Nasib Masyarakat di Pulau Terluar (Catatan dari MoloMaru, Tanimbar)

Oleh : Pdt Ronny Tamaela (Ketua Majelis Jemaat GPM Wulmasa, Klasis Tanimbar Utara)

AMBON, MRNews.com,- Saya baru bertugas di Molo Maru, Kepulauan Tanimbar satu tahun. Tepatnya pada tanggal 10 Juni nanti. Senangnya saya, karena senang melakukan perjalanan jauh. Apalagi wilayah yang ada laut, pantai itu mimpi tersendiri.

Tempat tugas saya bernama Jemaat GPM Wulmasa. Jarak dan waktu tempuh untuk sampai di kampung saya itu bisa disesuaikan dengan jenis angkutan, dan kondisi alam. Rata-rata kalau kami berangkat dari Kecamatan Larat, dengan kapal motor milik masyarakat kira-kira 6 jam, itu pun lautan teduh seperti minyak.

Orang-orang yang suka perjalanan akan merasa sedang melewati surga. Menyusuri pulau-pulau kecil, menghiasi pemandangan, benar-benar kita merasakan sensasi perjalanan yang alami.

Potensi sumberdaya laut begitu menjanjikan. Isi lautan bervariasi. Ikan-ikan tidak bisa kita hitung satu-satu, pastinya melimpah ruah. Rumput laut, sia-sia (jenis cacing laut), tete ruga (kura-kura) teripang, lola, pokoknya melimpah ruah.

Disini budaya masih kuat dijaga. Bahasa Molo Maru menjadi alat komunikasi keseharian masyarakat. Hubungan kekerabatan tetap awet dilestarikan. Setiap orang baru yang datang akan menjadi bagian Duan atau Lolat. Saya diwajibkan memilih dan mengambil satu keluarga menjadi orang tua. Dengan sendirinya saya menjadi bagian dari kekerabatan itu.

Kekerabatan masyarakat di MoMar (Molo Maru), pada umumnya sama dengan masyarakat di seantero Kepulauan Tanimbar. Sopi dan kain bagkan (kain teunun Tanimbar) menjadi alat perekat hubungan. Wajib bagi seorang lolat atau duang yang berbuat kesalahan, tanpa di sengaja, harus menyediakan ke dua hal tersebut. Karena akan menjadi keperluan setiap hari bagi ritual setiap saat.

Ritual-ritual masyarakat bermacam-macam yang akan memperlihatkan bagaimana kekerabatan itu dijaga. Wajib bagi lolat dan duang terlibat bersama. Orang meninggal, kawinan, menyelesaikan permasalahan, dan seterusnya.

Keseharian masyarakat menjalani rutinitas kehidupan sangat mudah dilihat. Ke kebun atau ke laut. Hal ini terlihat sebagaimana cara pandang mereka terhadap ruang. Ke dara atau ke lau (laut & darat). Simpel saja.

‌Di Desa Wulmasa, Sopi juga menjadi komoditi yang diproduksi masyarakat pada musim timur, setelah peralihan dari Barat. Yah, sudah pasti itu akan menjadi pendapatan masyarakat di desa Wulmasa.

Hampir semua keluarga-keluarga terkhusus laki-laki memilih pekerjaan tipar kelapa. Pada musim ini akan banyak sekali sopi di setiap rumah. Kampung saya memiliki sopi yang berkualitas kadar alkohol bagus di seantero Tanimbar Utara.

Pasar mereka, biasanya ke Papua, Timika. Harganya Rp. 150-200/botol kata anggota jemaat saya. Dengan harga seperti itu, mereka bersusah payah harus membawa dengan angkutan laut. Syukur-syukur kalau lolos dari tanggapan, kalau tidak, pasti rugi. Dengan resiko itu, tidak semua orang juga jualan ke Papua. Ada juga tergantung pesanan, atau jual saja di kampung.

Hasil mereka biasanya digunakan untuk makan dan pakai kebutuhan sehari-hari. Belum terlalu cukup untuk membangun rumah layak atau sekolah anak. (Bersambung)

News Reporter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *