by

Kuti Kata; AKOR (Yer. 38:14-28)

AMBON,MRNews.com,- “Kalu su akor tuh musti inga, jang bale biking laeng” (=jika sudah bersepakat harus ingat, jangan nanti berbuat hal yang lain), “tagal kalu akor bagitu, musti bagitu tarus, jang akor laeng berbuat laeng” (=karena jika sudah bersepakat, harus terus demikian, jangan sepakati lain bertindak lain lagi).

Istilah “akor” itu menerangkan kesetiaan “pegang janji” dan itu yang membuat “laeng parcaya laeng” (=saling percaya), “apalai akor sampe su baku pegang tangang ka su sumpah” (=apalagi kesepakatan itu dilakukan dengan tanda berjabat tangan atau bersumpah), maka “musti pegang janji bila perlu sampe dunya linyap/kesudahan alam” (=harus setia, bila perlu sampai kiamat).

“Akor” juga menjadi tanda “masalah abis” (=penyelesaian masalah). Jadi ada kesepakatan yang “seng boleh langgar” (=tidak boleh dilanggari), karena “kalu se langgar lai itu su tar batul lai” (=jika anda melanggarnya itu sudah tidak bisa dibenarkan), dan pasti “masalah tar abis-abis” (=masalah tidak kunjung selesai), dan itu berarti “seng bisa pegang se pung kata-kata lai” (=kata-kata anda tidak bisa pegang lagi), dan itu berarti “sampe aer masing karing lai, beta su seng parcaya ale lai” (=sampai air laut kering, anda tidak bisa dipercaya).

“Akor” selalu menjadi tanda jaminan, karena “kalu beta su akor par jaga, beta jaga” (=jika saya berjanji untuk menjaga, saya menjaga), “kalu akor par tolong, beta tolong” (=janji untuk menolong, saya menolong), “akor par kase, beta kase” (=janji memberi, saya berikan), “akor par bage sama rata, beta biking” (=janji berbagi secara adil, saya melalukannya), “akor nanti beta bale, beta bale” (=janji nanti saya kembali, saya pasti kembali), dan seterusnya.

Jadi nilai luhur dari “akor” adalah kesetiaan menepati janji.

Jumat, 16 Juli 2021
Sepanjang perjalanan menuju Pusdik Rindam XVI/Pattimura, Suli – Maluku Tengah
Elifas Tomix Maspaitella (Eltom). (**)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed