by

Sekkot: Lahirkan Program Pelayanan yang Dirasakan Langsung Umat

AMBON,MRNews.com,- Walikota Ambon melalui Sekretaris Kota (Sekkot) A.G Latuheru berharap sidang ke-9 Klasis Pulau Ambon Timur (KPAT), harus dijadikan sebagai wadah untuk mencakapkan pergumulan umat yang ada di KPAT secara serius.

Persidangan ini sebutnya, bisa membicarakan berbagai hal, terkait dampak Pandemi Covid-19 yang terjadi didunia, dan secara khusus di Kota Ambon, baik terhadap warga kota, maupun juga warga GPM termasuk di KPAT.

“Pemerintah kota (Pemkot) Ambon berharap sidang ini, dapat melahirkan program pelayanan yang dapat dirasakan langsung oleh umat,” harap Latuheru saat pembukaan sidang ke-9 KPAT di Gereja Baitlehem Jemaat Hutumuri, Minggu (23/5).

Pemkot Ambon, lanjut Latuheru, sangat berkepentingan dengan persidangan seperti ini, sebab hasilnya akan sangat berguna untuk menjadi masukan bagi pemerintah, khususnya dalam penanganan pandemic Covid-19.

Wakil Ketua Majelis Pekerja Harian (MPH) Sinode GPM Pendeta HH Hetharie saat membuka sidang menegaskan, sidang-sidang gerejawi yang terlaksana selama ini, harus dipahami secara bersama, adalah untuk kepentingan membangun jemaat-jemaat secara Am, sebaliknya, bukan wahana untuk mencari siapa yang benar dan siapa yang salah.

Sekarang, kata dia, sudah saatnya GPM menjadi gereja yang benar-benar mandiri, dengan melibatkan seluruh potensi warga jemaat, yang tersebar dari Maluku hingga Maluku Utara.

Kemandirian ini harus didorong dengan jiwa pelayan yang menghamba, dengan tetap merawat dan menjaga domba-domba yang dipercayakan Tuhan diatas pundak para pelayan.

“Gereja, yang adalah kita sebagai orang percaya, harus mampu dan berdiri menjadi sandaran bagi orang-orang termarginal, mereka yang menderita, miskin, papah, serta terbelenggu oleh tirani mayoritas, serta terbelakang oleh kemajuan teknologi, serta terpuruk akibat kondisi global Pandemi Covid-19 saat ini,” ungkapnya.

Diakui, masih menjadi fakta diwilayah pelayanan GPM kondisi yang dipaparkan diatas, bahkan kesenjangan pembangunan, masih sangat dirasakan jemaat serta klasis yang jauh dari pusat pemerintahan.

Sehingga kolaborasi dengan semua pemangku kepentingan harus segera dilakukan guna mengatasinya.

Sebelumnya, dalam khotbah kebaktian pembukaan Sidang ke-9 KPAT, Pdt. L Talakua/Tuhusula mengungkapkan, persidangan ini berlangsung dalam banyak masalah dan persoalan yang sementara menghimpit dunia ini, diantaranya Pandemi Covid-19.

“Kalau Pandemi belum berakhir, maka kondisi ini akan mengantar kita pada sebuah tatanan zaman baru dan mau tidak mau, suka atau tidak suka, kita harus ikut. Kita juga sudah ada diera digitalisasi terbuka, maka tak heran, kalau anak sekarang lebih pintar dari kita yang sudah berumur,” pintanya.

Sementara itu dalam laporannya, ketua panitia pelaksana Siklas 9 KPAT, D Keppy S.Pd menyebut, kegiatan ini rencananya berlangsung selama 2 hari, hadirkan peserta biasa sebanyak 120 orang dan peserta luar biasa 56 orang sehingga totalnya 176 peserta. (MR-02/MC)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed