by

Presiden Tinjau Posko Pengungsi di Tulehu

AMBON,MRNews,com.- Presiden RI Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana dalam kunjungannya ke Maluku, meninjau langsung posko pengungsi pascagempa 6,5 SR 26 September lalu di Kampus Universitas Darussalam, Tulehu, Kabupaten Maluku Tengah, Selasa (29/10). Presiden dan Ibu Negara didampingi Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Kepala BNPB Doni Monardo, Gubernur Maluku Murad Ismail, dan Bupati Maluku Tengah Tuasikal Abua.

Disana, Presiden dan Ibu Negara melihat pasien di RSUD darurat dr Ishak Umarella menyapa anak-anak sekolah penyintas gempa di pusat pelayanan dukungan psikososial dan trauma healing dan melihat proses pembudidayaan ikan laut hias yang akan dijadikan pemberdayaan ekonomi bagi warga korban gempa, serta berdialog dengan warga, kepala sekolah dan para raja atau kepala desa di SBB dan Malteng.

Presiden Jokowi dalam sambutannya kembali mengingatkan bahwa Indonesia berada di kawasan cincin api sehingga potensi gempa dan tsunami selalu ada di Indonesia. Sejarah mencatat gempa dan tsunami pernah terjadi di beberapa wilayah Indonesia seperti Aceh, Padang, Bengkulu, Lampung, Banten, Yogyakarta, hingga beberapa tahun terakhir di Nusa Tenggara Barat, Palu dan Donggala, termasuk pula di Maluku.

“Kita tidak ingin (bencana, red), dan selalu memohon kepada Allah SWT agar kita selalu dihindarkan dari yang namanya gempa dan tsunami. Tetapi kalau memang Allah sudah berkehendak, ya kita harus menerima dan siap,” kata Presiden.

Menurut laporan yang diterima Presiden dari Gubernur Maluku Murad Ismail dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo, ada sekitar 12.137 unit rumah yang rusak akibat gempa Maluku. Rinciannya, 2.712 unit rumah rusak berat, 3.317 unit rumah rusak sedang, dan 6.108 unit rumah rusak ringan.

“Laporan tadi malam yang saya terima dari Pak Gubernur dan dari Pak Kepala BNPB ada kurang lebih 12 ribu lebih rumah yang rusak berat rumah, rusak ringan, rumah yang rusaknya sedang. Sementara data korban, meninggal dunia sebanyak 41 orang, luka ringan 226 orang, luka berat 2 orang, dan yang mengungsi sebanyak 103.301 jiwa,” imbuhnya.

Presiden menjelaskan, anggaran di Kementerian PUPR dan BNPB telah dialokasikan untuk perbaikan rumah-rumah yang rusak akibat terdampak gempa. Bantuan untuk perbaikan rumah akan disalurkan setelah menjalani sejumlah prosedur.

“Kita juga menunggu agar gempanya itu sedikit reda. Ini kalau malam saya dengar masih ada gempa kecil-kecil, begitu ya? Semoga itu cepat hilang sehingga pembangunan rumah bisa dikerjakan oleh masyarakat yang nanti dikoordinasi oleh pemerintah daerah, dengan anggarannya dari pusat,” ujarnya.

Besaran bantuan untuk perbaikan rumah warga yakni Rp50 juta untuk rumah rusak berat, Rp25 juta untuk rumah rusak sedang, dan Rp10 juta untuk rumah rusak ringan. Presiden mengatakan jumlah tersebut sama seperti yang diberikan di daerah terdampak gempa lainnya.

“Kalau ditanya cukup atau tidak cukup, terserah bapak ibu semuanya. Yang penting, yang kita lihat seperti di NTB, di Palu, dengan anggaran yang ada, ini rumah saya lihat di NTB sudah hampir selesai dan juga bisa diselesaikan. Saya minta jajaran pemerintahan di daerah seperti camat dan lurah untuk turut memantau dan mengawasi anggaran tersebut. Mengingat anggaran tersebut akan langsung diberikan kepada masyarakat terdampak gempa,” pungkasnya. (**)

 

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed