Shima Nuriadiba memukau sebagai penampil termuda Barade Monolog Ngaos Art

Shima Nuriadiba, Penampil Termuda di Barade Monolog Ngaos Art: Bakat yang Tumbuh dari Cerita dan Panggung

Maret 16, 2026

Pentas Barade Monolog yang digelar oleh Ngaos Art pada 20–22 November 2025 menarik perhatian karena menampilkan 11 monolog beragam, dan dibuka oleh lakon yang langsung memicu perbincangan: sebuah drama tentang peran dan identitas perempuan. Kehadiran seorang aktris berusia 12 tahun dalam produksi itu menimbulkan pertanyaan penting: bagaimana teater lokal memberi ruang bagi generasi muda dan apa arti kolaborasi lintas usia dalam narasi perempuan saat ini?

Di tengah format yang pada dasarnya adalah One Man Play, sutradara dan aktor Rika Jo memilih menempatkan seorang pendukung muda untuk memberi dimensi berbeda pada pementasan. Karya berjudul Feminisme Kodrati, tulisan AB Asmarandana, menjadi pembuka rangkaian yang menyuguhkan variasi suara dan gaya panggung.

Penampilan yang mencuri perhatian

Shima Nuriadiba, 12 tahun, muncul bukan sebagai pelengkap semata. Penampilannya mendapat sorotan karena kemampuan untuk mempertahankan konsentrasi dan memadukan respons emosional yang matang dengan keluwesan gerak anak seusianya. Keberadaannya terasa integral, memberi warna yang kontras sekaligus melengkapi interpretasi tokoh utama.

Para pemeran dan tim produksi melaporkan bahwa Shima cepat menyesuaikan diri dalam proses latihan, mengikuti ritme kerja aktor dewasa dan menanggapi arahan sutradara dengan sigap. Sikap profesionalnya di belakang panggung menjadi catatan penting bagi penyelenggara dan penonton yang hadir.

Akar yang terbentuk dari pengalaman seni

Perkembangan Shima bukan kejutan instan. Sejak usia dini ia aktif dalam lomba mendongeng, baca puisi, dan penampilan budaya di sekolah. Pengalaman itu membantu membentuk keluwesan ekspresi yang kini tampak saat ia berdiri di panggung teater.

  • Usia dan sekolah: 12 tahun, pelajar kelas 7 di SMP Negeri 3 Kota Tasikmalaya.
  • Prestasi awal: Juara II kontes Putri Batalengsar saat kelas 4 SD.
  • Pengalaman tari tradisi: Pernah menampilkan Tari Merak, Tari Kembang Tanjung, serta berperan sebagai Nini Lengser pada acara perpisahan SDN 2 Benda (2024).
  • Sikap dalam produksi: Teliti, fokus, dan cepat menyerap instruksi artistik.

Rekam jejak semacam ini menjelaskan mengapa sutradara memilih memasukkan unsur aktor anak dalam karya yang menempatkan diskusi gender sebagai tema sentral. Kehadiran generasi muda pada panggung yang membahas peran perempuan memberi nuansa berbeda pada interpretasi teks.

Mengapa ini penting sekarang

Kolaborasi lintas usia dalam teater lokal mencerminkan dua hal: regenerasi talenta dan perluasan ruang publik bagi wacana sosial. Ketika produksi seperti ini mendapat perhatian, ada peluang bagi sekolah dan komunitas seni untuk menguatkan program pendidikan seni yang lebih sistematis.

Secara praktis, penampilan anak dalam produksi yang membahas isu dewasa juga menimbulkan pertimbangan etis dan pedagogis — tentang bagaimana materi disunting, peran yang diberikan, dan dukungan psikologis selama proses. Para praktisi seni lokal kini menghadapi tantangan sekaligus kesempatan: menjaga kualitas estetika permainan sambil memastikan kesejahteraan pemain muda.

Catatan akhir

Pementasan di Ngaos Art menegaskan bahwa teater daerah tetap menjadi ruang eksperimen—baik dari segi bentuk maupun pemeran. Keterlibatan anak seperti Shima membuka diskusi tentang keberlanjutan talenta lokal dan bagaimana komunitas budaya mengasuh generasi pemeran berikutnya.

Pentas Barade Monolog 20–22 November 2025 memberi pesan jelas: pertunjukan yang kuat bukan hanya soal naskah dan nama besar, tetapi juga bagaimana produksi memberi ruang bagi suara baru untuk berbicara. Pengaruhnya terhadap praktik teater muda di tingkat lokal layak dipantau dalam beberapa bulan mendatang.

Artikel serupa :

Beri nilai postingan ini
BACA  Heboh! JKT48 Luncurkan Single Ke-26 #KuSangatSuka: Fakta Menarik di Balik Lagu Terbaru!

Tinggalkan komentar

Share to...