by

Kuti Kata; Jang Maniso La Jadi Enternereng Dosa (Yak. 4:1-10)

AMBON,MRNews.com,- “Orangtotua sapa yang mau kas’ tinggal anana sangsara” (=orangtua siapa yang mau membiarkan anaknya susah).

“Dong kas’ basar anana bukang deng makanang mar pasang” (=mereka membesarkan anak bukan dengan makanan melainkan nasehat).

Diantara sekian banyak nasehat, “jang iko aros dunya” (=jangan mengikuti arus dunia) merupakan salah satu yang penting, “sebab tahela deng galombang dunya salah slak la jadi enternereng dosa.

Itu mot iko, tar salamat” (=karena membiarkan diri hanyut dalam gelombang dunia, membuat kita menjadi tawanan dosa. Maut membuntuti, dan kita tidak selamat).

“Orangtotua tuh cuma mau eso lusa anana samua salamat” (=orangtua hanya mengingini anaknya kelak selamat). “Di dunya nih mau biking apa yang labe?” (=Di dunia ini, kita hendak melakukan apa?).

“Jang haga-haga la gagawang bodo-bodo, satu huri di badang tuh tar ilang sampe selamanya amin” (=jangan coba-coba lalu terlalu berani bertindak, sebab satu tanda luka di badan tidak hilang selamanya).

“Bawa diri babae, jadi enternereng dosa tuh tar untung apapa sadiki lai” (=milikilah pembawaan diri yang baik karena menjadi tawanan dosa itu tidak ada untung apa pun).

Pada pesan ini, “orangtotua jua mau eso lusa anana salamat” (=orangtua juga menghendaki kelak anaknya selamat). “Jadi ingatang.

Bisa biking sagala rupa macang dalang hidop nih, mar satu yang tar boleh deng nanala paskali tuh, biking Antua di atas marah” (=jadi ingat).

Anda bisa melakukan segala sesuatu dalam hidup ini, tetapi satu yang tidak boleh sama sekali yakni membuat Tuhan marah).

“Jadi musti sumbayang batul-batul, jang nanti hahalang su barat baru inga” (=harus berdoa sungguh-sungguh, jangan tunggu ada halangan besar baru berdoa).

“Ukur-ukur kuat skali, tagal kalu hahalang su barat di bahu, ka atiting su barat di kapala, su seng bisa angka kaki par depa graf/garap lai” (=perhitungkan semuanya, karena jika beban sudah berat di pundak atau kepala, bahkan kakimu tidak akan kuat dilangkahkan melewati selokan kecil).

“Ingatang paskali-paskali. Dosa tuh biking mata garida, hati galojo, la batonar dalang akang” (=ingatlah dengan sungguh-sungguh. Dosa membutakan mata, menarik hati, dan kita bisa bergelimang di dalamnya).

“Lalu kalu su tar inga apapa lai, dosa hela maso dalang bui la jadi enternereng tuh” (=dan jika tidak sadari apa pun, dosa menjerumuskan kita dalam penjaranya dan kita menjadi tawanannya).

“Mau kaluar? Minta ampong pas masih kuat nih” (=Mau bebas darinya? Mohonlah pengampunan selagi masih kuat saat ini). “Jang bahela, dunya nih pung aros kancang” (=jangan berlambat, arus dunia semakin kencang).

“Pegang Antua kuat-kuat, tado di buritan, la panggayo ka labuang” (=pegang Tuhan kuat-kuat, tenanglah di buritan, mendayunglah ke labuhan).

Ini pesan spiritual orangtua bahwa: “hidop nih tida, Antua sa” (=hidup ini, andalkan Tuhan saja).

Jumat, 27 Agustus 2021
Pastori Ketua Sinode GPM Jln Kapitang Telukabessy-Ambon
Elifas Tomix Maspaitella (Eltom). (**)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed