Imanen di De Majestic: Sahlan Bahuy ubah benda sehari-hari jadi kritik sosial

Membaca Kekacauan dari Benda-Benda: Sahlan 'Bahuy' Mujtaba Simak 'Imanen' di De Majestic

Juni 17, 2026

Dalam pameran terbarunya di De Majestic, Sahlan ‘Bahuy’ Mujtaba mengajak audiens membaca ulang objek-objek sehari-hari untuk mengurai kebingungan masa kini. Karya-karya bertajuk Imanen menempatkan sisa-sisa kehidupan urban sebagai bahan narasi—mendorong pertanyaan tentang ingatan, penggunaan, dan kehilangan tanpa memberi jawaban tunggal.

Di ruang pamer, benda-benda yang tampak acak disusun ulang sehingga menampakkan pola yang halus namun mengganggu. Teknik perakitan dan penempatan memaksa penonton menghadapi kontras antara familiaritas visual dan ketidakpastian makna.

Pendekatan artistik yang menolak kepastian

Sahlan menggunakan pendekatan berbasis material: potongan plastik, sisipan kain, modul kayu, serta rekaman suara yang berasal dari lingkungan sehari-hari. Alih-alih menyamarkan asal-usul barang, ia menekankan jejak penggunaan—noda, goresan, bekas tempelan—sebagai bagian penting dari bahasa visual.

Beberapa instalasi tidak sekadar dipajang; mereka berinteraksi dengan cahaya, ruang, dan gerak pengunjung sehingga makna terus bergeser saat dilihat dari sudut berbeda. Cara kerja ini menempatkan ketidakstabilan sebagai metode, bukan kegagalan komunikasi.

  • Assemblage material: susunan objek bekas yang dirakit menjadi komposisi baru.
  • Soundscape: lapisan suara ambien yang mengikat potongan visual menjadi narasi temporal.
  • Intervensi ruang: penempatan objek yang mengubah alur berjalan pengunjung.
  • Dokumentasi fragmen: teks dan foto yang memperlihatkan riwayat singkat setiap barang.

Impak sosial dan budaya

Pameran ini relevan dalam konteks kritik konsumsi dan kenangan kolektif. Dengan menampilkan benda-benda yang telah kehilangan fungsi aslinya, Imanen menantang cara kita memberi nilai pada barang serta bagaimana nilai itu terkait dengan identitas dan keseharian.

Secara praktis, pendekatan seperti ini mengajak pengunjung merefleksikan kebiasaan membeli, membuang, dan menyimpan—isu yang punya konsekuensi nyata pada lingkungan, ekonomi lokal, dan praktik memori keluarga. Lock-in emosional terhadap barang yang tampak sepele ternyata menyimpan implikasi panjang untuk bagaimana komunitas mempertahankan sejarah non-formal mereka.

Respon audiens beragam: sebagian melihat pameran sebagai ruang kontemplatif, sebagian lain merasakan ketidaknyamanan yang sengaja dipicu kuratorial. Perbincangan di ruang pamer dan media sosial menyoroti keberanian karya untuk tidak menyediakan narasi tunggal—sebuah strategi yang menjadi daya tarik sekaligus tantangan.

Catatan kuratorial dan akses

Penyusunan ruang oleh pihak De Majestic memberi tekanan pada pengalaman fisik; jarak antar objek, pencahayaan, dan rute pengunjung dirancang untuk memperlambat pengamatan. Informasi konteks tersedia di lokasi melalui teks pendek dan dokumentasi foto, membantu pengunjung menautkan potongan-potongan visual dengan latar materialnya.

Momen seperti ini penting untuk dipandang bukan hanya sebagai tontonan estetis, tetapi juga sebagai arenas kecil untuk diskusi publik soal budaya material. Benda-benda yang tampak kacau di tangan Sahlan membuka kemungkinan pembacaan baru terhadap kebijakan konsumsi dan memori kolektif.

Imanen tidak menawarkan solusi, melainkan ruang tanya: bagaimana kultur perkotaan menyimpan jejaknya, dan apa yang kita lakukan ketika jejak itu menjadi beban atau sumber pengetahuan? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang membuat pameran ini relevan untuk dibahas sekarang.

Artikel serupa :

Beri nilai postingan ini
BACA  Lukisan Yusa Widiana bongkar kisah tersembunyi: mencuri perhatian Festival Arem Karya Rasa

Tinggalkan komentar

Share to...