by

22 Tahun, Polwan Single Parent Ini, Mampu Besarkan Tiga Anaknya Hingga Sukses

-Featured-1,478 views

AMBON,MRNews.com,- Menjalani hidup tanpa seorang suami, ayah bukan berarti dunia kiamat, semua berakhir. Meski diakui, sosok itulah tulang punggung penjaga kehormatan keluarga.

Benar saja, hal itu tidak berlaku bagi seorang polisi wanita (Polwan) ini, Imelda Haurissa.

Sejak sang suami yang juga seorang anggota polisi berpangkat Sersan Satu (Sertu) meninggal kena tembakan dalam tugas ditengah situasi konflik sosial di kompleks kampus UKIM, Talake Juni 2000 silam, Imelda pun menjadi seorang janda.

Polwan berpangkat AKP ini bercerita, saat itu sang suami ingin menyelematkan adik perempuannya yang sementara berkuliah di kampus UKIM.

Namun apadaya, tembakan OTK nyasar mengenai tubuhnya di depan pintu masuk kampus, Sertu Jhon Sapulette tersungkur. Sementara sang adik, diselamatkan orang baik lewat tembok belakang kampus.

“Kala itu, anak bungsu perempuan baru mau jalan usia 8 bulan. Saat kejadian, beta di rumah Benteng. Ada kerabat yang datang kasi tahu bahwa bapa Jhon (paitua) ada di rumah sakit, dapa tembak. Awal beta seng percaya karena almarhum itu orangnya teliti. Sampai-sampai mau berdoa di depan meja, kehabisan kata-kata,” tuturnya.

Sebagai korban pertama yang tertembak, sang suami dioperasi 5 jam lebih di rumah sakit. Setelah itu, kondisinya hanya bertahan tiga hari karena tepat 25 Juni 2000 menghembuskan nafas terakhir.

“Beta deng suami angkatan beda setahun, dia 1991/1992, beta 1992/1993. Tapi katong naik pangkatnya yang sama karena daerah rusuh. Biasanya 3,5 tahun baru naik pangkat,” urainya.

Memang diawal, Imel mengaku sempat depresi karena di usia 27 tahun sudah hidup tanpa suami, tulang punggung keluarga.
Tiap hari melayat dan bicara dengan gundukan tanah kuburan ditemani sang ayah, seorang supir angkot.

“Sempat depresi, salahkan Tuhan bahwa Tuhan tidak adil. Saat itu bahkan terbersit di pikiran untuk tinggalkan agama yang dianut. Karena beta pikir, suami tidak pernah susahkan orang lain, suka menolong dan layani pekerjaan Tuhan. Tapi kenapa Tuhan ambil dia,” ujar Imel.

Tapi seiring berjalannya waktu, Imel meyakini apa yang Tuhan buat itu baik. Semua bisa dijalani dengan biasa karena juga ada dukungan orang tua.

22 Tahun lebih sudah, Imel yang saat itu masih miliki pangkat sama dengan sang suami, menjalani hidup sebagai single parents (orang tua tunggal) dengan mengasuh tiga anak sekaligus.

Anak pertama, Mario saat ditinggal papanya, baru masuki usia 5 tahun. Patrick anak kedua berumur 3 tahun dan Sendy, si bungsu belum genap setahun, masih 8 bulan.

Disaat tanpa papa, ketiganya pun “dewasa” sebelum waktu, begitu bahasa Imel bagi tiga kebanggaannya itu. Mario, sebagai anak tertua jadi contoh bagi kedua adiknya. Dia tekun belajar, mandiri dan tidak pernah buat masalah di sekolah sejak SD-SMA.

Berbeda dengan Patrick yang terkena bandel dan tidak terkontrol, karena tumbuh kembangnya bersamaan dengan sekolah perwira yang dijalani sang mama diluar Maluku.

“Karena buat masalah, beta sempat ke sekolah pukul dia saat SMA. Itu karena salah. Tapi setelah itu beta panggel dan bicara baik-baik. Sebab namanya anak-anak yah saat itu mereka sedang cari jati diri,” ungkap Kasubid Penmas Polda Maluku itu.

Cara mendidik yang Imel terapkan ke anak-anaknya, keras tapi bermakna. Ada saatnya jadi mama penuh kasih sayang, tapi ada waktu juga mesti keras dan berwibawa didepan mereka seperti sosok ayah.

“Belajar juga dari didikan orang tua, keras tapi tujuannya baik. Maka baik laki-laki maupun perempuan, ketika salah tetap dipukul tapi setelah itu beta bicara baik-baik,” tambahnya.

Benar saja, apa yang diterapkan bagi anak-anaknya itu kini membuahkan hasil. Dua anaknya, sudah jadi penegak hukum. Mario seorang Jaksa muda, sedangkan Patrik ikuti jejak papa dan mamanya, jadi anggota polisi setelah tes tiga kali.

Sementara si bungsu Sendy, bakal masuk dunia kampus sebagai akademisi. Karena saat ini sementara jalani studi S2 di salah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia.

“Karena mereka sekarang sudah kerja, beta sering pesan lakukan saja katong punya bagian, seng boleh berharap bahwa katong karja ini harus dapat penghasilan sebanyak ini. Tapi lewat tugas katong, harus bawa berkat bagi banyak orang,” ingat Polwan lulusan tahun 1992 itu.

Nilai lain yang Imel terapkan ke putera/puterinya itu ialah jangan karena uang, lupa saudara. Ini belajar dari kehidupan orang tua, ketika tidak punya apa-apa, tidak ada saudara yang mengaku saudara. Berbeda ketika “ada punya”, banyak akui saudara.

“Satu rasa susah, yang lain rasa susah. Ketiganya harus rasakan yang sama. Seperti prinsip orang tatua saja, sagu salempeng dibagi dua. Itu yang kita terapkan,” ujar wanita asal Nusa Laut itu dengan mata berkaca-kaca.

Imel bersyukur dan bangga memiliki ketiga anaknya itu. Sebab diawal menjadi single parents, saudara dari sang suami ingin mengambil ketiga anaknya.

Imel bersikeras dia mampu dan bisa hidupi mereka dalam keterbatasan dan kekurangan. Sebab mereka itu tanggungjawab yang Tuhan berikan.

“Sebab beta prinsip, sebelum Beta tutup mata, tangan masih kuat kerja, anak-anak tetap di beta asuhan. Dan kalau beta makan, anak-anak juga makan. Kalau tahan lapar, mereka juga harus rasa yang sama. Jangan dong seng makan, beta kenyang,” imbuhnya.

Itu jadi motivasi dalam hidupnya. Imel juga ingin buktikan ke orang-orang bahwa tidak selamanya anak yang berasal dari orang tua tunggal itu dia punya kehidupan hancur. Tergantung didikan.

“Semuanya tidak gampang. Beta harus panggayo sandiri. Apalagi saat dong tiga sama-sama kuliah. Satu hari 150 ribu untuk tiga orang. Kadang orang pikir enak, ada suami pensiun. Tapi berapa? Hanya 1,2 juta sekian. Tapi selama katong bersyukur, semua tercukupi,” cetusnya.

Wanita kelahiran tahun 1973 yang kini menyandang tiga balok emas dipundak itu pun percaya, Tuhan memilihnya jadi orang tua tunggal selama 22 tahun karena Tuhan percaya dia mampu, kuat lakukan semua itu.

“Beta punya kebutuhan itu bukan prioritas tapi kebutuhan anak-anak yang diutamakan, jadi prioritas. Satu pesan, jadi kalau miliki anak, tidak boleh disia-siakan. Sebab anak itu mandat yang Tuhan kasi ke kita untuk rawat,” pesannya akhiri perbincangan. (Iwan)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed