Azmi Bahron eksperimen AI dalam monolog Hutan Ladaya: buka luka lama

Azmi Bahron dan Revolusi Cinta dari Negeri Jiran: Eksperimen AI, Luka Lama, dan Pentas Monolog di Hutan Ladaya

Maret 7, 2026

Pagi berkabut di Ladaya menjadi latar saat seorang pemeran asal Malaysia menapak lebih cepat ketimbang rombongan internasional lain di festival seni yang baru saja usai. Kehadirannya bukan sekadar persiapan panggung: karya yang dibawanya menantang narasi klasik dan menempatkan kembali cerita cinta ke dalam konteks Melayu yang lebih personal—sesuatu penting bagi percakapan seni kontemporer hari ini.

Di antara rimbun pohon dan jalan tanah, Azmi Bahron terlihat berjalan sendiri, tenang dan tampak mencermati setiap sudut. Ia datang ke Ladaya beberapa hari lebih awal, memilih menyendiri untuk mengamati suasana alam dan mencari titik-titik inspirasi sebelum penampilan resmi. Kedatangannya lebih awal ini memberi waktu bagi proses kreatif yang tak bisa dikejar lewat latihan singkat di belakang panggung.

Kami bertemu Azmi di sebuah gudang kerja sederhana yang dijadikan bengkel properti—lokal menyebutnya Kang Are. Di sana aroma cat dan kayu bercampur dengan sepotong surabi yang masih hangat; suasana yang, menurutnya, membantu merangkai ulang teks dan gerak yang ia rancang.

Monolog baru: juang dan pembacaan ulang sejarah

Azmi sedang menyelesaikan sebuah monolog berjudul “Ju dan Meo, Cinta Agung Melayu”, reinterpretasi surealis dari kisah cinta klasik yang sering diasosiasikan dengan Barat. Versi ini melepaskan beberapa konvensi tragedi Shakespeare dan mengalihkan fokus ke ranah bahasa, adat, dan relasi keluarga dalam kultur Melayu—memperlihatkan konflik yang familiar namun dibaca ulang dari sudut pandang lokal.

Dalam bincang singkat, ia menjelaskan bahwa tujuannya bukan menghina warisan, melainkan membuka ruang dialog. Dengan logat Melayu yang kadang berpadu Inggris, Azmi menyatakan bahwa cerita-cerita besar layak ditanya ulang: siapa yang menentukan makna abadi, dan apa yang hilang ketika narasi universal dipaksakan pada budaya lain?

  • Acara: Lanjong Art Festival (LAF) 2025, Ladaya, Kutai Kartanegara
  • Tanggal pementasan: 22–27 Agustus 2025
  • Pemeran: Azmi Bahron (Malaysia)
  • Karya: “Ju dan Meo, Cinta Agung Melayu” — monolog adaptif dan surealis
  • Tema: Reinterpretasi teks klasik, identitas budaya, dialog lintas-budaya

Perubahan kecil yang dipilihnya—dari dialog hingga setting—berdampak pada bagaimana penonton membaca emosi dan motif tokoh. Alih-alih meniru struktur Barat, pementasan ini memakai elemen lokal: bahasa, gestur, dan ruang yang menyisakan jeda sehingga penonton diajak merenung, bukan sekadar terpaku pada alur romantic-tragedi.

Dalam konteks festival yang mempertemukan seniman regional dan global, proyek seperti ini menunjukkan dua hal: pertama, pentingnya platform yang memberi kebebasan eksperimen; kedua, kebutuhan untuk meninjau ulang karya lama agar relevan dengan pengalaman komunitas setempat. Bagi Ladaya, LAF 2025 menjadi momen ketika seni panggung bertemu lanskap dan sejarah setempat—bukan hanya sebagai latar, tetapi sebagai bahan baku kreatif.

Azmi juga membiarkan humor kecil muncul di sela-sela persiapannya—ia mengaku beberapa kali tersesat mencari kantin festival, sebuah catatan ringan tentang kenyataan pementasan: kreator juga manusia yang butuh makan dan ruang tenang. Namun keseharian praktik itu memberi bobot pada karya; waktu menyendiri di hutan, menyentuh kayu, dan menata properti, semuanya tercermin pada ritme monolognya.

Lebih luas, pementasan semacam ini mendorong penonton dan pengamat seni untuk mempertanyakan asal usul cerita yang mereka anggap universal. Bukan sekadar perubahan estetika, melainkan upaya menyeimbangkan narasi—membiarkan suara dari kawasan yang selama ini kerap jadi latar, tampil sebagai pusat cerita.

Artikel serupa :

Beri nilai postingan ini
BACA  Penonton kelelahan: pertunjukan ruang hitam suguhkan drama bernuansa spiritual

Tinggalkan komentar

Share to...