Di sore yang menjelang senja pada tanggal 27 Maret 2025, suasana hangat menyelimuti Studio Ngaos Art yang berada di Kota Tasikmalaya. Keramaian di studio itu serupa dengan suasana hari raya, di mana keakraban, refleksi, dan tawa riang bercampur menjadi satu. Yayasan Ngaos Art merayakan Hari Teater Sedunia dengan tema yang berbeda kali ini: Batal Berjamaah.
Kegiatan diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh Kiki Kido, ketua Ngaos Art, kemudian dilanjutkan dengan serangkaian penampilan dari anggota Ngaos Art yang menambah makna dalam waktu ngabuburit.
– Doktor Rachman Sabur Mengomentari Hari Teater Sedunia 2025: Perlunya Hari Teater Nusantara!
– Rangga Riantiarno dari Teater Koma Jakarta Berbicara tentang Hari Teater Sedunia dan Peran Seni Budaya dalam Mendukung Perdamaian
Film, Orasi, dan Pertunjukan yang Berkesan
Pertunjukan dimulai dengan pemutaran film pendek oleh Iki Tusca, yang tidak hanya berperan sebagai aktor tetapi juga sebagai sutradara. Film tersebut mengangkat cerita tentang Lebaran dari perspektif seorang guru honorer, yang mencerminkan realitas yang dihadapi banyak orang. Para penonton terhanyut dalam kisah tersebut, merenungkan nilai-nilai keberkahan meski dalam keterbatasan.
Kemudian, Rika Jo tampil dengan orasi kebudayaan yang fokus pada realitas pendidikan dan kebudayaan anak di Nusantara. Ia dengan lantang menyatakan bahwa yang dibutuhkan oleh generasi muda bukan hanya Makan Bergizi Gratis (MBG) seharga Rp7.000 yang hanya menambah beban utang negara, tapi juga pendidikan, kebudayaan, sastra, dan seni yang dapat memperkuat pemikiran, hati, dan jiwa. Ucapannya menggugah kesadaran tentang pentingnya kebudayaan sebagai dasar kekuatan bangsa.
Acara dilanjutkan dengan pertunjukan dari kelompok Mafia Sunda yang menampilkan drama Basa-Basi, dengan Akhsan Kribo sebagai aktor dan Alfin sebagai sutradara. Pertunjukan ini menyindir realitas sosial dengan humor khas Sunda, yang membuat penonton tertawa sekaligus merenung.
Musik, Monolog, dan Kultum yang Menyentuh Hati
Kesenian tidak lengkap tanpa musik. Orkes Keroncong Ngaos Art (OKN) memeriahkan suasana dengan alunan musik keroncong yang menyentuh hati. Di antara alunan musik tersebut, Lingkar Andien menyajikan monolog yang tajam dan mendalam.
Artikel serupa :
- Ngaos Art Tasikmalaya Bersinar di Festival Internasional: Tanpa Dukungan Pemerintah!
- Pentas Teater “Made in China” Ngaos Art Tasikmalaya: Cerita Kehidupan Sehari-hari, Simak Infonya!
- Ngaos Art pameran Jakarta: karya bertema made in China angkat rindu anak pada ayah
- Sensasi ‘Sirkus Maling’ di Bandung: Membongkar Misteri Wajah Manusia dengan Teater Piktorial!
- Haru dan Bangga: Dua Legenda Teater Koma, Semar dan Sutiragen di ‘Mencari Semar’!

Dewi Permata adalah jurnalis hiburan yang memiliki hasrat besar terhadap
dunia perfilman, musik, dan budaya populer. Dengan pengalaman lebih
dari tujuh tahun di industri media, ia telah melakukan wawancara
eksklusif dengan banyak tokoh terkenal dan mengulas berbagai tren di
industri hiburan.






