AMBON,MRNews.com,- Pemerintah sudah seharusnya memberikan ruang yang seluas-luasnya kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk mengeksplorasi serta mengelola minyak dan gas (Migas) di Indonesia.
Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi Partai Gerindra Hendrik Lewerissa katakan, langkah dan kebijakan tersebut perlu dilakukan guna menghindari perusahaan asing yang akan memonopoli seluruh sumber daya alam (SDA) dan rakyat menjadi penonton di negeri sendiri.
Apalagi di Provinsi Maluku misalnya kata Lewerissa, yang memiliki kekayaan alam migas melimpah, namun belum dikelola secara baik. Padahal jika dikelola, maka akan berdampak sistemik bagi keberlangsungan hidup.
“Di SBT ada perusahaan minyak. Di MBD ada Blok Masela, perusahaan tambang di Wetar. Kalau semua itu dikelola dengan baik, maka akan berdampak bagi rakyat kita. Pelaku UMKM diberdayakan, bahkan bisa berkembang pesat,” tandasnya saat sosialisasi BUMN bersama para pelaku usaha dan masyarakat di Grand Avira Hotel, Ambon, Sabtu (29/4/23).
Sebagai BUMN milik pemerintah, PT. Pertamina Hulu Energi (PHE) selaku Subholding Upstream kata Lewerissa, berperan sebagai kontributor utama produksi migas nasional.
“Pada tahun 2022, PHE memberi kontribusi sebesar 68 persen produksi minyak nasional dan 34 persen produksi gas nasional,” sebut pria yang pernah calon Wakil Gubernur Maluku itu.
Berdasarkan data Rencana Umur Energi Nasional (RUEN), bauran komposisi energi akan berubah perlahan hingga tahun 2050 dimana energi baru terbarukan akan mendominasi kebutuhan energi nasional.
Sejalan dengan hal tersebut, kata Anggota Baleg DPR RI ini, volume kebutuhan akan energi fosil pun akan meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan energi nasional, PHE menjalankan strategi untuk melawan laju penurunan alamiah (natural declining rate) melalui pengeboran sumur pengembangan, perawatan sumur, dan melakukan ekspansi.
“Untuk menjaga keberlanjutan bisnis, lanjut HL, PHE juga melakukan pengeboran sumur eksplorasi untuk mencari potensi cadangan baru,” jelasnya.
Dalam rangka mendukung Green Strategy Holding, lanjut HL, sapaan akrab Lewerissa, PHE tentunya berupaya untuk melakukan berbagai macam program dekarbonisasi. Salah satunya melalui pemanfaatan sumber energi gas sebagai energi transisi yang rendah emisi dan ramah lingkungan.
“Hal ini tercermin dari project gas yang telah onstream seperti: Jambaran Tiung-Biru (JTB) di Jawa Timur dan temuan potensi cadangan gas melalui pengeboran sumur eksplorasi di beberapa wilayah Indonesia,” paparnya.
Seluruh strategi yang dijalankan tambah dia, memiliki kebutuhan pendanaan yang tidak sedikit, sehingga PHE perlu mendapatkan dukungan dari berbagai aspek.
“Termasuk langkah-langkah investasi yang transparan agar kegiatan operasional bisa berjalan lancar untuk menjaga ketahanan energi nasional,” pungkas Ketua DPD Gerindra Maluku itu. (MR-02)










Comment