terfokus pada pengurangan elemen panggung—mengutamakan bentuk visual dan ritme pertunjukan ketimbang reproduksi dialog teater secara literal.

Dasar dramatiknya berpijak pada Kapai-kapai, naskah karya Arifin C. Noer dari 1970 yang sejak lama dianggap penting dalam sejarah teater modern Indonesia. Alih-alih meniru keseluruhan teks, sutradara membacanya ulang melalui kerangka dekonstruksi: memecah, mengalihkan, dan merangkai ulang unsur cerita untuk menyorot tema-tema kontemporer.

Cerita original berkisar pada tokoh bernama Abu, sosok marjinal yang hidup dalam keterbatasan materi dan menghadapi krisis etis. Ia terobsesi pada benda ajaib yang disebut Cermin Tipu Daya, yang dipercaya mampu menghadirkan kebahagiaan abadi. Keyakinan itu mendorong perjalanan panjang menuju sesuatu yang disebut Ujung Dunia—sebuah rute yang dalam pembacaan modern dipahami sebagai perjalanan batin yang berujung pada kematian.

Menurut Fathul, tujuan pentas bukan sekadar mengulang karya Arifin, melainkan membaca naskah itu sebagai alegori: tentang harapan yang berulang, ilusi yang terus diproduksi, dan upaya manusia modern mencari identitas di tengah realitas sosial yang kompleks. Pembacaan ini menempatkan kebahagiaan tokoh sebagai fenomena yang tampak namun jarang nyata.

  • Hari/Tanggal: Rabu, 11 Februari 2026
  • Waktu Pertunjukan: 19.30 WIB (durasi sekitar 1 jam)
  • Lokasi: Gedung Kesenian Sunan Ambu, ISBI Bandung
  • Diskusi Pasca-Pertunjukan: 20.40–22.20 WIB di lokasi yang sama
  • Pendukung: Program Dana Indonesiana 2025 dan UPA Ajang Gelar ISBI Bandung

Setelah pentas, digelar sesi diskusi yang menghadirkan tokoh-tokoh lapangan: budayawan dan kritikus teater Dr. Ipit Saefidier Dimyati, sutradara Irwan Jamaludin, M.Sn., serta Fathul A. Husein sebagai pengarah pertunjukan. Diskusi ini dirancang untuk menguraikan pilihan estetika serta implikasi sosial dari pembacaan ulang naskah tersebut.

Secara estetika, produksi menekankan opsi mise en scène minimalis dan eksperimental: ruang kosong dipakai sebagai elemen naratif, gerak tubuh dan objek sederhana menjadi penanda makna. Pendekatan seperti ini menuntut penonton membaca kembali simbol dan konteks sosial daripada sekadar mengikuti alur cerita konvensional.

Untuk penikmat teater dan pengamat budaya, acara ini bisa dilihat sebagai barometer kreativitas panggung kontemporer di Indonesia—bagaimana naskah klasik direaktifkan untuk menanggapi persoalan masa kini. Bagi publik umum, pertunjukan menawarkan pengalaman estetis sambil memancing refleksi soal harapan, penipuan wacana kebahagiaan, dan posisi individu dalam perubahan sosial.

Informasi tiket dan akses lokasi tersedia melalui panitia ISBI Bandung. Pertunjukan ini patut dicatat oleh mereka yang mengikuti perkembangan teater eksperimental dan pembacaan ulang karya-karya kanonis dalam konteks zaman sekarang.

Artikel serupa :

Beri nilai postingan ini
BACA  Jangan Lewatkan di Cinema XXI Tasikmalaya Hari Ini: Gundik dan Lilo & Stitch Tayang!

Tinggalkan komentar

Share to...