by

Persidangan ke-44, Jemaat Pniel Wayame KPAU Padukan Digitalisasi & Kearifan Lokal

AMBON,MRNews.com,- Persidangan ke-44 Jemaat GPM PNIEL Wayame Klasis Pulau Ambon Utara (KPAU) telah tuntas digelar, Minggu (6/2/22) dengan melahirkan program kegiatan, rekomendasi dan berbagai keputusan strategis lainnya.

Kesuksesan itu tidak lepas dari kerja keras panitia pelaksana dari Sektor 3 dan 4 yang dikomandoi Levi Kariuw. Hal menarik dibalik kesuksesan itu yang menjadi perhatian ialah panitia mampu lakukan terobosan dengan memadukan aspek digitalisasi dan kearifan lokal.

Dimana seluruh proses pentahapan persidangan Jemaat secara digitalisasi. Ini pertama kali dalam sejarah pelaksanaan persidangan Jemaat lingkup Gereja Protestan Maluku (GPM) dilaksanakan secara digitalisasi.

Sebelumnya, Ketua panitia pelaksana persidangan ke-44 Jemaat PNIEL, Levi Kariuw dalam laporannya menegaskan, jika dalam persiapan sidang telah dipersiapkan dengan matang melalui pra sidang.

“Proses pengkajian tema-sub tema telah dilakukan secara digital. Tidak ada materi yang disebar, semuanya dengan handphone, laptop dan dikirim secara online kepada seluruh peserta, termasuk absensi dilakukan secara google chrome, tidak ada kontak fisik, kerumunan karena menerapkan Prokes,” katanya.

Apa yang dilakukan panitia itu menurut Kariuw, sesuai dengan tema GPM yakni transformasi digital.

“Mungkin kita panitia persidangan yang pertama kali gunakan digitalisasi diseluruh jemaat GPM yang lakukan persidangan secara digital,” ucapnya.

Selain itu, panitia persidangan Jemaat GPM PNIEL Wayame juga agak berbeda karena menghadirkan konsep unik dalam pelaksanaan persidangan. Ruang Gereja yang biasanya dihiasi dengan hiasan yang identik dengan ceremoni kini berubah.

Panitia menghadirkan suasana Walang Sagu lengkap dengan pohon sagu, goti, tempat pengolahan sagu, tak ketinggalan aliran air ikut menemani.

“Salah satu fokus utama penanganan covid-19 adalah ketahanan pangan masyarakat dan kita kembalikan itu sebagai budaya orang Maluku yang sudah mulai hilang,” kata Kariuw.

Padahal, lanjutnya, pendahulu orang Maluku bertahan hidup dengan sagu dan itu hal biasa.

“Ketika masa pandemi Covid-19, orang begitu ketakutan jika terjadi PPKM, orang sibuk antri di Supermarket menimbun pangan padahal pangan lokal cukup berlimpah khususnya sagu yang prosesnya cepat dan praktis,” katanya.

Guna mengingatkan tentang ketahanan pangan, panitia sengaja mendisplay pohon sagu lengkap dengan proses pengolahannya.

“Ini untuk mengingatkan Jemaat di kota bahwa pangan lokal khususnya sagu jika dikelola profesional akan menjadi sumber ketahanan pangan handal serta mampu mendongkrak ekonomi dengan menjadikannya potensi industri bagi masyarakat Maluku,” tegasnya.

Sementara itu, Majelis Pekerja Klasis (MPK) Pulau Ambon Utara (PAU), Prof. Agus Kastanya mewakili Ketua Klasis PAU menegaskan, untuk ke 44 kali Jemaat GPM PNIEL Wayame menggelar persidangan jemaat sebagai pergumulan bersama di lima tahun kedua pengembangan GPM dalam TIK dan LIK 2016-2025.

“Pergumulan lima tahun pertama telah kita jalani. Untuk itu di empat tahun mendatang, GPM harus mewujudkan diri sebagai gereja yang melayani untuk memberitakan diri sebagai tahun Rahmat Tuhan,” katanya sebelum membuka Persidangan Jemaat.

Menuju satu abad GPM di tahun 2035, kata Kastanya, ada beberapa hal yang mesti diperhatikan yakni, pelaksanaan persidangan dilaksanakan saat dampak Pandemi Covid-19, tingginya kasus pelecehan seksual terhadap anak dan perempuan, narkotika dan bencana alam, tragedi kemanusiaan, dan kerusakan ekologi dan kenaikan suhu bumi dan perubahan iklim serta radikalisme agama.

“Dalam persidangan ini kami tegaskan agar Majelis jemaat, panitia bersama semua peserta wajib laksanakan prokes,” tegas Guru Besar di Fakultas Pertanian Universitas Pattimura Ambon ini.

Ketua Majelis Jemaat PNIEL Wayame, Pdt. L.W Laisila dalam mengingatkan jika Jemaat PNIEL Wayame memiliki gumulan selain soal pandemi Covid-19 juga pembangunan Pastori serta masalah keumatan lain yang hanya dapat dilewati dengan kekuatan Tuhan.

“Ini yang membuat umat Tuhan bergumul dan berjibaku dalam mengambil langkah penting untuk menata dan menjalankan roda pelayanan gereja sehingga aktifitas Gereja masih berjalan hingga saat ini,” kata Laisila dalam sambutannya.

Dalam melaksanakan seluruh keputusan persidangan baik program, keuangan dan rekomendasi serta sejumlah kebijakan yang pada tahun 2021 menjadi inspiratif pada sidang ini sambil tetap memiliki spirit berjalan bersama, berorientasi ke masa depan dengan mengacu Renstra tahun 2021-2025.

Menurutnya, sub tema yang diusung pada persidangan Jemaat ini merupakan perasan dari seluruh aktifitas yang akan terjadi pada tahun 2022 berdasarkan TIK dan LIK GPM serta memberi inspirasi teologi bagi umat dalam derap pelayanan sepanjang tahun 2022.

“Dengan memperhatikan sub tema ini juga tantangan secara menyeluruh yang berada pada pusaran Covid-19 dan era digitalisasi merupakan hal mendasar yang menurut kami mesti diperkuat sepanjang tahun pelayanan 2022,” katanya.

Untuk memperkuat pelayanan maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu, pembinaan keluarga, dengan mengoptimalkan Binakel setiap Sabtu malam serta memulai aktifitas buka Usbu dengan doa keluarga disetiap Senin pagi.

Berkaitan dengan digitalisasi, maka akan tercipta perilaku puffin yang mempengaruhi komunikasi dan sentuhan dalam keluarga.

“Dalam persidangan ini juga harus mencatat dan memutuskan hal-hal tersebut agar perlaku puffin dapat dihindari dalam membangun komunikasi keluarga,” kata Laisila mengingatkan.

Selain itu, penguatan kapasitas pelayan dalam hal ini Majelis Jemaat, koordinator unit, sektor serta wadah pelayanan organisasi dan badan pembantu lain mesti didorong dan dikuatkan, serta memperkuat pastoral Gereja yang mestinya dilakukan secara sungguh-sungguh dan terukur.

“Misalnya pelayanan pastoral yang lazimnya dilakukan dua kali setahun akan dilakukan empat kali dan telah dilakukan sejak tahun 2021,” katanya.

Laisila juga mengingatkan peserta sidang untuk mengoptimalkan Klinik Pastoral yang telah dijadwalkan setiap Selasa-Sabtu pukul 10.00 hingga 13.00 wit di Kantor Jemaat, optimalkan pastoral pasca pemberkatan nikah dan pasca pemakaman keluarga yang meninggal. Serta perkuat pemberdayaan keluarga terfokus pada basis data jemaat yang mesti diintervensi gereja.

“Hal ini berpengaruh pada data kuota bantuan misalnya beasiswa, bantuan bagi keluarga tertentu, bedah rumah juga kesehatan yang telah menjadi bagian tanggungjawab Gereja kepada jemaat,” katanya mengingatkan.

Sedangkan Sekretaris Camat Teluk Ambon, Idrus Buamona menegaskan jika ada tuntutan kelembagaan Gereja yang harus dieksekusi dengan dinamisasi umat yang digerak dengan progres yang begitu cepat. Maka persidangan ini jadi media evaluasi kebutuhan persekutuan dan pelayanan GPM khususnya di Jemaat PNIEL.

“Realita pelayanan jemaat GPM Wayame yang menantang dengan tingkat keberagaman tinggi merupakan kekayaan besar sekaligus tantangan bagi Gereja dan pemerintah untuk mendorong dan melakukan berbagai inovasi, kolaborasi dalam menjawab kebutuhan umat dan tantangan itu,” pungkasnya.

Diketahui, mulai dari ibadah Minggu hingga prosesi persidangan ke-44 Jemaat GPM Wayame dilakukan menggunakan liturgi etnik budaya lokal Maluku serta menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Diujung acara, ada doorprize dari Bank BNI Ambon untuk menambah semangat Jemaat GPM Pniel Wayame dalam menabung. (MR-02)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed