by

Kuti Kata; Nanti Lia Sa (Yeh. 34:20-24)

AMBON,MRNews.com,- Terkadang “hati seng kasi bae” (=hati tidak bisa diajak kompromi) “deng tabiat yang salah-salah” (=dengan perilaku yang salah/kurang bagus), “akang biking helahai, hati lala” (=hal itu membuat gusar, lelah hati), apalagi orang-orang yang diharapkan itu “par bahodeng sa, la bahetu tar ujung pohong” (=hanya bergaya dan bicara tanpa tujuan yang jelas).

“Orang-orang bagini nih hohoritil, bajang iko mau” (=orang-orang seperti ini suka berjalan tanpa arah, menurut sekehendak hatinya).

“Nanti lia sa” (=nanti lihat saja). Ungkapan ini didasarkan pada kenyataan itu, “musti turung tangang tempo” (=harus bertindak lebih awal), “seng bisa bahela, apalai kas tinggal babanyarang tarus” (=tidak bisa berlambat, apalagi membiarkan perilaku itu beranak pinak).

“Seng bisa kas’ biar orang yang cuma hole-hole sa” (=orang munafik itu tidak bisa dibiarkan), “jadi musti poti ambe langkah” (=jadi harus ambil langkah cepat).

“Nanti lia sa”, karena “lebe bae angka tempo, daripada gantong yang konci rekeng ekor su panjang” (=lebih baik bertindak cepat daripada perilakunya tambah hari tambah buruk).

Jadi “nanti lia sa” menjadi semacam desakan dari dalam diri “par poti” (=untuk bersegera).

Jadi akan ada “orang baru” yang “dapa angka par biking bae samua nih” (=diangkat untuk membenahi semua ini). “Deng musti bagitu supaya dong jua bisa ubah kalakuang” (=dan harus begitu agar mereka juga bisa mengubah perilakunya).
“Seng bisa tahang deng tong macang bagitu, skang hidop mar orang persungutan iko blakang” (=tidak bisa tetap dengan kelakuan yang salah, nanti ibarat kita hidup diburu persungutan banyak orang).

“Akang jadi dodeso par diri sandiri deng anana cucu yang tar tau apapa” (=hal tersebut bisa menjadi jerat untuk diri sendiri dan anak cucu yang tidak tahu menahu dengan perilaku kita/tidak bersalah).

“Jadi kalu ada biking apapa yang kurang-kurang bae, ubah kalakuang tuh tempo” (=jadi jika ada melakukan sesuatu yang kurang baik, lekaslah berubah).

“Katong seng jadi hakim tuh jua, mar Antua di atas mata tar buta, talingang seng kapongke” (=kami tidak bertindak laksana hakim, tetapi Mata Tuhan tidak buta dan telingaNya tidak tuli).

Har’ Mandag, 20 September 2021
Pastori Ketua Sinode GPM Jln Kapitang Telukabessy-Ambon
Elifas Tomix Maspaitella (Eltom). (**)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed