by

Media Diajak Memahami Keragaman Gender Dalam Perspektif HAM

AMBON,MRNwews.com,- Media di Maluku lebih spesifiknya jurnalis diajak memahami keberagaman gender dalam perspektif hak asasi manusia (HAM). Ajakan itu sekaligus mendorong adanya pemberitaan lebih berimbang tentang keberagaman gender di masyarakat. Sebab posisi jurnalis sangat strategis sebagai penghubung dan menjadi titik tengah sebelum berita ditayangkan. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Ambon bekerjasama dengan Komnas HAM perwakilan Maluku menggagas forum diskusi dan workshop tentang hal itu di kantor Komnas HAM perwakilan Maluku, Air Salobar, Kamis (24/10/19).

Ketua AJI kota Ambon Tajudin Buano katakan, mendiskusikan hak pilihan seksual ini sering kali menemui hambatan besar di masyarakat karena stigma negatif yang terus dilekatkan. Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender (LGBT) kerap dipandang sebagai sebuah aib, kutukan, atau penyakit yang harus disembuhkan. Cara pandang seperti ini akhirnya membuat publik lupa, bahwa LGBT juga manusia yang memiliki hak asasi. Kondisi ini juga diperburuk dengan pemberitaan media yang tak mempertimbangkan hak asasi ketika memberitakan LGBT.

“Media sering membuat berita dari sisi isu orientasi seksual dengan mengedepankan unsur sensasional dibumbui judul bombastis. Media juga mengaburkan antara orientasi seksual dan identitas gender, cenderung melakukan stigma serta merendahkan individu yang non-conforming gender. Satu sisi karena keterbatasan pengetahuan, sisi lain karena ketidakmampuan menghargai keragaman di masyarakat. Media juga cenderung memuat berita dari luar negeri, munculkan persepsi publik LGBTI asing. Padahal LGBTI di Indonesia bagian integral dan setara di masyarakat yang perlu diperjuangkan haknya,” ujarnya.

Tujuan AJI dan Komnas HAM menggagas forum diskusi ini agar mendapatkan masukan serta memberikan input kepada jurnalis tentang keberagaman seksual agar media secara aktif dapat memperbaiki kualitas pemberitaan. “Harapannya media mampu mengurangi stigma dalam menurunkan berita isu ini dan lebih sensitif HAM dalam membuat tulisan isu keberagaman gender,” tandas jurnalis Ambon Ekspress.

Sementara Kepala Perwakilan Komnas HAM Maluku Benny Sarkol memberi apresiasi atas forum diskusi dan workshop yang dilakukan. Pasalnya kegiatan ini juga bagian dari fokus Komnas HAM. Sebab HAM sangat dijunjung tinggi dalam sebuah negara bukan karena perilaku. Karenanya ruang untuk HAM harus tetap harus diberi, itu mutlak. Termasuk dalam pendekatan keberagaman gender, media juga harus memahami benar asal dan dampaknya sebelum terpublikasi.

“Komnas HAM sangat tegas mendorong persoalan gender jadi perhatian. Sebab prinsip HAM atau kesetaraan menjadi standar bagi Komnas HAM. Diskusi ini jadi pintu masuk awal membangun perspektif gender yang tetap menjunjung kesetaraan. Sebab ketika perbedaan disoalkan maka itu bagian dari pelanggaran HAM. Namun harus kami akui, sejauh ini belum ada kasus atau laporan pelanggaran HAM yang dilaporkan ke Komnas HAM terkait pemberitaan media dalam bingkai keberagaman gender,” papar Sarkol.

Fasilitator pada diskusi itu, selain kepala kantor perwakilan Komnas HAM Maluku dengan materi keberagaman gender perspektif HAM, ada jurnalis senior Ambon Ekspress Yani Kubangun lewat materi kode etik jurnalistik dan diskriminasi berbasis keberagaman gender di media, sharing session memetakan isu keberagaman gender, bagaimana media mencovernya dan bagaimana presepsi publik; apa problem mendasar dalam pemberitaan bersama Halim Silawane dari Gaya Warna Lentera dan Madina Mansyur dari LP2B, serta mengenal SOGIE-SC dari Khairiyah Fitri Sekretaris AJI Ambon. (MR-02)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed