Pentas seni “Natah Gurat Jaman” yang digelar di Ciamis pekan lalu membuka wacana baru tentang fungsi dan makna Gunung Susuru. Pertunjukan itu bukan sekadar event budaya—ia memicu diskusi serius soal pelestarian, akses komunitas, dan arah pengelolaan situs bersejarah tersebut.
Acara yang diprakarsai kelompok seni lokal Pasamoan Rasa menghadirkan gabungan tarian, narasi lisan, dan pameran kecil temuan arkeologis. Penonton datang dari berbagai kalangan: warga desa sekitar, penggiat budaya, pelajar, dan beberapa pejabat daerah.
Bagaimana pentas mengubah narasi
Pertunjukan menempatkan Gunung Susuru bukan lagi sekadar lokasi fisik, tetapi sebagai arena masalah sosial: siapa yang berhak merawat, bagaimana cerita kolektif dipertahankan, dan apa konsekuensi ketika situs itu dipromosikan untuk wisata.
Menurut penyelenggara, tujuan utama adalah memberi ruang suara kepada penduduk lokal. “Kami ingin memastikan narasi tentang situs ini tidak hanya datang dari laporan ilmiah atau kepentingan ekonomi, tapi juga dari cerita warga yang melekat pada tempat ini,” kata ketua panitia dalam sambutannya.
Implikasi praktis untuk masyarakat dan pengelola
Diskusi pasca-pentas menyorot beberapa isu konkret: kebutuhan inventarisasi artefak, penguatan regulasi perlindungan, dan kesiapan infrastruktur untuk menerima pengunjung tanpa merusak nilai situs.
Para pengamat budaya yang hadir menekankan pentingnya pendekatan kolaboratif antara ahli, pemerintah, dan komunitas. Tanpa koordinasi, peningkatan kunjungan bisa berujung pada degradasi lingkungan dan hilangnya makna budaya.
| Aspek | Dampak yang Ditegaskan | Langkah yang Diusulkan |
|---|---|---|
| Pelestarian | Kebutuhan dokumentasi segera dan pengawasan lapangan | Pemetaan artefak dan pembentukan relawan pelindung situs |
| Pengelolaan | Persoalan kepemilikan narasi dan tata kelola | Forum pengelolaan inklusif yang melibatkan warga |
| Pariwisata | Potensi ekonomi namun berisiko overkomersialisasi | Rencana kunjungan berkelanjutan dan batas kapasitas |
Suara warga dan kewaspadaan
Beberapa warga menyambut baik perhatian baru terhadap Gunung Susuru, berharap ada manfaat ekonomi yang dapat dirasakan lokal. Namun ada juga kekhawatiran: perubahan tiba-tiba dalam tata guna lahan, atau narasi tradisional yang terabaikan oleh kepentingan komersial.
Seorang tokoh adat menegaskan bahwa semua kebijakan harus menghormati praktik budaya setempat. Pernyataan semacam itu mengingatkan bahwa aspek non-material—seperti upacara dan cerita lisan—sama pentingnya dengan situs fisik.
Arah ke depan
Usai pentas, panitia bersama komunitas merencanakan beberapa langkah: workshop dokumentasi, dialog terbuka dengan pemerintah kabupaten, dan pengajuan kajian ilmiah untuk mendukung perlindungan formal. Rencana ini dimaksudkan agar aktivitas budaya dapat mendukung, bukan merusak, integritas situs.
Peristiwa ini menunjukkan bagaimana acara seni dapat menjadi pemicu perubahan kebijakan dan keterlibatan publik. Jika dirawat secara hati-hati, inisiatif semacam ini berpeluang menjembatani kebutuhan pelestarian dengan aspirasi ekonomi dan identitas komunitas.
Artikel serupa :
- Pertunjukan Ambu di Ciamis: suara perempuan jadi sorotan, catat tanggalnya
- Reog tetap relevan di tengah kontroversi: pelestarian jadi prioritas
- Pementasan Menjadi Lebih Baik 3 hadir di Karangnunggal: Sanggar Sumuhun tampil di Tasikmalaya
- Bordir Tasikmalaya: Umayah bawa sejarah dan harapan kampung lewat monolog
- Anak-anak membludak di gedung kesenian Tasikmalaya: teater lokal bawakan dongeng rakyat

Dewi Permata adalah jurnalis hiburan yang memiliki hasrat besar terhadap
dunia perfilman, musik, dan budaya populer. Dengan pengalaman lebih
dari tujuh tahun di industri media, ia telah melakukan wawancara
eksklusif dengan banyak tokoh terkenal dan mengulas berbagai tren di
industri hiburan.






