Pertunjukan teater di Studio Ngaos Art, Amanda Residence Tasikmalaya pada 20–22 November 2025 kembali memancing tanya: sejauh mana kata mampu menjelaskan pengalaman manusia? Dalam “Public Speaking” yang dibawakan Fikri Ali dari naskah AB Asmarandana, bahasa dipreteli—dipaksa mundur demi menampilkan celah-celah kebisuan dan bunyi yang menolak makna konvensional.
Panggung kecil itu sengaja dibuat intim, hampir seperti ruang diskusi yang berubah menjadi arena eksperimen linguistik. Penonton tidak diundang untuk mendengarkan pidato; mereka dipaksa menghadapi ketidakcukupan bahasa ketika ia diperlakukan sebagai objek yang bisa dimanipulasi.
Apa yang terlihat dan terdengar
Di tengah panggung, tokoh yang disebut Slobodon berdiri di belakang podium; busananya mengingatkan pada sosok pembicara seminar yang tersusun rapi. Namun, ritme penampilannya langsung menabrak harapan: ujarannya terfragmentasi, diselingi jeda, dan akhirnya bergeser ke rangkaian suara non-tekstual—helaan, putus-putus, hingga ledakan vokal yang lebih mirip mesin daripada kalimat.
Peralihan dari retorika yang familiar ke bentuk-bentuk suara yang tidak terinterpretasi itu bukan sekadar trik. Itu sebuah strategi dramaturgis untuk menyorot batas-batas wacana publik: bagaimana pidato bisa menutupi kekosongan, dan bagaimana kegagapan atau kebisuan justru membuka ruang makna baru.
Fikri Ali memainkan ambiguitas itu dengan sengaja. Di satu sisi ia meniru gaya orator: gestur, jeda, dorongan emosi yang biasa dipakai untuk memikat audiens. Di sisi lain ia meruntuhkan kerangka tersebut, sehingga penonton bergeser dari menerima pesan menjadi mempertanyakan siapa yang berkuasa atas makna.
Kenapa pertunjukan ini relevan sekarang
Dalam era komunikasi instan dan pidato publik yang mudah tersebar, seni pertunjukan seperti ini relevan karena menantang asumsi dasar tentang wacana. Jika kata-kata bisa dipakai untuk mengaburkan realitas, maka memecahkan kata menjadi bunyi dan jeda bisa menjadi strategi kritis untuk mengungkapkan apa yang disimpan di balik retorika.
Konsekuensinya tidak hanya estetis. Penonton dihadapkan pada pertanyaan praktis: bagaimana kita menilai otoritas suara di ruang publik, dan kapan keutuhan bahasa malah menutup kemungkinan dialog yang jujur?
| Informasi Pertunjukan | Detail |
|---|---|
| Judul | Public Speaking |
| Pementas | Fikri Ali |
| Pencipta naskah | AB Asmarandana |
| Tempat | Studio Ngaos Art, Amanda Residence, Tasikmalaya |
| Tanggal | 20–22 November 2025 |
- Pengalaman teater intim: ruang kecil mempertegas konfrontasi antara penonton dan materi pertunjukan.
- Eksperimen bahasa: suara non-verbal diposisikan sebagai alat kritik terhadap klaim kebenaran yang sering dibawa pidato.
- Refleksi publik: menimbulkan pertanyaan tentang otoritas, retorika, dan kejujuran komunikasi di ruang sosial.
Reaksi penonton tampak bervariasi: sebagian terpesona oleh kejujuran absurdnya, sebagian lagi tampak tidak nyaman menghadapi penolakan struktur bahasa yang biasa mereka andalkan. Itu pun bagian dari niat pertunjukan—menciptakan pengalaman yang memaksa refleksi, bukan hiburan pasif.
Sekalipun pendekatan seperti ini tidak cocok bagi setiap penikmat teater, karya-karya seperti “Public Speaking” penting untuk menjaga panggung sebagai ruang percobaan budaya—tempat di mana konvensi dapat dipertanyakan secara langsung dan estetika dapat dipakai sebagai alat pemikiran kritis.
Secara garis besar, pertunjukan ini mengingatkan bahwa bahasa bukan hanya alat komunikasi; ia juga arena kekuasaan. Ketika kata-kata gagal atau disobek menjadi suara, kita dipaksa melihat apa yang selama ini tersembunyi dalam wacana sehari-hari.
Artikel serupa :
- Noise Tangsel: M. Ramdhani sulap kebisingan kota jadi pertunjukan audio
- Xue, butoh Singapura: karya a short history of almost pelihara memori lewat gerak tubuh
- Monolog Ngaos Art mengusik ego dan tubuh lewat narasi provokatif
- Dyah Ayu Setyorini di Budamfest 2025: monoplay kritik stereotip terhadap perempuan
- Teater post-dramatik: lakon baru bongkar retaknya ruang keluarga

Dewi Permata adalah jurnalis hiburan yang memiliki hasrat besar terhadap
dunia perfilman, musik, dan budaya populer. Dengan pengalaman lebih
dari tujuh tahun di industri media, ia telah melakukan wawancara
eksklusif dengan banyak tokoh terkenal dan mengulas berbagai tren di
industri hiburan.






