by

Kuti Kata; Kalalerang (Yer. 10:21)

AMBON,MRNews.com,- “Kalu su di muka tuh musti unju jalang yang batul” (=kalau sudah di depan harus menunjukkan jalan yang benar).

Ungkapan ini ditujukan kepada mereka yang “dapa angka jadi pemimpin” (=diangkat menjadi pemimpin), dan istilah “unju jalang” (=menunjuk jalan) lebih condong maknanya pada “tabiat” (=perilaku) atau “jadi conto” (=menjadi panutan/keteladanan).

“Jang unju jalang salah-salah, skang orang banya kalelerang” (=jangan memberi contoh/menunjuk jalan yang salah, banyak orang akan tersesat).

“La kalu dong sa su bagitu, skang masarakat satambong nih mau iko sapa?” (=Jika kalian sudah begitu, masyarakat banyak ini akan meniru/mengikuti siapa?).

“Dong ada di muka tuh, kalu unju jalang bae, biar kamu-kamu salimong gunung lai, katong seng kalalerang” (=Kalian ada di depan, jika menunjuk jalan/memberi contoh yang baik, walau kabut menyelimuti gunung, kami tidak akan tersesat).

“Mar skali ale dong unju jalang salah, katong samua bisa ilang dalang utang biru-biru” (=tetapi sekali kalian menunjuk jalan/memberi contoh yang salah, kami semua bisa hilang di dalam hutan rimba).

“Jang biking masarakat kalalerang, kandati cuma par skali” (=jangan membuat masyarakat tersesat di jalannya, meskipun hanya sekali), “tagal yang skali-skali tuh bisa jadi ulang-ulang” (=karena yang sesekali itu bisa berulang-ulang),

“Apalai su jadi tabiat” (=apalagi hal itu sudah menjadi perilaku), “su macang baju pas di badang” (=seperti baju yang cocok di badan).

Orang bisa juga “kalalerang” (=tersesat) jika dia melupakan hal-hal yang penting dari “pengajarang” (=pengajaran/nasehat) orangtua.

Itu sama saja dengan “su basaleng neces par pi orang broit mar lupa pasang kurkupeng di konde” (=sudah memakai baju yang bagus untuk ke acara nikahan/kondangan tetapi lupa memakai hiasan konde).

Artinya, “jang lupa apapa paskali, supaya jang kalalerang” (=jangan melupakan apa pun agar tidak tersesat).

Jadi “sagala rupa atorang su ada, tinggal mau iko ka seng” (=semua aturan sudah ada, apakah kita mau ikut atau tidak).

“Orang yang bajang lurus pasti iko” (=orang yang lurus jalannya akan mengikutinya), tetapi yang “suka coba-coba pas kalalerang baru inga la bale” (=yang suka coba-coba, begitu tersesat baru ingat dan kembali).

“Ini bukang soal nanaku, mar ini soal tabiat” (=ini bukan mengenai hal menandai suatu isyarat, ini mengenai perilaku).

“Baju kalu su kotor bisa kura, jadi jang tinggal deng unju jalang salah-salah” (=pakaian kotor bisa dicuci, jadi jangan tinggal dengan kebiasaan/menunjuk contoh yang salah).

“Lebe bae maeng Leng Kali Leng, biar pontar-pontar mar ada dapa pintu par maso” (=lebih baik bermain Leng Kali Leng, walau berputar-putar tetapi ada pintu untuk masuk),

“seng kalalerang” (=tidak tersesat) karena “samua bajang baku iko” (=karena semua berjalan beriring), “la orang muka antar babae” (=dan orang yang di depan mengantar dengan sangat baik).

Senin, 13 September 2021
Pastori Ketua Sinode GPM Jln Kapitang Telukabessy-Ambon
Elifas Tomix Maspaitella (Eltom). (**)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed