by

Kuti Kata; Kalu Bilang Jang Tuh Jang (Kel. 20:1-17)

AMBON,MRNews.com,- “Sapa kapala batu yo kas tinggal la urus diri sandiri” (=barangsiapa keras kepala, biarkan dia mengurus dirinya sendiri), “apalai kalu su tagor ulang paleu la tar meku deng akang” (=apalagi jika sudah ditegur berulang dan tidak menaruh perhatian padanya).

“Apalai yang malawang biji ruku, tar dengar-dengarang paskali” (=apalagi yang suka melawan dan tidak dengar-dengaran).

Ungkapan-ungkapan itu dialamatkan “par orang yang tar indahkan atorang apapa satu lai, sampe Antua pung sapuluh penyuruhan lai mar dong tar meku akang” (=untuk orang yang tidak mengindahkan aturan, malah sepuluh hukum Tuhan/taurat pun tidak digubrisnya).

“Mangapa kong orangtotua suka par tagor-tagor?” (=Mengapa orangtua kita suka menegur?).

Kadangkala, “tagor tuh larang” (=teguran/menegur itu larangan). Ini bukan berarti “orangtotua suka ba’ator” (=orangtua suka mengatur), “la anana tar bebas” (=sehingga tidak ada kebebasan kepada anak),

“mar hidop nih akang atorang ada lai” (=hidup ini ada aturannya juga), “jadi sapa iko atorang dia hidop sanang. Yang tar mau iko, kalalerang” (=siapa mengikuti aturan, hidupnya senang. Yang tidak, hidupnya tidak menentu).

Jadi “orangtotua tagor tuh orangtotua ajar yang bae” (=orangtua menegur itu artinya mereka mengajari hal yang baik).

Kadang pula”tagor tuh kas’ inga” (=teguran itu juga mengingatkan), “tagal mangkali anana su salah jalang” (=mungkin anak-anak sudah salah jalan),

“jadi kas inga supaya bale, jang jao” (=jadi diingatkan agar segera kembali), “ka seng mulu paleces, jadi kas’ inga supaya rem kata-kata” (=atau mulut mengucapkan hal yang tidak senonoh, jadi diingatkan agar mengontrol kata-kata).

“Kalu seng kas inga, lupa. Kalu lupa, bisa cilaka” (=jika tidak diingatkan akan lupa, jika lupa bisa celaka).

Karena “tagor tuh par anana pung bae” (=teguran itu untuk kebaikan anak). “Jadi sapa tar tagor anana yang kapala batu, dia kas’ tinggal ana tuh maso dalang cobahan” (=siapa yang tidak menegur anak yang keras kepala membiarkan anak itu masuk dalam godaan).

“Jadi kalu su lia sein tar bagus, capat kas’ bale. Leprit dia capat” (=jadi jika sudah melihat gelagat yang tidak baik, lekaslah ingatkan untuk kembali. Cepat bunyikan sempritan).

Sebab “orangtotua yang tar pernah tagor anana tuh tar sayang ana” (=orangtua yang tidak pernah menegur anaknya itu tanda tidak sayang kepada anaknya).

“Orang pung sa katong hati lalah deng dong kong yang katong pung lai” (=anak orang saja kita pedulikan apalagi anak kita sendiri).

Jadi “kalu dapa tagor tuh turut, itu par diri sandiri pung bae” (=jadi jika anda ditegur, turutilah sebab itu untuk kebaikan anda juga).

“Jang kas’ tinggal orangtotua pung kata-kata jatuh di tanah” (=jangan biarkan nasehat orangtua keluar begitu saja).

Sebab “tar hormat orangtotua itu sama deng tar hormat Antua.” (=tidak menghormati orangtua sama dengan tidak hormat kepada Tuhan).

Jadi “kalu su bilang jang tuh jang” (=jika sudah larang, jangan melakukan).

Salamat konci usbu
Seng sadar lai su amper bulang Sambilang e

Sabtu, 28 Agustus 2021
Pastori Ketua Sinode GPM Jln Kapitang Telukabessy-Ambon
Elifas Tomix Maspaitella (Eltom). (**)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed