by

Lomba Belang Berakhir Ricuh, Banda Protes Panitia & Juri

-Maluku-109 views

AMBON,MRNews.com,- Lomba arumbae manggurebe dalam Festival Teluk Ambon (FTA) tahun 2019, Selasa (20/8/19) berakhir ricuh dan alot pasca pengumuman hasil oleh dewan juri yang memenangkan belang Porto di urutan pertama dengan catatan waktu 52 menit 31 detik, selisih hanya satu detik dengan belang Banda 1 yang menorehkan waktu 52 menit 32 detik.

Seketika pun, pihak belang Banda melayangkan protes keras kepada panitia dan juri. Mereka beranggapan penilaian juri keliru sebab mereka yang masuk finish duluan di depan dermaga Lantamal Halong Ambon, barulah disusul Porto dan Haria di urutan ketiga. Start dari pantai Amahusu.

Pantauan media ini, perdebatan alot diantara tim Banda, panitia dan juri pun alot terjadi. Hingga bersitegang soal siapa masuk finsih pertama, proses atau aturan hingga permintaan pembuktian secara faktual maupun berdasarkan rekaman video dan drone kepada panitia maupun juri. Bersitegang belum berakhir di luar ruangan, sebab disepakati lanjut ke dalam ruangan tertutup oleh awak media yang dilarang masuk meliput, guna pembuktian melibatkan panitia, juri, perwakilan belang Porto dan Banda, pihak Lantamal dan keamanan.

Negosiasi, bedah alat bukti dan adu argumen sepanjang 1 jam tak terelakan. Hasilnya, juri tetap bersikukuh dengan keputusannya. Sementara kekecewaan dan ketidakpuasan atas penilaian juri serta kerja panitia pun dilontarkan pihak belang Banda yang baru pertama kali berpartisipasi pada FTA dengan mengirim dua belang. Ratusan warga Banda yang tidak puas pun “menyeruduk” beberapa panitia dan juri sambil menyoraki, karena dianggap panitia dan juri tak siap, tak adil dan “curang”.

“Kami minta panitia putar ulang video rekaman masuk finish. Kami tidak punya, tapi kami punya orang belang ada yang lihat langsung, itu bukti faktual ada di orang belang paling depan, bahwa kami masuk duluan Porto. Kami minta panitia punya keputusan sesuai rekaman video. Saya yakin kita masuk pertama. Sebab lepas dari JMP, kami sudah buang jauh Porto. Kalau sesuai ungkapan panitia ada IT video di kiri, kanan dan drone, bisa dikasi lihat ke kita, masalah selesai. Tidak akan ada kericuhan. Sebab selisihnya cuma 1 detik dan itu bisa diperdebatkan. Kita minta buktikan rekaman ulang. Yang paling jelas itu drone,” ujar Sabar Ramelan, orang tua belang Banda.

“Kalau nanti keputusan tetap Banda juara II, kami tidak bisa menerima. Kami tetap protes. Kalau memang ada bukti rekaman video ulang itu kami terima. Tapi kalau sepanjang bukti itu tidak ada kami mintakan juara 1 adalah Banda, juara bersama Porto,” sambungnya.

Fitra, Raja Banda Tanah Rata menambahkan, negosiasi didalam ruangan sebenarnya komporomi saja. Dan dapat disimpulkan dari hasil ini, panitia kurang siap dalam penilaian di titik finish akhir, sebab ada hal yang dirasakan kurang fair yakni video panitia kurang kuat. Pasalnya kalau panitia dan juri anggap penilaian sesuai IT, maka dimintakan video buih darat dan laut dikomparasi dengan drone. Tapi ternyata panitia tidak punya, apalagi video drone.

“Kita kecewa. Secara video, panitia tidak bisa buktikan belang mana masuk duluan. Panitia kurang siap. Kita kurang puas dengan keputusan juri. Hasil rekaman video juga tidak jelas. Sebab video dari panitia lainnya, belang Banda yang lewat buih duluan. Tapi menurut panitia katanya itu yang dikibar bendera duluan masuk finish, sehingga kita bingung mau ikut yang mana. Tidak dapat dibuktikan dengan drone oleh milik panitia maka kita belum puas dan kecewa,” ungkapnya.

Fitra menyebut panitia dan juri tidak bisa buktikan keputusan yang diambil sesuai IT, artinya pihaknya merasa dirugikan dan ada ketidakadilan. Imbasnya, dia pastikan jika model panitia dan juri tak maksimal dan profesional seperti ini maka Banda takkan ikut lagi. “Hasil komporomi dalam ruangan, belum ada keputusan. Tapi keputusan yang diumumkan juri awal itu. Kalau model panitia dan juri seperti ini, kita dengan perjuangan begitu besar harus sampai di tanah Ambon untuk memeriahkan FTA, mungkin ini untuk pertama dan terakhir kali ikut,” kesalnya.

Sementara tim juri lomba C Pesurnay mengaku saat bendera jatuh, itulah titik finish, tanpa bahas sebelum finish atau sesudah melewati finish ada. Sebab panduan pada finish yang ada gambarnya sejajar dengan bendera yang dikibarkan. Itulah yang dipegang dalam rekaman pada IT. Sebab jika diputar proses pasti ada yang tertangkap kamera dan tidak. “Semua orang bisa rekam, tapi kita panitia ada siapkan kameraman khusus. Belang itu semua tahu posisi. Tapi ada IT, juri kiri, kanan dan depan. Intinya, saya sesuai apa yang juri putuskan. Jadi maaf, kalau lainnya saya tidak bisa. Kalau ada penilaian miring dari pihak Banda terserah,” ungkapnya. (MR-02)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed