Dalam monolog berjudul “Nu Ngancik Ti Lembur Tanjung”, seorang wanita bernama Umayah menautkan cerita pribadinya dengan warisan bordir dari Tasikmalaya, mengubah benang dan jarum menjadi narasi tentang identitas dan mata pencaharian. Penampilan itu menempatkan kembali perhatian pada tradisi yang terancam punah dan menanyakan: apa yang hilang jika generasi penenun berhenti bercerita?
Monolog sebagai medium pelestarian
Di panggung, Umayah tidak sekadar menampilkan rutinitas kerja; ia menyulam kenangan, konflik rumah tangga, dan harapan kolektif menjadi satu alur bicara. Bahasa yang dipakai akrab namun padat makna, membawa penonton menembus rumah-rumah kecil pengrajin di pedesaan Tasikmalaya.
Dengan gaya solilokui—satu orang yang berbicara panjang lebar—karya ini menempatkan pengalaman perempuan pekerja kreatif di pusat cerita, menggambarkan bagaimana bordir bukan sekadar produk dekoratif, melainkan sumber penghidupan dan penanda sejarah komunitas.
Konteks budaya dan ekonomi
Tasikmalaya dikenal sebagai salah satu pusat bordir di Jawa Barat, di mana keterampilan itu diwariskan antar generasi. Namun perubahan pasar, persaingan produk massal, dan tantangan akses pasar membuat praktik tradisional semakin rapuh.
Sementara itu, pertunjukan seperti monolog Umayah berfungsi ganda: sebagai seni pertunjukan dan sebagai bentuk dokumentasi lisan yang menyorot sisi manusia di balik kain. Itu penting sekarang karena momentum kebangkitan minat akan produk lokal dan wacana tentang keberlanjutan budaya semakin meningkat.
- Identitas: Monolog menyorot bordir sebagai penanda kultural, bukan hanya komoditas.
- Keberlanjutan ekonomi: Menyentuh bagaimana keterampilan tradisional berkaitan langsung dengan mata pencaharian keluarga.
- Peran perempuan: Memvisualkan perempuan sebagai penjaga teknik dan sekaligus agen perubahan sosial.
- Dokumentasi lisan: Pertunjukan menjadi sumber pengetahuan yang sulit direplikasi lewat arsip tertulis semata.
Apa dampaknya bagi pembaca sekarang?
Bagi pembaca urban dan pembuat kebijakan, cerita Umayah menegaskan bahwa pelestarian budaya tradisional memiliki konsekuensi nyata: melindungi sumber pendapatan, mempertahankan keterampilan tangan, dan menjaga keberagaman warisan budaya. Tanpa perhatian, transmisi ke generasi muda kian tersulit.
Selain itu, narasi ini mengundang dialog tentang bagaimana dukungan — dari akses pasar digital hingga program pelatihan—bisa membantu menghidupkan kembali usaha mikro yang mengandalkan bordir tradisional.
Langkah-langkah yang muncul dari panggung
Pementasan tidak hanya menghibur; ia memicu pertanyaan praktis. Berikut poin-poin yang muncul berulang dari monolog dan diskusi setelah pertunjukan:
- Perlu katalogisasi teknik lokal yang lebih sistematis agar tidak hilang seiring waktu.
- Peluang pemasaran digital membuka jalur baru, namun memerlukan pendampingan agar kualitas dan cerita produk terjaga.
- Program pelatihan lintas-generasi dapat menghubungkan perajin muda dengan pasar modern tanpa menghilangkan ciri khas tradisional.
Umayah dan karyanya menjadi pengingat bahwa seni pertunjukan bisa berperan lebih luas: sebagai pengumpul ingatan kolektif dan alat advokasi tidak resmi untuk komunitas yang suaranya jarang terdengar. Saat cerita-cerita seperti ini tetap dipentaskan, ada peluang nyata untuk menyinergikan pelestarian budaya dengan keberlanjutan ekonomi lokal.
Artikel serupa :
- Karinding Sadulur bakal memikat penonton Gentra Loka vol 4 di Tasikmalaya
- Goni Puppet Theater: boneka dari limbah bordir hidupkan satwa endemik Tasikmalaya di Reka Cipta
- Kolodetikol Ciamis bawa musik tradisional ke panggung orkestra modern
- Kolotik Ciamis naik kelas jadi alat musik modern: perajin lokal raup penghasilan
- Monolog Ngaos Art mengusik ego dan tubuh lewat narasi provokatif

Dewi Permata adalah jurnalis hiburan yang memiliki hasrat besar terhadap
dunia perfilman, musik, dan budaya populer. Dengan pengalaman lebih
dari tujuh tahun di industri media, ia telah melakukan wawancara
eksklusif dengan banyak tokoh terkenal dan mengulas berbagai tren di
industri hiburan.






