by

Tayang 3 Hari di YouTube, Festival Bulu Sudah Ditonton 5000 Viewers

AMBON,MRNews.com,- Festival Bulu/Bambu yang puncaknya selama 3 hari dari 26-28 November 2020 di Amphiteater dusun Tuni, Kota Ambon
dengan tiap harinya ada pertunjukan daring kolaborasi kurang lebih 1 jam oleh kelompok seniman berbeda telah tayang di YouTube channel Festival Bulu dan ditonton sekitar 5000 viewers.

Koordinator Festival Bulu Piere Ayawaila mengatakan, apresiasi terhadap event itu sangat bagus dari publik/masyarakat. Terbukti dari tiga hari penayangan, dalam seminggu ini sudah ada sekitar 5000 viewers dan hal tersebut diluar ekspektasinya sebagai penyelenggara dari fasilitasi bidang kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

“Katong berpikir, kontennya sangat kultural jadi orang Ambon dan Maluku tidak terlalu suka. Dihari pertama memang agak populer karena yang komedi. Tapi dua hari sisa lebih ke teater. Katong juga tidak sangka atensi publik terhadap festival itu sangat luar biasa,” ungkap Piere kepada media ini di Ambon, Sabtu (5/12/20).

Tentu hal ini kata Piere, menjadi step awal bagi pihaknya nanti kedepan ketika Ambon buat acara-acara kultural lagi tidak khawatir ada orang yang tertarik atau tidak, nonton atau tidak. Sebab Festival Bulu ini sudah jadi buktinya.

“Yakin tetap saja ada yang tertarik dan ingin mempertahankan budaya bambu/bulu. Festival Bulu yang ikut dari seniman ada 50 orang, ditambah panitia dan lainnya 20-an jadi sekitar 70-an orang yang terlibat,” tukasnya.

Diketahui, lokasi Festival Bulu di Tuni adalah sebuah Amphiteater berbahan bambu, didaerah yang sampai sekarang masih melestarikan budaya musik suling bambu.

Festival ini mengajak 50 seniman dan kelompok seniman/sanggar musik, sastra, tari, teater dan visual di Maluku yang berkolaborasi untuk pertunjukan musik, sastra/teater dan Rupa.

Kelompok seniman tersebut antara lain, Molucca bamboowind Orchestra, Bengkel Sastra Batu Karang, Seni Embun, Hahakae, Kanvas Alifuru dan seniman lainnya.

Festival diawali Workshop yang bertujuan memperkaya tiap kelompok seniman dalam menciptakan karya-karya interpretasi mereka akan budaya bambu.
Sementara pendokumentasian budaya pemanfaatan bambu dari sumbernya di pulau Seram, Saparua dan Buru ke dalam bentuk video.

Video tersebut selain akan ditayangkan daring juga menjadi bahan inspirasi dan interpretasi budaya bambu kepada semua kelompok seniman yang terlibat.

Setiap kelompok diberi waktu sebulan untuk mempersiapkan pertunjukan baru, kolaborasi seni musik, sastra/teater dan rupa dengan tema budaya bambu selama festival.

Sebagai set panggung dari pertunjukan diatas seorang perupa diminta mebuat sebuah karya instalasi, bekerjasama dengan tukang bambu di Dusun Tuni, yang kemudin menjadi backdrop dari ketiga pertunjukan tersebut.

Selain itu didokumentasikan juga proses pemanfaatan bambu, bersama pegiat budaya yang masih menerapkan budaya pemanfaatan bambu tersebut seperti Rence Alfons dengan pembuatan suling bambunya, Mama-mama dari Dusun Tuni yang membuat kuliner berbahan bambu dan Branckly Picanussa yang membuat inovasi alat musik bambu. (MR-02)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed