by

Kapata & Romansa, Buku Curahan Rasa Penuh Cinta Hadir Dimasa Pandemi

-Maluku-388 views

AMBON,MRNews.com,- Ditengah masa pandemi COVID-19, sebuah buku dengan obituari berisi curahan rasa berupa kumpulan esai, cerpen, curhat dan antologi puisi dari 50 penulis dengan 60 karya yang memiliki impresi bagi Glenn Fredly Deviano Latuihamallo, musisi kebanggaan asal Ambon-Maluku, “Kapata dan Romansa; Merayakan Hidup Dengan Menebar Cinta” hadir menyapa pembaca.

“Glenn telah menebar cinta lewat karya. Demikian pula para penulis yang terlibat dan dilibatkan dalam karya ini sebenarnya sementara menebar cinta sekaligus mengajak pembaca juga menebar cinta. Buku ini diharapkan jadi pelopor bagi generasi kedepan agar yang tertulis akan tetap abadi,” kata salah satu penyunting Hesky Lesnussa yang turut diamini Fridolin Kwalomine saat soft launching via virtual, Sabtu (20/6).

Penyunting lain, Amie Chriswanto mengaku, buku ini spesial karena muncul menyapa pembaca saat pandemi dan jadi yang pertama hadir pasca meninggalnya Glenn. “Buku ini setebal 262 halaman, berisi 12 esai, 13 cerpen, 22 curhat dan 9 antologi puisi,” ungkap Amie.

Dalam soft launching, Gubernur Maluku Murad Ismail mengaku, sosok Glenn Fredly jadi kebanggaan masyarakat Maluku. Glenn pribadi yang baik. Itulah yang membuatnya begitu respek dan simpati dengan sepak terjang Glenn baik didunia musik maupun selaku pegiat sosial, kemanusiaan dan perdamaian.

“Jejaknya itu akan tetap hidup dihati orang banyak. Sebab Glenn berjiwa sosial yang humanis. Memang lagu-lagu Glenn yang romantis dan galau tak pernah cocok dengan saya yang optimistis, tapi jejak yang ditinggalkannya selalu dikenang dan menjadi inspirasi generasi muda Maluku,” tukas mantan Kapolda Maluku.

Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Tiongkok dan Mongolia Djauhari Oratmangun bercerita, bersama Glenn dirinya sering diskusi banyak hal dari musik hingga soal Ambon, Maluku dan kemanusiaan. Bahkan sebelum meninggal, Glenn sempat mengirim WhastApp dengan pesan-pesan yang mendalam dan penuh makna.

“Saya berterima kasih kepada penyunting atas karya ini yang bisa dibaca keluarga sebagai warisan terutama bagi putrinya dan generasi muda Ambon, Maluku bahwa kalau ingin seperti Glenn pasti ada jalan dan punya kemauan tinggi. Glenn sosok biasa yang selalu lahirkan karya-karya luar biasa,” sebutnya.

Walikota Ambon Richard Louhenapessy mengapresiasi para penyunting yang menggagas soft launching buku ini. Semangat Glenn semasa hidup untuk buktikan Ambon sebagai kota musik dunia sama sekali tidak redup ditengah masa pandemi yang sementara dihadapi.

“Sejarah mencatat, konferensi musik Indonesia pertama kali dilakukan di Ambon dan sumbangsih itu datang dari Glenn dalam mendorong UNESCO menjadikan Ambon kota musik dunia,” kenangnya.

Tokoh muda Maluku di Jakarta Michael Wattimena mengagumi Glenn bukan saja musisi tapi sebagai orang yang visioner dan berdedikasi. Terlihat dalam pergerakan save Aru Island di Dobo-Maluku, Bali tolak reklamasi, Ema Bergerak, penggiat petisi Ambon kota musik. Semua demi mempertahankan semangat identitas daerah, kebudayaan dan hak-hak dasar.

“Ini harus jadi motivasi bagi generasi muda. Berkontribusi dalam buku ini jadi penghargaan dan kesempatan emas bagi saya menelorkan ide dan gagasan ditiap perjumpaan bersama Glenn. Semoga adanya buku ini, banyak orang terilhami dan tergerak mengadopsi roh perjuangan seorang Glenn Fredly bagi kemaslahatan orang banyak,” harap Wattimena.

Sementara, koordinator Jaringan Islam Anti Diskriminasi dan Gusdurian Jatim Gus Aan Anshori berandai, jika rumah ibadah seperti Gereja dan Masjid tidak bisa menjadi alat pemersatu, Alkitab dan Alquran juga tidak bisa mempersatu orang untuk sama-sama memahami soal kemanusiaan, maka biarlah nyanyian Glenn dan seni yang mempersatukan banyak orang.

“Saya agak protes kalau Glenn dianggap sebagai satu-satunya milik basudara di Ambon, Maluku, milik orang Kristen tapi sebenarnya dia juga milik orang Islam, orang NU yang ada dalam satu nafas bersamanya. Glenn itu unik, karena lewat dia kita memahami musik bisa jadi alat pemersatu perbedaan,” kisah Ansori.

Bahkan diakui, Glenn tidak pernah absen dalam peringatan Haul Gusdur di Ciganjur. Maka bagi kaum Nahdilyin, Glenn itu Gusdurian sejati. Sebab dia rendah hati dan menganggap sosok yang berbeda agama jadi salah satu inspirator yakni Gusdur. “Menarik. Ini bisa jadi pegangan dan bermanfaat bagi orang lain lewat dan jejak kemanusiaannya,” ungkapnya.

Bagi Direktur Ambon Music Office (AMO) Ronny Loppies, berbicara Glenn tak ada habisnya. Sebagai inisiator bersuara emas, humble dan berkarakter. “Buku ini terbilang fenomenal karena lahir kala Pandemi. Membuat kita terkenang sosok Glenn Fredly dan berharap akan muncul Glenn baru dari Ambon untuk memperkaya khazanah musik Indonesia,” tukasnya. (MR-02)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed