by

KutiKata: KAPALA MALAWANG (Bil. 16:30-35)

AMBON,MRNews.com,- “Jang talalu biking punya-punya, skang tatumbu la helahai” (=jangan melakukan sesuatu sekehendak hatimu, karena begitu kena masalah, susah; helahai adalah ungkapan yang menerangkan kesusahan seperti orang sulit bernafas).

Karena itu “jang batingkah” (=jangan bertingkah), karena “susah tuh datang seng pake undang” (=kesusahan datangnya tanpa diundang).

“Kandati ale kuat, mar jang mamancang la slak jatuh sang orang makang pisang rubu-rubu” (=walau anda kuat, tetapi jangan terlalu gegabah, karena tanpa alasan bisa saja jatuh seperti orang yang tidak punya daya apa-apa; pisang rubu-rubu adalah istilah yang menerangkan seseorang yang lemah dan tiba-tiba terjatuh tanpa ada yang menjatuhkannya).

“Kalu tar dengar-dengarang, la Kapala malawang, awas jang malu la karsang karuru sondor tau apapa” (=bila tidak dengar-dengaran, suka melawan, hati-hati jangan sampai malu seperti orang yang tanpa sadar celananya melorot).

“Ingatang! Kapala malawang tuh tabiat anana alus-alus yang balong tau dunya” (=ingat! Suka melawan itu sifat anak kecil yang belum mengerti apa-apa), jadi apa yang mereka lakukan itu “dong tar tau akang arti” (=mereka tidak tahu artinya).

“Jadi jaga jang mulu babanting tar ada not” (=jadi jaga jangan sampai berbicara tanpa arah), karena “orang kapala malawang tuh, barsungut tar brenti” (=orang yang suka melawan, bersungut tiada henti).

“Lo padahal ada tar kurang apapa” (=padahal tidak ada kekurangan suatu apa pun), namun karena “apapa sadiki bersungut” (=sering bersungut) maka “tar mau dengar-dengarang sa orang lai” (=tidak mau dengar/hormati siapa pun).

“Tagal mulu haringang babanting, lidah basumpah pung kuat apa lai jua e” (=karena suka bicara tanpa arah maka sering bersumpah sia-sia). “Tar anging tar ujang, alas lidah deng basumpah” (=tanpa alasan, suka bersumpah sia-sia).

Jadi “tatumbu apapa, bukang kaca diri mar kas salah Antua Basar lai” (=ketika sesuatu menimpa, bukannya mengoreksi diri malah Tuhan pun disalahkannya).

“Tagal biking diri batul, la nekat malawang sampe aer masing karing” (=karena menganggap diri sendiri paling benar, dia berani melawan sampai laut kering).

“Mi kalu bagitu, nangko Tuhan datang boleh kapa baru dia stop malawang” (=dalam keadaan seperti itu, mungkin jika Tuhan datang baru dia berhenti melawan). “Orang bagitu bukang, tagor tar kuat” (=orang seperti itu sulit ditegur).

“Kapala malawang nih akang pung hal alus-alus ada lai” (=sifat suka melawan itu ada pula pada hal-hal yang kecil) seperti “minta tulung orang tatua, inga barmaeng” (=diminta menolong orang tua, tetapi lebih suka bermain), “suruh manyapu kintal, kung-kung la bakanor” (=disuruh menyapu halaman, menggerutu).

“suruh nai tidor siang, goso kaki la babengkeng” (=disuruh tidur siang, banting kaki dan marah-marah), “suruh balajar, alasan rupa-rupa” (=disuruh belajar, alasannya macam-macam), “bilang par bae nih, tar turut” (=diajar untuk hal baik tidak mau menurut).

Jadi “kalu malawang, eso lusa jang manyasal” (=jika melawan, jangan menyesal di esok lusa) “la tatumbu susah kas’ salah orang laeng” (=lalu menyalahkan orang lain). “Su kas’ inga deng tempo nih, jang malawang akang” (=sudah diingatkan awal, jangan melawannya).

Ahad, tanggal Sapultiga Bulang Anam taong duaribu duapul satu (13-6-2021)
Pastori Sinode GPM Jln. Kapitang Telukabessy-Ambon, Pendeta Elifas Tomix Maspaitella… (**)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed