Sidi, Warga GPM Dihimbau Hindari Pesta, Utamakan Ugahari

AMBON,MRNews.com,- Gereja Protestan Maluku (GPM) yang meliputi provinsi Maluku-Maluku Utara, hari ini Minggu (14/4/19) melakukan peneguhan sidi terhadap kurang lebih 12 ribu pemuda/i gereja yang telah mengikuti pendidikan katekisasi kurang lebih setahun dan menyatakan kesediaan menjadi pengikut Kristus, rela menjalani jalan kesengsaraan dan penderitaan bersama sang pencipta. Untuk klasis GPM Kota Ambon sendiri, tercatat sekitar 860-an lebih, yang tersebar di 20 jemaat.

Sayangnya, sidi yang artinya penuh atau sempurna, dalam tiap tahun sering disalah maknai oleh sebagian warga GPM yang menilai sukacita sidi harus dilakukan dengan pesta pora, mabuk-mabukan. Padahal, semestinya harus dijalani dalam sukacita kesederhanaan atau ugahari. Hal ini jualah yang dihimbau dan diajak pimpinan gereja klasis kota Ambon, Pendeta Nick Rutumalessy.

Menurut Rutumalessy, Gereja sudah sekian tahun ini menyuarakan konsep yang disebut dengan ugahari atau kesederhanaan. Artinya melakukan sesuatu apa adanya dengan kesadaran seluruh kekuatan yang dipunya, dengan tidak melakukannya diluar batas-batas kemampuan umat. Sehingga perlu dihimbau kepada warga gereja yang melewati proses sidi, sebaiknya juga menggunakan konsep ugahari, apa adanya, sederhana dan penuh sukacita.

“Sidi harus dipahami bukan tradisi gerejawi tapi itu cara gereja merespons dan menyiapkan warga gereja untuk memberi jawaban iman secara bertanggungjawab tentang pilihan-pilihan masa depannya. Maka itu, kami berharap semua calon sidi mengerti ini bukan soal rutinitas dan tradisional, setiap orang yang memasuki fase maka dia menentukan secara iman pilihannya untuk mengikut Kristus dan dia bertanggungjawab atas pilihan itu sekarang dan sampai nanti,” terangnya di Ambon, Sabtu (13/4/19).

Kedua kata dia, bahwa proses sidi memang tidak lepas dari masyarakat Maluku. Dimana tidak ada sebuah maksud baik yang tidak diimbangi dengan ucapan syukur dalam bentuk menikmati sukacita di keluarga, tapi gereja ingin mengingatkan semua jemaat dan calon sidi sebaiknya menggunakan dengan bertanggungjawab. Sebab proses ini bukanlah saat dimana harus meluapkan sukacita dan justru tanda syukur itu berubah menjadi pesta pora.

“Pengeluaran sidi, kalau rata-rata untuk kota Ambon misalnya, saja satu orang minimal Rp 1 juta, Rp 2 juta hingga maksimal Rp 5 juta x 8 ratus lebih tiap tahunnya maka, ada sekian juta rupiah yang hilang dalam bentuk ucapan syukur. Karenanya kami mengajak umat harus memaknai secara sederhana. Cuma itulah tradisi dan gaya hidup orang Ambon, Maluku selalu acara seperti itu bagian dari rasa syukur dan sukacita,” ungkapnya.

“Pola hidup hedonisme ini jadi tantangan sebagai realitas kemasyarakatan kita. Soalnya bagaimana kita menjawabnya dalam proses di rumah tangga masing-masing, karena selain sidi ada baptis, nikah, wisuda dan kalau ini tidak bisa dimanage/dibatasi dengan baik, sangat konsumtif,” kuncinya. (MR-02)

News Reporter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *