FADNI Kecam Sikap Pemkab SBB Terhadap Wartawan

AMBON,MRNews.com,- Forum Anak Adat Nusa Ina (FADNI) Provinsi Maluku mengecam sikap pemerintah kabupaten (Pemkab) Seram Bagian Barat (SBB) yang tidak mengijinkan atau mengusir wartawan ketika hendak masuk meliput kegiatan pelepasan kontingen kafilah mushabaqah tilawatil Qu’ran (MTQ) SBB di lantai III kantor Bupati, Selasa (11/6/19) untuk mengikuti MTQ tingkat provinsi Maluku di Namlea, kabupaten Buru.

“Kalau betul demikian adanya tindakan Pemkab SBB lewat staf Humas kepada wartawan, kami sangat sesalkan dan kecam. Sangat tidak terpuji. Sebab kegiatan khan terbuka dan publik harus tahu melalui wartawan. Seharusnya Pemkab sebagai pelayan masyarakat memberi rasa nyaman kepada siapapun termasuk wartawan,” tandas ketua umum FADNI Maluku, Joses Josantos Walalayo saat dihubungi media ini, Rabu (12/6/19).

Padahal menurutnya, wartawan adalah mitra pemerintah yang harus dirangkul, karena senantiasa memberikan informasi kepada publik tentang penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di bumi saka mese nusa yang positif maupun negatif yang membangun. “Pemda tidak boleh anti kritik dan alergi dengan wartawan. Karena kehadiran wartawan/media sebagai salah satu pilar demokrasi penting guna menjadi penyeimbang kepentingan publik dengan pemerintah lewat jalur informasi,” tegas Walalayo.

Sebelumnya diketahui, informasi yang didapat media ini, perlakuan tidak terpuji diperlihatkan Pemkab SBB lewat sejumlah staf humas kantor bupati. Salah salah satu wartawan online kompastimur.com dan kabarterkini.news, Fitra Suneth diusir paksa dari arena kegiatan pelepasan kontingen kafilah MTQ di lantai III kantor Bupati, Selasa (11/06). Suneth, adalah kontributor aktif di SBB. Dirinya hadir lengkapi dengan ID card dan surat tugas yang selalu dikantongi saat bekerja.

Fitrah mengaku dirinya sudah didalam arena pelepasan kafilah oleh Bupati, Yasin Payapo. Tidak berlangsung lama, terdengar bentakan keluar dari kepala bagian hubungan masyarakat (Kabag Humas), Djoseph Sapasuru, kemudian seorang staf Humas menghampiri. “Saya sudah mengikuti kegiatan. Sempat foto dan membuat video Rekaman. Tapi tiba-tiba ada suara bentakan dari arah Kabbag Humas, dengan nada tinggi suruh keluar. Ini pak Suneth ?, anda harus keluar,” tiru Suneth mereka perkataan staf Humas tersebut.

Fitrah mengaku telah meminta alasan dirinya dikeluarkan. Namun staf Humas itu hanya diam serta ngotot dan meminta keluar dari ruangan. Selain Suneth, ada juga Dodi Kaisupy (Online Cakra Media Group/Nurani Maluku), Leo Nirahua dan Ongen sanyakit, Ibrahim Suneth (Siwalima). “Ibu itu suruh keluar. Tidak lama ada Satpol PP datang meminta keluar. Akhirnya saya keluar agar tidak gaduh karena saat itu ada proses “Kalam Ilahi” (pembacaan ayat suci al-Qur’an),” ungkap Suneth.

Dikatakan, semakin maraknya pelarangan dan pengusiran terhadap wartawan yang sedang bertugas adalah kesalahan besar. Satpol PP yang ditugaskan menjaga pintu tersebut beralasan itu adalah perintah. “Tindakan yang diambil pemda SBB telah melampaui batas. Sebab perlu diingatkan kepada semua pihak bahwa wartawan dalam menjalankan tugasnya dilindungi hukum dalam hal ini UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers,” ingatnya. (MR-02)

News Reporter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *