by

Kemerdekaan Belajar Dimasa Pandemi COVID-19

-Opini-348 views

Ditulis oleh : Dewi Intan Puspitadesi, M.Psi.,Psikolog dari Sumbu Pakarti)

AMBON,MRNews.com,- Pandemi COVID-19 ini berpengaruh terhadap segala aspek kehidupan manusia. Pandemi membuat perubahan terjadi dengan cepat dan harus dilakukan dalam waktu singkat. Jelas ini membuat kita siap atau tidak siap harus siap menghadapinya.

Kita dipaksa untuk berubah, baik perubahan pola/gaya hidup dan juga sistem diberbagai sektor kehidupan, termasuk pendidikan.

Setelah pemerintah Indonesia memproklamirkan diri berada dalam keadaan tanggap darurat COVID 19, pendidikan kita otomatis merubah sistem belajar dari tatap muka menjadi belajar di rumah saja melalui metode daring atau pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Kita sadar bahwa tak semua sekolah, terkhususnya guru yang siap dengan pola PJJ. Jadi, jika sekolah dan guru saja belum siap dengan PJJ ini, lantas bagaimana dengan siswa didik mereka? Mungkin siswa didik pun belum siap dengan kondisi ini.

Diawal pandemi, guru-guru yang tidak siap menjadi bingung dengan apa yang harus mereka lakukan untuk mengajar siswa didiknya. Solusi yang terpikirkan hanya memberikan soal-soal ke siswa didik. Soal-soal diberikan tanpa ada penjelasan sebelumnya.

Lantas siapa yang menjelaskan?. Ya tentu saja orangtua diminta terlibat mendampingi anak-anak dalam belajar. Sementara tidak semua orangtua memiliki kemampuan yang sama dan waktu yang luang untuk mendampingi anak-anak mereka dalam belajar di rumah saja.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim, dalam VLOG-nya pun pernah menjelaskan, pada masa seperti ini perlu adanya kreatifitas pendidik dalam mengajar daring. Nadiem sejak awal menjabat sebagai Menteri selalu menggaungkan kemerdekaan belajar. Mungkin benar, ini menjadi masa yang tepat untuk mulai menerapkan kemerdekaan belajar yang dimaksud.

Lantas seperti apa sih kemerdekaan belajar yang selalu disuarakan Nadiem? Apakah guru-guru memberikan soal-soal pada siswa didik sudah bisa dikategorikan sebagai merdeka belajar? Atau apakah membiarkan siswa didik belajar sendiri dan mencari penjelasan materi belajar sendiri dari internet?.

Tentu saja ini bukan murni kesalahan para pendidik, karena bisa jadi para pendidik pun dalam posisi bingung dengan apa yang harus dilakukannya dimasa pandemi ini. Sebab tidak hanya siswa yang dihadapkan pada tantangan besar, tetapi para pendidik pun dipaksa berubah dan berpikir kreatif.

Beberapa waktu lalu, kita mulai bisa terbiasa dengan istilah wisuda online dan wisuda drive thru. Kegiatan ini menjadi tantangan besar bagi siswa didik yang lulus ditahun ini, maka demikian dengan para pendidik.

Para pendidik diajak Menteri Nadiem mulai menyiapkan kurikulum yang kontekstual yang lebih bisa diaplikasikan dimasa pandemi ini, tidak hanya sekedar text book seperti yang selama ini mereka lakukan saat belajar tatap muka.

Kurikulum kontekstual ini menjadi pintu gerbang menuju kemerdekaan belajar. Lantas kurikulum kontekstual itu yang seperti apa?. Kurikulum kontekstual disesuaikan dengan kondisi siswa didik dalam kehidupan sehari-hari. Kurikulum kontekstual dirancang dengan tujuan siswa didik bisa belajar berbagai macam hal yang ada di lingkungannya.

Sebagai contoh, siswa bisa belajar mengenai batik selama 2 minggu, dimana siswa diajak untuk mencari tahu segala info mengenai sejarah batik hingga kepada proses pembuatan batik dan diakhir pembelajarannya siswa didik diminta untuk melakukan evaluasi dan refleksi dari apa yang dipelajarinya.

Kurikulum kontekstual tidak sekedar berbicara mengenai pengetahuan yang didapatkan tetapi juga karakter yang terbentuk pada anak, dari kegiatan evaluasi dan refleksi. Ki Hajar Dewantara pun sering menyerukan mengenai setiap orang adalah guru dan setiap rumah adalah sekolah, artinya kita bisa belajar dimana saja, kapan saja dan dari siapa saja.

Sayangnya, konsep seperti ini tanpa adanya pembinaan atau pembekalan pun akan menjadi sia-sia. Oleh karena itu, perlu campur tangan langsung dari pemerintah untuk mengadakan pembekalan khusus bagi para pendidik untuk bisa menyusun kurikulum kontekstual sehingga kemerdekaan belajar bagi anak bisa terbangun.

Memang, inilah perjuangan belajar dari rumah aja. (**)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed