by

Harmonisasi Pilkada Maluku Perspektif Sufisme

AMBON,MRNews.com,- Pemilu kepala daerah (Pilkada) Maluku kali ini, terdapat tiga calon yang resmi berupaya memenangkan hati masyarakat Maluku. SANTUN, BAILEO, dan HEBAT adalah jargon yang memiliki makna filosofis tersendiri, hadir membawa Maluku menjadi lebih maju lagi. Begitulah harapan semua lapisan masayarakat Maluku yang dikenal sebagai masyarakat dengan tingkat toleransi tinggi dalam bingkai nilai kearifan lokal, hingga kini pun masih tetap lestari. Wujud nyata dari kondisi masyarakat Maluku tersebut, melahirkan optimistis tersendiri bagi kita untuk melihat pilkada Maluku yang harmonis.

Tanda Keindahan

Pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Istana Negara 2015 lalu, KH Hasyim Muzadi dalam ceramahnya menjelaskan juga tentang membaca tanda alam menggunakan mata, pikiran, dan hati, tentu disertai dengan kehalalan berpikir dan bertindak. Berdasarkan pandangan itu pula, probabilitas setiap peristiwa dalam kehidupan ini mampu diprediksi dengan akurat, tentu bagi mereka yang telah mencapai maqom (tingkatan) spiritualitas dalam Sufisme. Pandangan ini mendasarkan bahwa dunia dengan segala isinya mempunya pola simetris, dengan demikian dapat terbaca dengan tiga instrumen di atas.

Untuk manusia yang masih jauh dari maqom spiritualitas, kita diberi kesempatan untuk membaca tanda alam ini dengan mata dan pikiran. Allah SWT menggunakan padanan kata “apakah kamu tidak berpikir” secara berulang-ulang, untuk menggugah perspektif kita pada keindahan alam semesta. Pilkada Maluku termasuk di dalam tanda-tanda alam bagi orang yang berakal, ada harmonisasi di sana, sebagai orang Maluku, saya melihat terdapat bentuk keindahan dalam proses pilkada kali ini. Lantas saat ini, bagaimana kita membaca harmoni alam pilkada Maluku?

Harmonisasi Pilkada

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan harmonisasi sebagai pengharmonisan atau upaya mencari keselarasan. Harmoni sendiri berarti pernyataan rasa, aksi, gagasan, dan minat. Sementara dalam dunia musik, yang dimaksud dengan alat musik harmonis adalah alat musik yang digunakan untuk memainkan harmoni, maka ciri-cirinya yaitu dapat memainkan tiga nada atau lebih secara bersamaan.

Subtitusi dari pengertian di atas, saat ini kita mempunyai tiga kandidat yang akan bertarung di pilkada Maluku 2018. Tiga kandidat dianggap mampu melahirkan harmonisasi dalam ruang kontestasi demokrasi di Maluku. Ada Gambus sebagai analogi SANTUN, selain Biola pada BAILEO, dan Piano yang diwakili oleh HEBAT. Bunyi yang diperdengarkan dari demokrasi di momentum pilkada Maluku sungguh kaya akan harmoni, transformasi harmoni semacam ini hendaknya dijaga dengan seimbang.

Makna Sufistik Pilkada

Mewakili setiap alat musik, getaran yang dihasilkan oleh petikan dan gesekan pada dawai perlu mengikuti tangga nada yang tercatat di hadapan setiap pemain musik di Pilkada Maluku. Tidak boleh ke luar dari kunci yang telah diberi. Supaya harmoni jangan terdengar fals, para pemain musik harus dipimpin oleh Komponis yang dalam hal ini adalah Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu).

Lalu bagimana berbagai pihak keamanan yang secara eksplisit menyatakan diri bersikap netral di pilkada? Mereka juga adalah alat musik yang membentuk totalitas keindahan dari tiga alat musik harmoni yang telah disebutkan. Suling dan Ney, masing-masing mewakili Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Tiupan yang dihasilkan haruslah saling mengawin dengan alat musik harmoni, sesuai notasi balok yang ada. Haruslah indah sesuai komposisi, jangan sampai tiupan yang dihasilkan seperti tiupan sangkakala malaikat Israfil sebagai penanda kiamat, hanya kehancuran dari keindahan yang telah ada.

Sebagai Suling, TNI membunyikan dirinya saat lagu mencapai reffrein. Lain dengan Polisi yang harus terus mengawal proses pilkada, Polisi adalah Ney (baca: nie). Ney merupakan alat yang digunakan oleh para Darwis dari aliran Mawlawiyah selama melakukan gerakan berputar dalam tarian Sema, Ney terus dibunyikan. Aliran Sufi ini dilahirkan oleh Jalaludin Rumi, asal Balkh di Samarkand, sekarang masuk wilayah Uzbekistan. Rista Dewi Opsantini (2014) menulis dalam jurnal Seni Tari di Universitas Negeri Semarang dengan judul “Nilai-nilai Islami dalam Pertunjukan Tari Sufi pada Grup Kesenian Sufi Multikultural Kota Pekalongan”, menjelaskan asal mula Ney yang secara filosofis memiliki makna yang dalam. Suling di Indonesia sendiri berarti eling (ingat), sementara Ney yang juga terbuat dari pohon bambu, melantunkan suara yang mendayu-dayu menyayat hati melambangkan jiwa manusia yang menjerit dan tersiksa karena jauh dari sang Khaliq yaitu Allah SWT. Oleh karena itu pada saat kita mendengarkan suling mendayu-dayu hendaknya sadar dan merasakan bahwa kita tidak akan terpisah dengan Allah dan ingat bahwa ada kehidupan yang kekal dan bahagia hanya dapat dicapai dengan amal ibadah sebanyak-banyaknya.

SANTUN, BAILEO, dan HEBAT sebagai alat musik harmoni. Dipadu dengan TNI dan Polri sebagai alat menjiwai demokrasi, yang dipimpin oleh KPU dan Bawaslu, sejatinya adalah transformasi nilai sufisme dalam ruang demokrasi Maluku yang sangat harmonis.  Dalam hal ini, bukan sekedar teologisasi makna budaya. Melainkan lebih menjiwai dari kacamata ikhtiar dalam membaca tanda simetris kehidupan Maluku yang akan melakukan proses demokrasi dalam interval beberapa bulan ke depan yang di dalamnya terdapat bulan suci ramadhan. Sungguh indah proses Pilkada kali ini.

Tentu makna sufistik bukan hanya dalam bingkai Mawlawiyah saja, masih banyak perspektif arif dan bijaksana yang bisa digali dari situasi yang sedang kita hadapi di Pilkada Maluku saat ini. Harapan besarnya, semoga alat musik dalam Pilkada Maluku mampu mengahasilkan kesadaran bagi masyarakat Maluku secara totalitas, bukan hanya umat Islam, tetapi semua umat beragama. Keadaan demikian sangat mungkin tercapai karena Ney, dalam hal ini Polri mampu menjaga netralitas melalui 13 Pedoman Netralitas Polri. Singkatnya, Polri harus menjadi wasit yang baik. Didukung oleh TNI yang senantiasa ada sebagai tanda yang memberi peringatan bagi jalannya proses demokrasi yang harmoni, sebagaimana makna eling sebagai ingat. (**)

Oleh Daim Baco Rahawarin, S.Sos

(Ketua Wilayah GP Ansor Maluku)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed