Prihatin Konflik Komunal, OKP Cipayung Minta Keseriusan DPRD

AMBON,MRNews.com,- Prihatin dengan konflik komunal (antar desa/kampung) yang terjadi akhir-akhir ini di Maluku, organisasi kepemudaan (OKP) Cipayung Kota Ambon diantaranya Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ambon, meminta perhatian dan keseriusan DPRD Provinsi Maluku, sebagai wakil rakyat di parlemen untuk bisa menjadi fasilitator dan mediator dengan semua pihak guna mengeliminir munculnya konflik komunal tersebut.

Ketua GMNI Cabang Ambon, Sujahri Somar katakan, fakta yang terjadi saat ini pertikaian terjadi di beberapa daerah seperti Negeri Latu dengan Hualoi menyisahkan fasilitas pendidikan dibakar, Lisabata dan Mornaten (SBB), Salarem dengan Lor-lor (Aru), atau antar kawasan Kudamati tempat putar mobil dan lorong PMI, serta juga aksi provokatif di Amahusu karena pengaruh Medsos. Namun, berkaca pada konflik horizontal 20 tahun silam di Maluku, sudah pasti harapan orang Maluku tidak ingin mengalami lagi, yang nantinya bisa menyusahkan diri sendiri. Dan peran DPRD selaku wakil rakyat dipandang sangat penting.

“DPRD selaku representatif rakyat, jangan duduk diam, berpangku tangan melihat kejadian yang dialami rakyatnya. Setidaknya harus ada perhatian lebih pada konflik yang mengguncang batin serta psikologi masyarakat, bagaimana membangun kesadaran masyarakat soal kelangsungan hidupnya dalam kemajemukan yang indah. Panggil pihak-pihak terkait dan bicarakan tuntas masalah konflik komunal ini, turun langsung ke lapangan atau tindakan konkrit lainnya. Kami apresiasi atas kerja-kerja kepolisian dan peran civil society untuk menjaga Kamtibmas,” ujar Somar.

Senada, Ketua GMKI Cabang Ambon, Almindes Syauta menilai, fungsi pengawasan DPRD untuk Kamtibmas harus ditingkatkan, karena semakin berkurang apalagi mendekati momen Pemilu 2019. Dimana tanggungjawab bersama tetap mempertahankan kedamaian di Maluku, merajut yang hilang bukan dengan konflik, tetapi memperkuat hidup orang basudara.

“Kami minta DPRD Maluku dapat meningkatkan koordinasi dengan pihak keamanan yakni Polda Maluku dan Kodam XVI/Pattimura serta stakeholder terkait supaya mencari solusi akhir konflik komunal yang terus terjadi. Guna apa ada Gong Perdamaian Dunia dan jadi laboratorium kerukunan antar umat beragama jika kita berkelahi terus,” tukas Syauta.

Atas persoalan itu, Syauta lantas menghimbau kepada setiap lapisan masyarakat Maluku agar tidak mudah terprovokasi dengan situasi media sosial (Medsos) yang kadangkala dapat meng-agitasi serta mencoba untuk menghancurkan kerukunan hidup orang basudara di Maluku. Serta mengharapkan sosialisasi kesadaran bermasyarakat dalam hal memupuk semangat kehidupan bersama ditengah kemajemukan sosial budaya di negeri raja-raja.

Tak jauh berbeda dengan dua rekannya, Ketua HMI Cabang Ambon, Muhamad Iqbal Souwakil menambahkan, perilaku masyarakat yang terseret pada arus konflik komunal, menjadi sorotan utama civil society menyuarakan kedamaian dengan semangat ke-Maluku-an yang selalu melekat dalam hidup “orang basudara”, “sagu salempeng patah dua”, “potong di kuku rasa di daging”, “ale rasa –beta rasa”, karena hal itu nampak tak lagi menjadi arus kohesi sosial yang mempererat. Maka, OKP Cipayung akan merangkul kadernya yang berasal dari daerah konflik sebagai agen perdamaian pada daerahnya masing-masing.

“Kita akan surati segera DPRD Maluku untuk sikap tegas dan cepat akan konflik komunal ini. Tidak menutup kemungkinan juga beraudiensi dengan pihak lain. Pressure group penting untuk tuntaskan semua persoalan konflik komunal. Karena bisa jadi bom waktu bagi kita sewaktu-waktu. Maka harus diputus mata rantai ini segera dan mengajak masyarakat tidak terprovokasi. Butuh kesadaran kolektif memang. Latupati, raja-raja, kepala desa, tokoh pemuda, adat, agama harus lebih proaktif membantu kepolisian, tidak saja berkutat pada sesuatu yang sifatnya seremonial dan birokratis,” tutup Souwakil. (MR-02)

News Reporter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *