by

Makanan Jadi Penyumbang Inflasi Maluku November 2019

AMBON,MRNews.com,- Makanan Jadi (mie, selai, soto, rokok putih) merupakan kelompok komoditas pertama yang menjadi penyumbang inflasi Maluku pada November 2019 sekitar 3,54 persen. Menyusul kemudian transportasi (angkutan udara) di urutan kedua, kesehatan (obat flu, tarif rumah sakit). Inflasi Maluku tersebut tercatat rendah dan terkendali.

Sementara penyumbang deflasi Maluku yakni di urutan pertama ada bahan makanan (ikan layang, kakap putih), perumahan (besi beton, semen) pada urutan kedua dan sandang (emas perhiasan, kain katun) di posisi ketiga. Sedangkan indeks harga konsumen (IHK) provinsi Maluku pada November 2019 lanjutnya, tercatat mengalami deflasi sebesar 0,8 persen atau secara tahun ke tahun mencapai 3,54 persen.

“Dengan catatan itu, inflasi Maluku di wilayah Sulampua masih tergolong rendah walaupun masih tetap lebih tinggi kalau year on year dibanding dengan inflasi nasional. Jika dilihat secara tahunan, inflasi Maluku pada November 2019 sudah mencapai 2,38 persen yang berarti masih dalam batas target yang ditetapkan 3,5 plus minus 1,” ungkap Kepala KPw BI Maluku Noviarsano Manullang dalam paparannya saat pertemuan tahunan Bank Indonesia di Santika Premiere Hotel, Kamis (12/12/19).

Pencapaian ini menurutnya merupakan kerja keras dan koordinasi yang kuat dari seluruh lembaga yang tergabung dalam TPID dan Satgas Pangan. Selanjutnya koordinasi itu perlu tetap dijaga agar inflasi pada Desember 2019 masih terkendali dengan baik ditengah naiknya permintaan jelang hari libur Natal dan Tahun Baru.

Sumber pertumbuhan ekonomi Maluku pada triwulan ketiga 2019 dari sisi penawaran menurut Noviarsano, terutama berasal dari tiga lapangan usaha yaitu lapangan usaha konstruksi yang tumbuh sekitar 7,32 persen, lapangan usaha perdagangan besar dan eceran tumbuh 7,16 persen dan lapangan usaha akomodasi, makan dan minum tumbuh sekitar 6,92 persen.

“Tingginya kinerja lapangan usaha konstruksi disebabkan realisasi pembangunan infrastruktur publik di Maluku,” jelasnya.

Hingga triwulan ketiga 2019, diakui Manullang, terdapat beberapa pembangunan infrastruktur yang masih berjalan. Dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi Maluku didorong oleh komponen-komponen lembaga non profit yang melayani rumah tangga yang tumbuh sekitar 12,19 persen dan komponen pembentukan modal tetap domestik bruto yang tumbuh sekitar 7,94 persen, dan komponen konstruksi rumah tangga yang tumbuh sekitar 4,96 persen.

“Memasuki triwulan keempat 2019, pertumbuhan ekonomi Maluku diperkirakan tumbuh menguat didalam rentang 5,42-5,82 persen. Namun demikian, kami mencatat secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi Maluku diperkirakan tumbuh pada rentang 5,61-6,01 persen (YoY). Target pada 2020p adalah 5,68 persen-6,08 (YoY). Pertumbuhan ekomomi Maluku pada triwulan ketiga ini masih lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yakni 5,02 persen,” akuinya. (MR-02)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed