by

Gereja Komitmen Terapkan Disiplin Protokol Kesehatan

-Agama-126 views

JAKARTA,MRNews.com,– Penerapan protokol kesehatan dimasa pandemi berlaku tak hanya diruang publik seperti pusat bisnis atau perkantoran, tetapi juga gereja sebagai tempat ibadat. Organisasi gereja telah berkomitmen untuk mendukung pemerintah dalam memutus mata rantai penularan COVID-19.

Gereja Katolik melalui Konferensi Waligereja Indonesai (KWI) sangat mendukung Kementerian Agama (Kemenag) bahwa kegiatan keagamaan maupun tempat ibadat menjadi contoh dalam penerapan disiplin protokol kesehatan seperti cuci tangan, pakai masker dan jaga jarak.

Sekretaris Eksekutif Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan KWI Romo Agustinus Heri Wibowo mengaku, gereja Katolik sangat serius menyikapi disiplin protokol tersebut.

Bahkan pihaknya sangat berhati-hati dalam penyelenggaraan ibadat. Mulai persiapan ibadat, tempat ibadat, edukasi umat, sarana-prasarana, protokol internal dan protokol ibadat. Karena KWI tidak ingin kegiatan keagamaan dan tempat ibadat menjadi kluster baru penyebaran COVID-19.

“Secara nasional, 57 persen dari 37 keuskupan yang tersebar di 34 provinsi belum mengadakan ibadat fisik, dalam arti di Gereja, tetapi masih live streaming, masih online,” ucap Romo Heri saat dialog di Media Center Gugus Tugas Nasional-Jakarta, Jumat (19/6).

Sisanya tambahnya, telah melakukan kegiatan ibadat yang telah dikaji keuskupan. Sebab kebijakan penyelenggaraan ibadat diserahkan pada masing-masing keuskupan. Hal tersebut disebabkan setiap keuskupan diwilayah administrasi dengan zona tingkat risiko penyebaran yang berbeda-beda.

“Tetapi, itu pun tidak langsung otomatis 100 persen paroki-paroki di keuskupan itu mengadakan ibadah. Sebelum proses ibadat, keuskupan terlebih dahulu berkoordinasi dengan pemerintah daerah. Gereja sungguh berhati-hati. Gereja mengedepankan protokol kesehatan agar umat dapat beribadat dengan aman, sehat dan masyarakat produktif,” bebernya.

Untuk memastikan penerapan protokol kesehatan dilingkungan Gereja, lanjutnya, tim khusus telah dibentuk seperti di Jakarta ada Gugus Kendali.

“Kursi-kursi dikasih silang, supaya physical distancing, jaga jarak. Lalu pakai masker, hand sanitizer juga bila diperlukan lebih lanjut memakai face shield. Jadi, edukasi umat menyiapkan sarana-prasarana dan membangun pedoman liturgi yang sesuai tatanan hidup baru diera COVID-19. Juga masih ada berbagai prasyarat diterapkan untuk menjamin protokol kesehatan,” tukasnya.

Sementara itu, Sekretaris Umum Persatuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) Pendeta Jacky Manuputty menegaskan, pihaknya juga menyikapi pandemi COVID-19 ini dengan kritis dan serius. Dibuktikan dengan PGI masih mengimbau gereja-gereja untuk menahan diri dalam penyelenggaraan ibadat.

Hal kedua, tentu melakukan koordinasi yang terus menerus dengan Gugus Tugas lokal untuk mengetahui perkembangan kurva epidemiologi, perkembangan parameter-parameter, zonasi dan lain-lain.

“Sama dengan KWI, PGI juga telah mempersiapkan protokol pengamanan yang sangat detail terkait dengan peribadatan. Kami berharap bahwa Gereja dapat menjadi pusat edukasi dan literasi publik terhadap pandemi COVID-19,” tukas Manuputty. (**)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed