by

Musik “BABATU”, Harmoni Dari Pedalaman Seram Selatan

-Parawisata-215 views

AMBON,MRNews.com,- Bagi masyarakat Ulahahan yang berada didaerah pedalaman Seram Selatan paling ujung Maluku Tengah (Malteng) dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Seram Bagin Timur, tepatnya di Kecamatan Telutih, Kabupaten Malteng-Provinsi Maluku, alunan musik dan alunan kehidupan tak terpisahkan.

Musik adalah sarana hiburan sekaligus sarana alat terapi untuk menghilangkan penat, tetapi juga sebagai bahasa komunikasi yang menampilkan kesantunan anak negeri menghadapi kerasnya kehidupan.

Harmonis jika berpadu. Harmoni alam, harmoni sosial dan harmoni musik adalah keindahan yang harus diciptakan tanpa henti.

Air yang mengalir, kicauan burung, semilir angin tak pernah dibiarkan sendiri menghibur semesta, tingkah musik anak negeri Ulahahan selalu mengalun merdu lewat kreatifitas music yang selalu dinamis, mendinamisir, menginspirasi, menyemangati setiap generasi muda Ulahahan.

Musik BABATU adalah kelompok musik yang terdiri dari gabungan beberapa instrument alat musik alam dan suara manusia. Dibentuk untuk mengembangkan kreatifitas anak-anak SMTPI Jemaat GPM Ulahahan saat dunia ini dilanda wabah pandemic Covid-19 yang beranggotakan 50 orang.

Musik BABATU (Bambu, Buah, Batu, Kayu & Suara Manusia) mempunyai makna tersendiri, BABATU (malayu Ambon) artinya batuk.

Maksudnya, “janganlah sesekali kamu batuk dalam kondisi corona ditempat umum, akan muncul kecurigaan dari banyak orang terhadap kamu, yang pasti mereka akan menjauhi kamu,”.

Dampaknya adalah segala potensi untuk berkarya dan berkreatifitas baik pribadi maupun kelompok akan tenggelam (ini yang sedang kami lawan).

Musik BABATU digagas Anez Latupeirissa (Dosen Musik pada Fakultas Seni-IAKN Ambon) bersama dua rekan mahasiswa Art Nayatuen (mahasiswa Muger, Fakultas Seni-IAKN Ambon dan Domi Minaeli (mahasiswa PSM, Fakultas Seni-IAKN Ambon).

Selama beberapa bulan dimasa pandemi Corona, dari benda-benda alam (Bambu, Buah, Batu & Kayu) yang ada di negeri Ulahahan mereka menciptakan puluhan alat-alat musik, seperti Pele Vatwam (Toki Batu), Kuma Titiplam (Tiup Bambu), Kuma Bintanggor (Tiup Buah Bintanggor), Pele Awalam (Toki Bambu), Pele Nuam (Toki Buah Kelapa), Pele Ayam (Toki Kayu), Tifam Nuam (Tifa Bambu), Uku Nuam (Ukulele Kelapa) dan lain-lain.

Selain menciptakan alat-alat musik mereka juga mereka juga membentuk sumber daya manusia di negri/desa Ulahahan untuk tergabung dalam Paduan Suara Anak, Paduan Suling, Kelompok Musik Etnik dalam waktu yang relative singkat.

Sebagai hasil dari menciptakan sumber daya alam dan manusia dalam bermusic, mereka berkolaborasi bersama Ketua Majelis Jemaat GPM Ulahahan Pdt. Ny. H. M. I. Wamese dan Dokter Kecamatan Telutih dr. George Raden.

Kolaborasi dengan mencoba menampilkan karya dalam konser mini memperingati HUT ke 75 RI dengan tema “MELODI BABATU (Bambu, Batu & Kayu) UNTUK MERAH PUTIH” yang dipublikasikan lewat akun media sosial.

(Anez Latupeirissa, MSn; Dosen Musik pada Fakultas Seni-Institut Agama Kristen Negeri/IAKN Ambon).

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed