Gandeng AMGPM-GP Ansor, Sekolah Multikulturalisme IAKN Fokus Cakapkan Bencana

AMBON,MRNews.com,- Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon melalui Pusat Studi antar Budaya dan Agama (PSaBA) menggandeng Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AMGPM) Daerah Pulau Ambon Utara (Dapatra) dan Gerakan Pemuda Ansor Kota Ambon dalam workshop sekolah multikulturalisme pemuda lintas iman dan etnik selama dua hari, 30-31 Oktober 2019. Fokusnya, tentu berkaitan dengan persoalan kebencanaan yang sampai saat ini masih terjadi di kota Ambon khususnya dan Maluku umumnya, pasca gempabumi 6,5 SR 26 September lalu.

Fokus tersebut sejalan dengan hadirnya dua narasumber di workshop sekolah multikulturalisme yakni ketua Pusat Penelitian Bencana Universitas Pattimura (Unpatti) Ferad Puturuhu dengan materi perubahan iklim dan kejadian bencana hidrometeorologi di kota Ambon serta Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana BPBD Maluku Jhon Hursepuny lewat materi perubahan iklim dan mitigasi bencana, Baileo Maluku dan akademisi IAIN Ambon. Usai workshop atau besoknya, akan dibentuk forum PELITA (pemuda lintas iman dan etnik) sadar bencana.

Wakil rektor I IAKN Ambon Yance Z Rumahuru pada kesempatan itu katakan, sekolah multikulturalisme sudah dilaksanakan dalam beberapa tahun terakhir. Namun untuk tahun ini jelas fokusnya sedikit berbeda karena bertepatan dengan kondisi Maluku, kota Ambon yang kena bencana sehingga dikaitan dan lebih mengorek tentang bencana. Sekolah multikulturalisme ini bertujuan untuk membangun kesadaran tentang pengelolaan keragaman dalam kaitan dengan bencana dan adanya kesadaran mitigasi bencana di kalangan masyarakat khususnya pemuda lintas iman.

Segmen yang pilih adalah pemuda dengan berkolaborasi bersama AMGPM Dapatra dan GP Ansor Kota Ambon kata Rumahuru dengan harapan nanti diakhir sekolah multikulturalisme ada inisiasi membentuk forum pemuda lintas iman dan etnik untuk tangguh bencana. Forum yang sebenarnya guna menssuport pemerintah dan masyarakat di Kota Ambon terkait pengurangan dampak risiko bencana sebagai langkah jangka pendek. Sedangkan jangka panjang sudah dipikirkan ada peran pemuda lewat forum ini untuk terus membangun kepercayaan di kalangan masyarakat dan pemuda guna merespon wacana-wacana pengelolaan keragaman sekaligus implementasi yang disebut Kementerian Agama dengan moderasi beragama mesti jalan sampai ke masyarakat.

“Kebetulan karena AMGPM Dapatra punya program yang sama untuk membangun forum lintas iman di wilayah pelayanan Wayame, Poka, Rumahtiga sampai Negeri lama. Karena sudah ada, maka tidak ada salahnya saling bersinergi atau kolaborasi. Maka harapannya sekalian bisa setelah ini mereka membuat forum disana karena yang datang juga ada dari gereja-gereja saudara dan Katolik serta pemuda Muslim. Sehingga memudahkan dari aspek komunikasi dan tindaklanjut,” kata Rumahuru saat ditemui disela-sela workshop di auditorium IAKN Ambon, Halong Atas, Rabu (30/10/19).

Melalui workshop sekolah multikulturalisme ini juga diakuinya, upaya membangun kesadaran atau menggugah semua orang bahwa bencana selalu ada di setiap saat. Karenanya, sejumlah materi disajikan terkait perubahan iklim, mitigasi bencana yang mana tujuannya memberi pendidikan kepada pemuda terkait kebencanaan, advokasi dan kebijakan mitigasi bencana serta membangun kesadaran multikultural atau pengayaan pengelolaan keragaman di kalangan pemuda. Ada pula menulis refleksi atau pengalaman multikultur dan kebencanaan, artinya turut mengungkapkan sebetulnya dengan peristiwa bencana ada pengalaman yang orang lain bisa belajar darinya.

“Harapannya, pasca kegiatan ini balik ke organisasi masing-masing baik GP Ansor maupun AMGPM Dapatra bisa menindaklanjuti. Sebab kemungkinan terbuka, kedepan tak saja AMGPM dan GP Ansor tetapi seluruh elemen pemuda bisa dirangkul PSaBA IAKN Ambon berkaitan sekolah multikulturalisme. Itu sangat terbuka. Tapi memang pilihan mengapa AMGPM Dapatra dan GP Ansor Kota Ambon adalah sebagai titik star kolaborasi dengan keduanya dan kemudian akan terbuka untuk lainnya,” papar Rumahuru.

Sebelumnya, ketua panitia workshop sekolah multikulturalisme Ferry Rangi mengatakan, pertemuan pemuda lintas iman dan etnik ini penting karena diperlukan prakarsa, inisiasi dan karya pemuda bagi pembangunan bangsa dimulai dengan hal kecil tapi berdampak signifikan. Salah satu persoalan bangsa yang patut mendapat perhatian bersama terkait pengelolaan keragaman atau kemajemukan. Maka lewat kolaborasi antara PSaBA IAKN-AMGPM-GP Ansor penting memahami bencana sebagai momentum membangun kebersamaan dan kesadaran mitigasi bencana di tengah masyarakat. (MR-02)

News Reporter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *