AMBON,MRNews.com.- Inflasi Maluku pada tahun 2018 diperkirakan akan mengalami peningkatkan dibandingkan tahun 2017. kondisi tersebut secara dominan disebabkan oleh peningkatan tekanan pada komponen VF dan AP, terutama pada sub kelompok padi, ikan segar, sayuran dan angkutan udara.
“Kenaikan harga beras kualitas medium yang terjadi selama Januari-mei 2018 memicu kenaikan harga makanan jadi yang memiliki bahan baku beras,” ungkap Bambang Pramasudi Kepala Bank Indonesia Perwakilan Maluku di Ambon, Jumat (28/06)
Dijelaskan, gelombang tinggi di wilayah perairan Maluku, BMKG Provinsi Maluku sudah memberikan peringatan kepada nelayan untuk tidak melaut.hal ini mengganggu ketersediaan ikan,bahkan kenaikan harga subkelompok bumbu-bumbuan, terutama bawang merah, bawang putih, dan cabai rawit, ketergantungan Maluku terhadap provinsi lain menjadi tantangan utama dalam mengendalikan harga bumbu tersebut.
Tambah Pramasudi, pada komponen administered prices, laju Inflasi (AP) 2018 diperkirakan mengalami peningakatan dibandingkan tahun 2017 dimana potensi peningkatan sudah mulai dirasakan akibat kenaikan harga minyak mentah dunia, melalui kenaikan harga BBM non subsidi. kenaikanini akan memicu kenaikan pada komoditas lain seperti angkutan udara(walaupun hingga saat ini, tarif angkutan udara masih mengalami deflasi) namun cukup terkendalinya harga tiket angkutan udara menjadi faktor penahan inflasi
Pramasudi beranggapan, laju inflasi inti tahun 2018 diperkirakan meningkatkan namun masih terkendali, yang mana, keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi diperkirakan berada pada tren perbaikan secara bertahap, kelompok sandang berpotensi mengalami kenaikan, sebagai dampak meningkatnya permintaan pakaian sebagai atribut jelang pemilihan kepala daerah, selain itu inflasi ikan diawetkan telah dirasakan sejak bulan Maret 2018, kenaikan harga ikan segar memicu peningkatan inflasi pada komoditas ikan diawetkan. (MR-06)












Comment