Monolog Rika Jo soroti feminisme kodrati: pementasan Ngaos Art angkat suara perempuan

Feminisme Kodrati: Barade Monolog Rika Jo, Kekuatan dan Keterlengkapan Perempuan, Yuk Nonton di Ngaos Art!

Maret 19, 2026

Teater kecil di Kota Tasikmalaya menjadi panggung diskusi sosial ketika Studio Ngaos Art menampilkan “Barade Monolog” pada 20–22 November 2025. Pertunjukan ini menyorot masalah yang tetap relevan: bagaimana peran perempuan dibentuk oleh tekanan hidup, bukan pilihan bebas—sebuah isu yang masih memicu perdebatan di ranah budaya dan kesejahteraan publik.

Festival monolog itu menampilkan 12 pementasan hasil latihan komunitas Ngaos Art, dengan pembukaan oleh aktris Rika Jo pada Kamis, 20 November 2025, pukul 16.00 WIB. Sebagai pembuka, Rika Jo membawakan naskah berjudul Feminisme Kodrati karya AB Asmarandana, yang dikemas sebagai One Man Play.

Kerangka panggung dan pesan yang disuarakan

Pertunjukan Rika Jo tidak sekadar menampilkan satu tokoh, melainkan menyampaikan narasi tentang perempuan yang dipaksa kuat oleh keadaan—bukan karena pilihan. Dialog yang muncul di atas panggung menggambarkan rutinitas, kelelahan, dan solidaritas yang sering tidak terlihat.

Cuplikan dialog yang diperdengarkan menguatkan tema itu: tokoh utama mengaku jarang mendapatkan waktu untuk dirinya sendiri, dipuji sebagai “multitalenta” padahal kenyataannya hanya menambal banyak kekurangan yang ditinggalkan oleh lingkungan. Kesaksian seperti ini membuka ruang refleksi tentang nilai kemandirian yang sering dirayakan, namun dibentuk oleh keharusan hidup.

Kenapa ini penting sekarang

Drama semacam ini relevan bagi pembaca karena menyentuh aspek keseharian yang berdampak pada kebijakan sosial: pembagian kerja rumah, akses layanan pendukung, dan pengakuan atas pekerjaan emosional. Ketika masyarakat menata ulang prioritas pasca-pandemi dan merespons tekanan ekonomi, wacana tentang beban tak terlihat pada perempuan semakin mendesak.

Secara praktis, pementasan lokal seperti Barade Monolog membantu menjembatani diskusi akademis dengan pengalaman nyata warga—mengubah konsep teoretis menjadi cerita yang mudah diidentifikasi publik.

BACA  Sinopsis Film Tabayyun: Kisah Mengharukan Perjuangan Ibu, Segera di XXI, CGV, Cinepolis!

Detail acara

Elemen Keterangan
Nama acara Barade Monolog — Ngaos Art
Waktu 20–22 November 2025
Tempat Studio Ngaos Art, Amanda Residence, Kota Tasikmalaya
Jumlah pementasan 12 monolog
Pembuka Rika Jo — Feminisme Kodrati (AB Asmarandana)

Selain tabel ringkasan, beberapa poin penting layak dicatat:

  • Format One Man Play memberi tekanan pada narasi personal dan intensitas emosional.
  • Pementasan mengangkat tema pengakuan atas kerja yang tidak kompensasi—baik fisik maupun emosional.
  • Dialog dan monolog digunakan untuk mempertemukan pengalaman individual dengan wacana feminis yang lebih luas.

Perspektif dan kontekstualisasi

Gambaran tokoh dalam Feminisme Kodrati mengingatkan pada analisis Simone de Beauvoir dalam The Second Sex, bahwa identitas perempuan sering dibentuk dalam relasi terhadap orang lain. Namun pertunjukan ini memindahkan teori ke ranah kehidupan sehari-hari—menjadikannya lebih konkret dan mudah dirasakan penonton.

Untuk komunitas seni lokal, inisiatif seperti Barade Monolog berfungsi ganda: sebagai ruang latihan artistik dan sebagai medium publik untuk mengangkat isu sosial. Dampaknya tidak hanya estetis; pementasan ini mendorong percakapan tentang kebijakan pendukung keluarga, akses layanan kesehatan mental, dan pengakuan kerja tak berbayar.

Meski skala acara relatif kecil, resonansinya bisa meluas bila dokumentasi dan diskusi lanjutan dilakukan—misalnya lokakarya, diskusi publik, atau kolaborasi dengan organisasi sosial.

Barade Monolog menunjukkan bahwa teater komunitas masih mampu memantik perdebatan penting: bagaimana masyarakat memberi nilai pada peran perempuan dan apakah struktur sosial menyediakan ruang untuk memilih, bukan sekadar bertahan.

Artikel serupa :

Beri nilai postingan ini

Tinggalkan komentar

Share to...