by

Kuti Kata; TAHANG-TAHANG DENG YANG ADA DOLO (Kel 15:22-27a)

AMBON,MRNews.com,- “Tahang-tahang deng yang ada dolo e” (=bertahan dengan apa yang ada dulu) merupakan ungkapan yang bermaksud mengajak/meminta pengertian baik anak-anak untuk mencukupkan diri “deng makang minong” (=makanan dan minuman) yang tersedia.

Sekaligus supaya anak-anak “seng makang balagu” (=tidak memilih makanan apa yang enak dimakan) melainkan “makang sasabarang dolo” (=makan dari makanan yang ada/tersedia), “tahang-tahang” (=bertahan) sampai lepas masa sulit seperti “musing Timor” (=musim Timur).

Ini nasehat untuk “jang mengeluh” (=tidak mengeluh).

Jadi “biar sagu deng kalapa sisi” (=walau hanya sagu dan potongan kelapa), “enbal goreng sirang teh gula” (=embal goreng dicampur teh), “nasi biji mangga deng kuah ikang” (=nasi dari biji mangga dengan ikan kuah), “tahang-tahang deng yang ada dolo” karena makanan seperti itu merupakan simbolisasi bahwa “mama deng papa su angka par tunggu Timor” (=mama dan papa sudah siapkan sebelum tiba musim Timur).

Jadi ungkapan “tahang-tahang deng yang ada dolo” turur menerangkan mekanisme “jaga-jaga” (=persiapan) sebagai mekanisme survive dari masyarakat pulau-pulau yang “dapa dua musing, Timor Barat” (=mengalami dua musim, Timur dan Barat).

Sebab itu ungkapan “tahang-tahang deng yang ada dolo” merupakan pelajaran “jaga-jaga” yang diwariskan kepada “anana dari dong masih hari ana” (=anak-anak sejak mereka masih kanak-kanak) karena “Timor barat datang sabang taong” (=musim timur dan barat terjadi sepanjang tahun).

“Tahang-tahang deng yang ada dolo” juga menjadi ungkapan saat menjamu “sudara yang datang” (=tamu) sebagai simbol dari ketulusan melayani dan ketulusan menerima pelayanan “biar deng kurang-kurang” (=walau seadanya saja).

Sebab “laeng mangente laeng” (=saling memperhatikan/mengunjungi) sudah menjadi kebiasaan “hidop orang sudara” (=hidup persaudaraan). Dan “mangente” ini menjadi kebiasaan “orang sudara” yang tinggal “beda negri” (=berbeda negeri) atau “beda pulu” (=berbeda pulau).

Jadi ungkapan itu menerangkan ajakan makan-minum karena “katong su taru apa yang ada” (=kami telah menyediakan apa yang ada pada kami) atau juga menerangkan bantuan/pemberian kepada seorang saudara agar mereka bisa menerima dalam arti “tahang-tahang deng yang ada dolo”.

Ungkapan “tahang-tahang deng yang ada dolo” mengajak kita memahami bahwa “nanti Antua tambah” (=nanti Tuhan menambahkan), karena kita tidak sekedar “tarima sa” (=menerima saja) melainkan “ada karja lai toh” (=ada bekerja juga).

Jadi “biar apa adanya dolo” (=walau bertahan dengan apa yang ada), yang lebih itu “pasti Antua tambah/kasih” (=pasti ditambahkan oleh Tuhan).

Karena itu dalam hidup ini di masa apa pun, “jang mengeluh tagal masih hidop” (=jangan mengeluh karena kita masih diberi kesempatan untuk hidup) karena itu “tahang-tahang deng yang ada dolo”.

Kamis, 17 Juni 2021
Pastori Ketua Sinode GPM, Jln. Kapitang Telukabessy-Ambon
Elifas Tomix Maspaitella (Eltom). (**)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed