by

Terbentur Biaya, Alasan Bayi Elena Enggan Dibawa ke RS

AMBON,MRNews.com,- Bayi Elena Ele sejak lahir 8 bulan lalu di RS Al-Fatah Ambon secara sesar, sampai sekarang belum dibawa orang tuanya ke rumah sakit untuk dilakukan pemeriksaan rutin secara medis. Padahal, kondisi bayi Elena memprihatinkan. Sebab tiga bulan setelah lahir, hampir seluruh bagian tubuhnya mengecil seperti anak yang mengalami kekurangan gizi (gizi buruk).

Hanya perut Elena yang membesar tak normal bagai bola. Terbentur biaya yang mahal karena pasien umum jadi alasan orang tua Elena tidak memeriksanya ke dokter. Apalagi baik orang tua maupun Elena juga tidak memiliki BPJS Kesehatan. Imunisasi pun tidak jalan rutin, hanya diawal setelah lahir tapi terputus.

Orang tua Elena, Marten Ele (38) dan istrinya Ayu mengaku berat hati untuk membawa bayi Helena ke RS karena butuh biaya mahal dan hanya merawatnya di rumah. Upaya sudah dilakukan orang tuanya dengan membawa Elen sapaan akrab bayi mungil itu ke tiga dokter praktek. Rujukannya, harus pemeriksaan lebih lanjut ke RSUD karena perut Elen yang membesar dan mesti dikeluarkan cairan.

Puncak keengganan orang tua membawa Elen ke RS, tatkala saat konsultasi dan pemeriksaan ke dokter spesialis anak dr Sri Wahyuni Djoko, SpA yang berpraktek di Klinik dan Apotek Evangeline Booth samping toko meter, Senin (27/1), dimana dokter menyarankan bayi Elen harus dirujuk ke RSUD dr Haulussy untuk mengeluarkan cairan di perutnya. Dengan konsekuensi biaya diperkirakan mencapai 80-100 juta bila tanpa BPJS.

“Kata dokter di klinik saat periksa, harus segera rujuk ke RSUD. Untuk kasi keluar cairan dari dia punya perut. Sebab dokter bilang ada cairan dan mesti disedot keluar. Tapi beta belum bawa, karena dokter bilang kalau ada BPJS bisa ringan. Tapi kalau seng ada, kemungkinan diperkirakan biayanya 80-100 juta. Sedangkan beta deng maitua seng ada uang banyak itu, mahal. Beta sudah stop jadi sopir oto,” kata Marthen di Ambon, Rabu (29/1).

Elena merupakan anak bungsu dari Marthen dan Ayu. Mereka diketahui juga merupakan korban gempabumi 26 September 2019 lalu yang rumahnya di Waitatiri, Maluku Tengah rusak parah hampir 80 persen. Itulah penyebab sehingga mereka kemudian mengungsi di rumah orang tua Ayu di daerah Bentas, Kecamatan Nusaniwe hingga kini.

Keberadaan Elena yang viral di media sosial pun menarik perhatian sejumlah wartawan, Kapolsek Nusaniwe Iptu Piet Matahelemual bersama anak buahnya serta tim Berkat Ambon untuk menyambangi Elen di Bentas, dengan maksud berusaha mencari bantuan untuk meringankan beban orang tua Elen.

Kondisi itu, sempat membuat orang tua Elen meneteskan air mata saat diwawancarai awak media karena ada kepedulian dan perhatian yang datang untuk putri kesayangan, Elen. Selain juga karena Marthen dan Ayu berat hati untuk membawa Elen ke RS. Faktor takut biaya mahal dan jarum suntik masuk ke tubuh Elen jadi sebabnya.

Namun, keduanya luluh setelah dibujuk rayu dan diyakinkan oleh Kapolsek, tim Berkat Ambon dan tim medis dari dinas kesehatan provinsi Maluku yang datang dengan ambulance untuk membawa Elen ke RSUD dr Haulussy-Ambon untuk tindak medis lebih lanjut. Sebab Elen harus ditangani secepatnya agar sembuh.

Salah seorang tim medis dari Dinkes Maluku yang datang melihat kondisi bayi Elen mengaku, jika dilihat dari hasil diagnosa dokter spesial anak yang memeriksa bayi Elen terakhir kalinya, memang Elen alami kekurangan gizi (gizi buruk) namun disertai penyerta penyakit lainnya.

“Itu disebabkan akibat pola asuh dan makan yang tidak berjalan baik. Apalagi tidak ASI dan imunisasi terputus. Yang terpenting tentu bayi Elen harus ditangani secepatnya dulu oleh tim medis di RSUD dan cairan di perutnya harus dikeluarkan,” sebutnya yang enggan namanya dipublikasi. (MR-02)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed