by

Masyarakat Diberi Sosialisasi Dampak Geothermal Terhadap Gempa Ambon

AMBON,MRNews.com,- Masyarakat kota Ambon terutama korban dampak langsung gempabumi September 2019 lalu diberi sosialisasi oleh para pakar dan ahli tentang ada tidaknya dampak pembangunan panas bumi (geothermal) terhadap gempa Ambon di Sari Gurih Beach, Lateri, Selasa (28/1/2020) sore. Hadirkan Dr Suryatini (ITB), Profesor Andreas Retruck dari Culture Institute of Jerman, Dr David Sahara (ITB) dan Dr Alvend Sugiawan pakar geologi.

Sosialisasi itu sebagai tindaklanjut dari diskusi dan dialog yang digagas Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon dan PT. PLN bertempat hadirkan para pakar dan ahli diantaranya Dr. Ferad Puturuhu (Unpatti), Dr Eng. Yunus Daud (UI), Dr Suryantini (ITB), dan Dr Alvend Sugiawan (ITB) sebagai narasumber di Kantor PLN Pusat – Jakarta, Rabu (15/1).

Pada kesempatan itu, Suryantini dari ITB yang hadir selaku narasumber sosialisasi tegaskan, pembangunan proyek Geothermal atau sumber daya energi yang berasal dari perut bumi yang merupakan sumber energi baru dan terbarukan di Negeri Tulehu saat ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan masalah gempa bumi di pulau Ambon dan sekitarnya.

Menurutnya, geothermal bisa menimbulkan gempa kecil atau mikro dengan kekuatan magnitudo 3 SR dengan kedalamannya dibawah 2 hingga 3 kilometer. Dimana penyebab regional bisa terkait kondisi geologi daerah setempat seperti adanya patahan, adanya gunung api atau adanya intrusi magma yang dangkal. Sedangkan penyebab lokal dapat berkaitan dengan proses mengalirnya fluida termal dalam sistem panas bumi seperti saat injeksi.

“Hal itu bisa terjadi, kalau geothermalnya sudah berproduksi. Sementara yang ada di Negeri Tulehu itu belum berproduksi. Dengan demikian bahwa tidak ada hubungan antara geothermal di Tulehu dengan gempa yang masih terjadi di pulau Ambon dan sekitarnya. Gempa bumi yang terjadi disana itu lebih kepada bersifat tektonik. Bergantung pada sistem panas buminya maka penyebab terjadi gempabumi di daerah panas bumi bisa bermacam-macam,” tegasnya.

Sementara, pakar geologi Alvend Sugiawan katakan, lapisan bumi yang paling dalam, terdapat lapisan bumi yang sangat panas di daerah Negeri Tulehu sehingga uapan panas dari lapisan bawah bumi berusaha mencari jalan untuk keluar dari perut bumi sehingga menimbulkan panas yang tinggi sampai pada lapisan batu dan tanah sehingga mengakibatkan panas seperti yang berada di Tulehu.

“Gempa adalah sesuatu yang alamiah, atau peristiwa alam yang mengguncang permukaan bumi seperti gempa tektonik pada dasar laut dan gempa vulkanik pada letusan gunung berapi. Daerah patoha panas bumi yang terjadi dampaknya hanya pada daerah atau lokasi di bagian patoha panas bumi tersebut sehingga dampak akan menggakibatkan gempa sangat tidak mungkin terjadi,” bebernya.

Sebelumnya, Walikota Ambon Richard Louhenapessy saat membuka sosialisasi katakan, pasca gempabumi sehingga banyak polemik di masyarakat bahwa proses alam dan bencana akibat dari ulah manusia termasuk dugaan proyek Geothermal dianggap sebabkan gempabumi terjadi. Meski lokasinya bukan di kota Ambon, namun dampak dirasakan sampai kabupaten/kota sehingga Pemkot perlu memberi pencerahan kepada masyarakat tentang gempa dan sebab-musababnya.

“Menjawab kegelisahan itu, kami merasa perlu memberi rasa aman kepada warga kota yang mengalami gempa. Paling tidak mengetahui sehingga kita bisa menjauhkan diri dari hoax, berita-berita bohong yang berseliweran banyak sekali di media sosial. Dengan mendapat penjelasan secara akurat dan tertanggungjawab dari ahlinya, paling tidak bisa memberi kita ketenangan menghadapi peristiwa itu. Bahwa harus diakui Maluku masuk dalam jalur ring api sehingga sewaktu-sewaktu bisa terjadi gempa, itu faktanya,” tukasnya.

Sosialisasi ditutup moderator Dr Ferad Puturuhu yang menyimpulkan bahwa eksplorasi Geothermal di Negeri Tulehu tidak sebabkan adanya gempabumi di Ambon karena gempa terjadi akibat proses gerak bumi sehingga peristiwa alam akan tetap terjadi yang adalah merupakan proses rotasi bumi. Kedua, sebagai jalur cincin api dan rawan gempabumi, maka penting dilakukan warga masyarakat adalah kesiapsiagaan dini dan mandiri, pahami karakteristik bencana dan mantapkan pendidikan mitigasi bencana. (MR-02)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed