by

Merasa Dikibuli, Customer Rumah Bersubsidi Adukan Betty Pattikaihatu ke DPRD

AMBON,MRNews.com,- DPRD Kota Ambon dalam hal ini komisi III menerima aduan 10 dari 2.000 lebih costumer yang menjadi korban perumahan bersubsidi yang dilakukan Betty Pattikaihatu selaku pengembang di ruang kerja komisi, Rabu (28/4).

Mereka merasa dikibuli Betty. Bahwa selama empat tahun berjalan (2017-2021), tidak ada kejelasan soal kapan perumahan yang telah selesai dibangun sejak 2018 sebanyak 600 rumah lebih dan telah dibayar sekian persen oleh ribuan nasabah itu akan ditempati.

Roger Taberima, salah satu nasabah menuturkan, konsumen perumahan yang dilakukan Betty sekitar 2.000 lebih. Namun belum satu pun nasabah yang menempati perumahan yang telah tuntas dikerjakan. Entah apa penyebabnya.

“Kita ke DPRD untuk mengadu dan meminta agar bisa hadirkan Betty serta pihak-pihak terkait untuk menjelaskan soal masalah itu. Sebab kita sudah cari Betty untuk tanya. Namun Betty bilang itu bukan urusan antua (Betty-red), katanya itu urusan BRI. Jadi kita merasa tidak jelas,” sesal Roger.

Dalam proses pembelian rumah bersubsidi itu, kata Roger, konsumen diminta membayar DP sebesar 1 persen dari total harga rumah, yaitu sekitar Rp. 1.410.000.

Tetapi dalam perjalanannya, ada permintaan lagi dari Betty bahwa untuk kepengurusan sertifikat tanah dan sebagainya, sehingga sekitar 200 orang lebih itu kemudian menyetor hingga mencapai Rp 18-20 juta. Namun hingga kini, semuanya tidak jelas.

“Dia (Betty-red) minta untuk sertifikat katanya Rp. 9 juta lebih, kemudian air Rp. 7 juta lebih, dan sebagainya sehingga total mencapai Rp. 18-20 juta lebih yang telah disetorkan ke Betty,” ungkapnya.

Selama ini diakui Roger, customer tidak pernah berurusan dengan pihak bank. Tapi langsung dengan Betty. Urusan dengan bank hanya untuk membuka rekening.

“Sekarang yang subsidi pemerintah ini yang kita tahu itu sudah ditutup. Karena pihak bank bilang sudah ditutup karena 6 bulan tidak ada transaksi apapun dari rekening itu,” tuturnya.

Roger menambahkan, yang telah menyetor sekitar sebesar Rp. 20 juta lebih sesuai permintaan itu sekitar 200 orang lebih dan langsung diterima Betty Patikayhatu selaku pengembang.

“Semua proses transaksi pembayaran awal atas perumahan itu, diserahkan langsung ke Betty. Maka jika kami diminta persoalkan itu ke pihak BRI, justru keliru. Sebab selama berproses, kami para pembeli hanya berurusan dengan ibu Bett, bukan bank,” tegasnya.

Roger membeberkan, dua hari lalu customer telah lakukan pertemuan dengan salah satu staf pengembang yang juga kakak Betty. Namun tidak mendapat titik terang. Sebab dijanjikan untuk pertemuan ulang setiba Betty dari Jakarta.

“Padahal sebenarnya kita pengen tahu dulu apa kendalanya. Karena sekarang rumah yang sudah jadi itu sekitar 600 lebih, dan yang sudah bayar 18-20 juta sekian itu, ada sekitar 200 orang lebih,” cetusnya.

Terhadap aduan customer rumah bersubsidi itu, ketua komisi III DPRD Kota Ambon Jhony Wattimena berjanji, akan mengagendakan pertemuan bersama pengembang, pihak BRI dan BTN, serta kadis PRKP Kota Ambon guna membahas dan mencari solusi atas persoalan 2.000 lebih konsumen perumahan itu.

“Jumat nanti kita agendakan untuk rapat. Sudah kita catat semua aduan dan keluhan bapak/ibu customer. Kita harapkan dalam rapat nanti semua bisa jelas,” harap politisi Gerindra itu.

Anggota Komisi III, Lucky Upulatu Nikijuluw menambahkan, pihaknya akan seriusi persoalan ini. Karena pihak pengembang sudah melakukan wanprestasi. Sehingga harus diselesaikan.

“Saya minta bapak/ibu para konsumen agar siapkan bukti berupa dokumen, untuk nanti dibahas dalam agenda berikut bersama pengembang maupun pihak bank. Siapkan perjanjiannya. Ini juga kan program sejuta rumah Presiden Jokowi yang harus tertanggungjawab,” pintanya. (MR-02)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed