Menggapai Masa Depan Dari Batas Negara

Catatan: (Vikaris Jemaat GPM Ustutun, Bobby F. Parinussa dari Lirang)

AMBON,MRNews.com,- Selamat sore dari SMP Negeri 7 Pulau-Pulau Terselatan di Desa Ustutun, MBD. Sang Saka Merah Putih berkibar dengan elok di sekolah ini menandakan bahwa kami masih Indonesia.

Hari ini, Senin (3/6/19), 27 siswa mendengar hasil ujian bersama orang tua mereka. Patut disyukuri walaupun dalam keterbatasan tenaga guru di sekolah ini, semua siswa yang mengikuti ujian nasional beberapa waktu lalu hari ini telah dinyatakan lulus 100 % dengan hasil yang memuaskan.

SMP Negeri 7 Pulau-Pulau Terselatan adalah satu di antara SMP YPPK yang juga ada di Desa Karbubu, Wetar Bagian Barat. Ada beberapa desa terdekat seperti Ilmamau, Klishatu, Telemar, yang orang tuanya menyekolahkan anak-anak mereka di Lirang, karena di desa mereka hanya ada SD dan hingga kini belum ada SMP.

Sebelum pembacaan nama-nama kelulusan, beta sempat menanyakan seorang guru yang bertugas di sekolah ini kira-kira jumlah guru cukup atau tidak. Dengan suara yang agak menurun guru ini menjawab, bapa katong di SMP negeri 7 Pulau-Pulau Terselatan masih tambal sulam, belum ada semua guru-guru sesuai mata pelajaran yang diajarkan.

Guru yang ada di sekolah ini hanya 7 ditambah kepala sekolah, dua PNS dan sisa lainnya masih tenaga honor. Para guru ini akan mengisi kekosongan di mata pelajaran yang bukan merupakan kompetensi mereka, mau bagaimana lagi harus dibisa-bisakan jika tidak dilakukan seperti itu, anak-anak ini pasti akan ketinggalan pelajaran.

Dalam sambutannya, kordinator pendidikan di Wetar Bagian Barat, Ipus Malau mengatakan, para siswa diharapkan jangan pasrah dengan keterbatasan yang ada tapi lebih proaktif untuk belajar sendiri, apalagi sudah ada jaringan internet di Desa Ustutun seharusnya membuat anak-anak lebih proaktif menjelajahi jendela dunia dengan terus memanfaatkan kesempatan tersebut untuk belajar.

Menurut Malau, para siswa harus mempunyai mimpi untuk terus berjuang dengan terus sekolah. Pria asal Desa Karbubu itu mengingatkan orang tua supaya menabung dari hasil penjualan ikan selama tiga tahun agar kelak anak-anak ini lulus SMK atau SMA mereka bisa melanjutkan pendidikan mereka ke jenjang yang lebih tinggi.

Lanjut Malau, orang tua jangan cepat-cepat menikahkan anaknya yang perempuan, jangan hancurkan masa depan mereka hanya untuk menikah di usia dini. Anggapan bahwa perempuan setelah lulus sekolah menikah dan tempatnya di dapur itu sangatlah keliru dan mesti dilampaui.

Perlu diketahui bahwa sebagian besar anak-anak di Lirang yang bersekolah di SMP negeri 7 Pulau-Pulau Terselatan bertempat tinggal di Dusun Manoha, yang membuat mereka harus jalan kaki sejauh 9 kilo ke Desa Ustutun. Pagi-pagi buta di jam 5 pagi anak-anak ini harus bergegas ke sekolah dengan berjalan kaki agar tidak terlambat, jam segitu anak-anak di kota-kota besar masih mimpi indah di kasur yang empuk.

Dalam keadaan seperti itu anak-anak ini tetap semangat untuk pergi sekolah. Anak-anak di Wetar dan Lirang mesti melampaui stigma bahwa mutu pendidikan di pulau-pulau terluar itu sangat rendah. Mereka mesti punya mimpi yang besar untuk merubah nasib mereka di tengah lemahnya penyelenggara pendidikan yang tidak memenuhi standar nasional.

Beta selalu mengatakan kepada anak-anak di Lirang teruslah bermimpi di saat orang lain berhenti bermimpi. Teruslah bermimpi ketika suara-suara kita luput dari perhatian pemerintah. Ketika kita punya mimpi yang besar kita akan berusaha menggapainya.

Teruslah bermimpi di tengah-tengah sarana prasarana yang tidak memadai dan tenaga guru yang kurang. Sebab orang-orang seperti kita kalau tidak mempunyai mimpi pasti akan tertinggal.

Selamat bagi ke 27 Siswa yang telah lulus SMP. Tetaplah Berjuang (**)

News Reporter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *