SRA Jalan, Guru Dituntut Harus Ramah Anak

AMBON,MRNews.com,- Sekolah Ramah Anak (SRA) di kota Ambon yang jumlahnya 97 sekolah baik tingkat SD maupun SD atau hampir 80 persen, sejauh ini telah menjalankan program penting yaitu belajar di luar kelas (outdoor classroom day). Berlangsung kurang lebih seminggu. Tak saja sekolah, tapi guru pun dituntut untuk harus ramah anak.

Kepala dinas pendidikan kota Ambon Fahmi Salatalohy menilai hal itu sangat penting, bahwa bila sekolah sudah ramah anak maka guru juga mesti demikian. Dengan tidak boleh berlaku kasar dan membuat anak-anak depresi, stres atau terbeban. Namun bagaimana menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, dinikmati dan membuat anak-anak mencintai proses belajar, guru dan diri sendiri.

“Total 97 SRA yang menjalankan program outdoor class baik SD maupun SMP. Hampir mendekati 80 persen dari total 215 SD dan SMP 58 sekolah. Ini khan nanti kita pantau terus apakah sekolah-sekolah ramah anak itu guru-gurunya betul ramah anak atau masih menggunakan cara-cara konvensional, sifatnya kasar, otoriter dalam mendidik anak-anak. Ini nanti akan kita evaluasi,” ujar Fahmi kepada media ini di Ambon, Rabu (13/11/19).

Hasil evaluasi pihaknya kata Fahmi, outdoor class oleh SRA itu cukup positif, berjalan bagus karena metode pembelajaran menarik dan beragam. Ada belajar sambil bermain, menulis, bernyanyi, menggambar, dengar cerita dan lain sebagainya. Dimana anak-anak begitu menikmati dan gembira mendapat suasana belajar yang berbeda. Sebab selama ini mereka disibukkan belajar dalam kelas, banyak pekerjaan rumah, hafalan dan lainnya.

“Ini juga trauma healing yang positif. Artinya dalam situasi gempa seperti ini anak-anak full datang ke sekolah walaupun diantar orang tua tapi aktivitas mereka itu sangat meyakinkan bahwa mereka tidak memikirkan gempa dan seterusnya. Mereka betul-betul bermain, enjoy dan memang happy. Saat itulah, terjadi kesempatan yang betul-betul mesti dimanfaatkan untuk menyenangkan mereka tanpa beban. Mereka belajar dengan berbagai metode dan juga diakhiri dengan deklarasi sekolah ramah anak,” paparnya.

Memang diakuinya, hanya sekolah-sekolah yang mendapat predikat ramah anak saja yang dilibatkan dalam program outdoor class tersebut. Namun kedepan, status sekolah ramah anak nanti dikembangkan lagi dengan jumlah cukup banyak. Artinya sekolah-sekolah yang awalnya belum masuk dalam kategori ramah anak dilibatkan lagi, termasuk sekolah swasta. Sebab juga mesti disesuaikan dengan Kementerian PPPA karena merupakan program mereka.

“Tidak semua sekolah. Tapi setelahnya nanti dikembangkan dalam jumlah lebih banyak. Maka kita harap supaya tahun depan kegiatan outdoor class ini tidak hanya sebatas sekolah-sekolah ramah anak saja tapi mungkin sekolah-sekolah swasta lain juga bisa dilibatkan sehingga porsi untuk merasakan belajar di luar itu dinikmati semua sekolah. Supaya juga pembelajaran tidak monoton karena anak butuh suasana berbeda,” pungkasnya. (MR-02)

News Reporter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *