by

Tagal Surat Dukungan “Siluman”, Musda Golkar Ambon Deadlock

-Politik-453 views

AMBON,MRNews.com,- Musda IX DPD Golkar Kota Ambon yang digelar 3 hari di Marina Hotel tak menghasilkan keputusan alias deadlock. Pimpinan sidang Yusry AK Mahedar menskors sidang dalam jangka waktu yang tidak ditentukan dan dikembalikan ke DPD I.

Penyebabnya karena adanya perdebatan soal dukungan “siluman” dari salah satu dewan pertimbangan (Wantim) DPD Golkar Kota Ambon dengan cap. Sementara ada surat dukungan mayoritas enam anggota Wantim tanpa cap.

Wakil ketua Wantim DPD Golkar kota Ambon Etha Siahay menilai, jika diikuti dinamika persidangan Musda, pimpinan sidang dinilai tidak fair. Sebab ketua Wantim Eddy Sambuaga sudah mundur karena calon DPD RI 2019 lalu.

Maka selaku wakil ketua, Etha mengaku secara tidak langsung dia yang bertanggungjawab terhadap enam (6) anggota lain termasuk di forum Musda. Wantim didominasi senior Golkar yang rata-rata usia 50-70 tahun. Seluruhnya sudah dihubungi via telepon karena situasi pandemi Covid-19.

“Saya tidak kasih tahu mereka 6 orang itu anggota Wantim untuk pilih si A atau B. Mereka malah tanyakan siapa yang calon. Dan mereka sampaikan dukungan pa Max Siahay sebagai calon ketua DPD,” ungkap Etha usai Musda di Marina Hotel, Jumat (11/9) dini hari.

Karena keputusan bulat itu sudah diberikan ke Max Siahay maka dituangkan dalam bentuk surat dukungan yang diteken semua anggota Wantim agar keabsahan jelas dan tertanggungjawab. Namun ditengah jalan, ada satu surat “siluman” yang ditandatangani sekretaris Wantim Latif Hatala.

“Waktu saya ke sekretaris beliau sakit. Tapi beliau katakan maaf jua tadi malam itu ibu Ely Toisuta kesini ambil saya punya tandatangan. Beta bilang tidak apa-apa,” ujar anggota DPRD kota Ambon itu menirukan perjumpaannya dengan sekretaris Wantim.

Dalam kondisi tersebut, Etha mengaku, dirinya kemudian berkonsultasi dengan anggota Wantim DPP Golkar Zeth Sahuburua yang juga mantan ketua DPD Golkar Maluku. Terkait ada tidaknya cap Wantim dan memang dibenarkan Sahuburua Wantim tidak punya cap.

“Anehnya, di Musda muncul surat Wantim yang ditandatangani Latif Hatala dengan cap. Saya tanyakan dan masalahkan surat itu siapa yang buat. Sebab ada 2 surat. Kami ini orang tua dan kami tidak akan menipu. Surat yang kita ajukan diteken 6 orang, yang lain itu hanya 1 orang,” tegasnya.

Menurutnya, ini permainan “picik” dan sengaja karena tak jelas surat dan cap-nya darimana, siapa yang buat.

“Ini satu penipuan besar, kejahatan, kriminal. Wantim akan proses hukum karena penipuan, membuat cap palsu. Sebab yang bertanggungjawab di Wantim adalah saya. Kami akan konsultasi juga ke Wantim DPP soal masalah ini,” tandasnya.

Sementara, salah satu pimpinan sidang Musda IX Muhamamad Athe Tuhepaly mengaku, sepengetahuannya Wantim tidak memiliki cap. Karena setaunya, dari hasil koordinasi dengan Wantim DPP Golkar Zeth Sahuburua, hal itu dibenarkan.

Tapi di kubu Ely, buat dukungan dari Wantim pakai cap dan hanya diteken sekretaris Wantim Latif Hatala. Hal itu yang dipermasalahkan didalam forum dan membuat sidang tak berlanjut.

“Pertanyaannya, kalau surat dukungan masuk ditandatangani lengkap wakil ketua dan 6 anggota Wantim tanpa cap karena memang seharusnya demikian. Surat lain ada hanya ditandatangani 1 orang dengan cap. Lalu, siapa yang bikin surat lain dan cap itu. Apakah memang Wantim atau oknum-oknum. Itu masalahnya,” bebernya.

Terlepas dari pimpinan sidang Musda, namun menurutnya, sebagai ketua Golkar kecamatan Sirimau berpandangan proses Musda berjalan tidak sesuai aturan Juklak 02 DPP tahun 2020, karena ada sejumlah aturan yang “dilabrak” termasuk oleh pimpinan sidang. (MR-02)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed