KAPITANG GAME KAPITANG: Renungan 202 Tahun Pattimura (2)

Oleh : Pendeta Elifas Tomix Maspaitella, MSi (Sekum MPH Sinode GPM)

AMBON,MRNews.com,- I. KOLABORASI TUA MUDA, LAKI-LAKI PARAMPUANG

Perang Pattimura merupakan salah satu perang terhebat di Nusantara di era 1800-an. Pada masa itu, pertarungan kekuasaan antara Britania, Prancis, Belanda cukup alot di dataran Eropa dan berdampak di semua wilayah jajahan mereka. Setidaknya pada 1802, daerah Maluku dikembalikan Britania ke Belanda sesuai Perjanjian Amiens.

Penyebutan itu penting, sebab Thomas Matulessy adalah seorang tentara yang dilatih tentara Inggris. Namun bila ia memimpin perang di Saparua, bukan meneruskan dendam Inggris terhadap Belanda, melainkan perlawanan anak-anak Maluku terhadap penjajah. Defenisi itu harus dipertegas untuk memastikan bahwa Maluku itu negeri anti-monopoli, anti-kolonial/neokolonial. Maluku negeri damai, negeri kaya untuk semua.

Pada kesempatan ini, beta mencoba belajar dari satu hal yang mungkin saja sengaja beta tafsir dengan kacamata pribadi. Tetapi beta yakin, semangat itu dahulu ada malah menjadi alasan mengapa kapitang-kapitang perkasa dari tanah Ambon, Haruku, Nusahulawano, mau bergabung dalam Perang Pattimura.

A. ULUPAHA KAPITANG BASAR DARI NUSA APONNO

Setidaknya, saat Perang Pattimura, Thomas Matulessy telah berusia 34 tahun. Ia masih sangat muda, dan berani tampil memanggil kapitang-kapitang besar di Nusa Aponno (Ambon), Haruku dan Nusahulawano (Nusalaut) untuk bergabung melawan Belanda.

Heroika orang muda ini menjadi penting, dan harus dijadikan nilai kepemimpinan bagi Jujaro-Mungare, Mahina-Malona Maluku.

Bukang kapitang kalu darah seng mandidih
Hitu tanah pono hikayat
Tulukabessy hokmat kuat
Ulupaha kapitang basar
Hitu itu kerajaan
Seith itu negeri kuat
Darah kapitang mandidih
Tungku-tungku manyala bara
Beta api dari Nusa Aponno
Pontong manyala dari leihitu

Pada perang Pattimura, Ulupaha telah berumur 80 tahun. Ia memimpin pasukannya bergerilya di hutan-hutan, dan setelah Duurstede jatuh (1817), Ulupaha melanjutkan perjuangan menyerang Benteng Belanda di Larike (15 Oktober 1817).

Jang bilang beta tua
Panggel beta kapitang
Beta umur nai badang
Mar bisa balumpa baku tikang
Beta di muka pasukan cakalele
Beta di tengah par huele
Beta di balakang mar jang pele
Beta Ulupaha
Panggel beta kapitang

Ulupaha jualah, setelah Thomas Matulessy ditangkap, meneruskan semangat melawan Belanda sampai ke Pulau Seram. Ia bergabung ke Luhu, Seram Barat, dan merebut benteng Belanda di Luhu. Namun pada Januari 1818, Belanda kembali merebut Luhu dan Ulupaha ditangkap dan dibawa ke Benteng Victoria di Ambon lalu dihukum mati pada 19 Februari 1818, di tempat yang sama, di mana Thomas Matulessy dihukum pula (18 Desember 1817).

Ulupaha, Kapitang itu berperang di usia tuanya. Perjuangannya memberi semangat kepada rakyatnya. Dalam sakitnya, walau ditandu, ia tetap bergerilya. Dan di situlah kesetiaan rakyat kepada pimpinannya. Nilai ini yang harus ditanamkan di sanubari kita.

Maluku, bangkitlah!
Kapitang su di muka
Jang talesu la jadi takisu
Kabaresi cikar jua

B. MARTHA CHRISTINA TIAHAHU, KAPITANG NUSAHULAWANO

Bila Thomas Matulessy berumur 34 tahun dan Ulupaha 80 tahun saat perang Pattimura, Christina Martha Tiahahu, perempuan Abubu, Nusalaut itu “muda ba’aer”, 17 tahun.

Lahir di Abubu, 4 Januari 1800, berjuang saat remaja bersama Papanya, Kapitang Paulus Tiahahu. Ia berada di tengah pasukannya, dan melawan Belanda dari Nusalaut, Haruku, sampai di Saparua (Ouw dan Ullath).

Dalam semangat para kapitang, ia turut membantu Anthony Reebok, atas perintah papanya, dalam perlawanan di Haruku dan Saparua. Ia ada di mana saja.

Martha Christina Tiahahu
Beta pung nama itu mantra
Panggel beta parampuang
Beta gulung kaki kaeng
ika rambu deng berang
Beta pung nama itu mantra
Jang kira beta takotang sombar
Beta game gunung samua tundu
Beta inja tanah, pulu-pulu tasambung
Beta ada di utang
Beta ada di lautang
Beta ada di negeri
Beta ada di meti
Beta pung nama itu mantra
Martha Christina Tiahahu
Ingatang itu!!

Kobaran semangat perempuan remaja ini memastikan bahwa sejak dahulu, laki-laki dan perempuan di Maluku memainkan peran keseimbangan untuk memperjuangkan kebebasan dan harmoni.

Kebebasan, karena penjajahan, monopoli, perampasan hak rakyat bukan watak kepemimpinan Maluku. Kepemimpinan Maluku itu bela rakyat, belarasa, jaga rakyat, jaga tanah, jaga negeri.

Monopoli bukan watak hidop orang Maluku. Watak kita ialah “barbage”, masohi, maren, sosoki. Ale dapa, inga sudara. Ale makang, buka tampa garang.

Harmoni, sebab Maluku itu kesatuan laki-laki perempuan, kesatuan atas-bawah, kiri-kanan, muka blakang.

Martha Christina Tiahahu tampil sebagai bukti Maluku anti-dominasi, anti-tirani gender. Maluku itu satu, setara, adil, tagal di samua pulau ada hasil.

II. PULAU GAME PULAU

Oleh semangat Perang Pattimura, Saparua, Haruku, Ambon, Seram, Nusalaut, dan semua pulau di Maluku bisa bersatu.

Ini bukan soal adanya musuh bersama (common enemies) melainkan panggilan bersama untuk menjaga kedaulatan diri dan tanah tumpah darah. Kedaulatan atas hasil alam dan menentukan nasib untuk sejahtera, makmur, berdamai.

Beta menangkap pesan keterlibatan kapitang-kapitang dari Nusahulawano, Haruku dan Ambon ke dalam perang Pattimura sebagai kuatnya koneksi untuk bersatu menjaga sumber daya dan memastikan bahwa pengelolaannya harus berdampak pada kesejahteraan rakyat.

Monopoli adalah kosa kata yang melekat pada ekonomi kapitalis yang sempat mendunia karena berhimpit dengan kolonialisme. Mungkin saja itu tidak sesuai dengan “ekonomi masohi, maren, sosoki, ma’ano, badati” sebagai semacam sistem ekonomi tradisional di Maluku.

Bila ini dimaknai dalam suatu sistem ekonomi kerakyatan yang modern dengan memaksimalkan koneksi Provinsi, Kapupaten, Kota atas panggilan bersama untuk kedaulatan ekonomi daerah, beta yakin kitalah yang memastikan kesejahteraan, keadilan, kejayaan itu menjadi milik kita.

Beta angka suara bukang tagal tar ada
Sagala harta benda ada di dara di lao
Murkele itu di balakang,
Sagala harta benda ada
Laut Banda itu si muka,
Sagala harta benda ada
Jang buang-buang suara kalu tar ada
Tagal ada beta buka suara

He’e nih!

(bersambung)

News Reporter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *