by

14 Jenis Ancaman Berpotensi Terjadi, Grand Design Jadikan Maluku Tangguh Bencana Disiapkan

AMBON,MRNews.com,- Berdasarkan kajian terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), terdapat 14 jenis ancaman yang berpotensi terjadi di Provinsi Maluku selain gempabumi dan tsunami.

Kepala Pelaksana BPBD Maluku Hendri Far-far katakan, 14 jenis ancaman itu diantaranya gempabumi, tsunami, banjir, banjir bandang, cuaca ekstrem, gelombang ekstrem dan abrasi, kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Kemudian kekeringan, letusan gunung api, tanah longsor, kegagalan teknologi, epidemi dan wabah penyakit, likuefaksi dan terkini yang sementara melanda ialah Pandemi Covid-19.

“Beberapa jenis ancaman bahkan sudah sering terjadi dan melanda di Maluku, baik dahulu maupun belakangan ini. Sejarah bahkan mencatat, telah terjadi beberapa gempabumi merusak dan mendatangkan tsunami sejak dahulu kala ditahun 1898,” tandasnya disela Table Top Exercise gempabumi dan tsunami hari kedua di Amaris Hotel Ambon, Sabtu (16/10).

Terhadap itu, BPBD Maluku sebutnya, memainkan perannya dalam manajemen penanggulangan bencana. Berkaitan manajemen resiko bencana (pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan), manajemen kedaruratan saat bencana (siaga darurat, tanggap darurat, transisi darurat) dan manajemen pemulihan pasca bencana (pemulihan, rehabilitasi, rekonstruksi).

Sejumlah kebijakan untuk pencegahan dan kesiapsiagaan bencana pun dilakukan. Diantaranya sosialisasi pengurangan resiko bencana, fasilitasi desa tangguh bencana (Destana), bekerjasama dengan BMKG stasiun Geofisika kelas I Ambon terkait sistem peringatan dini tsunami (InaTEWS) dan pemasangan WRS New Generation.

Kemudian bekerjasama dengan Brunel University dan Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) untuk membangun ketangguhan daerah dalam menghadapi ancaman gempabumi dan tsunami, membantu proses peningkatan kapasitas masyarakat lewat kerjasama dengan stakeholder terkait.

Sementara manajemen kedaruratan dan logistik meliputi menyediakan logistik dan peralatan, monitoring dan evaluasi ke Kabupaten/Kota, membuat laporan kejadian bencana.

“Melaksanakan pelatihan JITUPASNA, menyusun usulan rehabilitasi dan rekonstruksi, berkoordinasi dengan instansi/lembaga terkait termasuk BNPB dalam hal pemulihan pasca bencana. Ini kebijakan dalam manajemen pemulihan,” terangnya.

Namun untuk menjadikan Maluku tangguh bencana akuinya, tidak mudah sebab banyak tantangan. Yakni karakteristik wilayah kepulauan, kapasitas masyarakat tentang kebencanaan belum optimal.

Literasi kebencanaan adalah hal mendesak yang mesti dilakukan, serta belum terintegrasinya dokumen kajian resiko bencana kedalam dokumen perencanaan daerah.

“Perencanaan kebencanaan berbasis gugus pulau berupa penempatan depo logistik per gugus pulau dan inisiasi “sister city”, pengembangan kapasitas, pengembangan wilayah berbasis mitigasi bencana dan edukasi bencana secara masif merupakan grand design jadikan Maluku tangguh bencana,” pungkasnya. (MR-02)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed