Ketum & Sekjen “Kabur”, Somar Bantah Ada Intimidasi & Kekerasan

AMBON,MRNews.com,- Ketua Umum (Ketum) DPP GMNI Robayatullah Kusuma Jaya dan Sekjen Clance Teddy “kabur” dari arena forum Kongres Kemaritiman GMNI ke-XXI tahun 2019 di Christian Center. Isu yang digiring sehingga kedua pimpinan itu kabur dan belum muncul di arena Kongres sedari Minggu (1/12) malam hingga kini karena adanya intimidasi dan tindak kekerasan. Keduanya kabur saat sidang pleno Kongre akan memasuki pembahasan LPJ DPP GMNI periode 2017-2019.

Sejumlah peserta Kongres termakan isu itu. Panitia lokal (Panlok) Kongres kemudian membantah adanya intimidasi dan kekerasan terhadap kedua orang itu. Sebab kaburnya kedua pimpinan itu sebagai upaya menghindari proses laporan pertanggungjawaban (LPJ) selama periodesasi, dengan membuat intrik dan isu liar.

Ketua Panlok Kongres GMNI Sujahri Somar katakan, sebagai orang Maluku dengan perbedaan yang sangat baik menerima tamu dengan rasa hormat. Tapi ada skenario untuk ingin memainkan intrik politik sehingga dapat berdampak pada perpecahan internal organisasi.
Dimana kronologis awal, dilaporkan kesekretariatan panitia nasional bahwa ada 20 cabang siluman tidak miliki legitimasi kuat sebagai peserta delegasi di arena Kongres. Maka panitia arahkan keluar selesaikan dengan DPP.

Penjelasan 12 orang DPP diakui, 20 cabang siluman ini tidak ada legitimasi karena mereka mendapatkan SK tanpa lewat rapat pleno DPP hanya melalui Ketum dan Sekjen sepihak. Saat dilarang masuk itulah mereka ribut di depan pintu sehingga memancing 40 cabang peserta Kongres keluar dari arena diikuti lagi ketua umum dan Sekjen. Anehnya, dimainkan isu ada terjadi tindak kekerasan, panitia lokal tidak lagi objektif dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Padahal ada kepolisian yang sedari awal mengawal proses kongres.

“Bila ada indikasi, bisa dilaporkan atau koordinasi dengan pihak kepolisian apakah intimidasi dan kekerasan atau tidak. Tapi saya mempertegas bahwa tidak ada sama sekali hal itu di Kongres. Kongres hari ini kita jadikan sebagai momentum kilas balik GMNI. Apapun bentuk dinamikanya, Panlok keamanan sifatnya hanya amankan agar chaos tidak berkelanjutan. Lagipula saat Ketum dan Sekjen keluar ruangan langsung masuk ke mobil seolah-olah dikejar padahal tidak ada,” jelasnya kepada media ini, Senin (2/12/19).

Bahkan diakuinya, pendekatan persuasif yang dilakukan melalui komunikasi dengan ketua umum pun tidak direspon sama sekali untuk bertemu dan sebagainya, termasuk segera menghadirkan ketua umum dan Sekjen di arena Kongres. Sebab itu, Somar meminta siapapun tidak membangun persepsi publik seakan-akan di Ambon masih ada kekerasan khususnya di organisasi mahasiswa. Persepsi ini harus dihapus sebab orang Maluku sudah clear soal itu.

“Saat ini yang dihadapi adalah menjadi tuan dan nyonya rumah terbaik. Sebagai Panlok kami fokus untuk menyelesaikan agenda Kongres agar berjalan baik dan lancar. Kepentingan politik belum ada. Bahwa komunikasi politik untuk Ambon posisi Sekjen masih terap dibangun, tapi dalam situasi berbeda. Saya tidak mau jauh, hanya ingin suksesi ini berjalan baik,” ungkap Somar.

Siapapun yang terpilih nantinya itu kemudian, sebab tujuan cabang Ambon adalah kota Ambon menjadi tuan rumah yang baik bagi para tamu. Fokusnya adalah suksesi Kongres berjalan baik.

“Jelas upaya ketua umum dan Sekjen untuk hindari LPJ. Sebab kita tahu sendiri dinamika di DPP sudah setahun tidak pernah melakukan rapat-rapat pleno serta kerja organisasi secara nasional tidak konkrit. Itu upaya mengaburkan situasi, menghindar. Jangan tidak mau hadapi kenyataan lalu membuat situasi kacau, dengan menyebar isu-isu tidak benar. Ini kepemimpinan ketua umum dan Sekjen terburuk kalau demikian adanya,” tegasnya. (MR-02)

News Reporter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *