by

Ely Toisuta, Srikandi Beringin Pengukir Sejarah

-Featured-24 views

AMBON,MRNews.com,- Srikandi beringin partai Golongan Karya (Golkar), Ely Toisuta menjadi pengukir sejarah dalam helatan politik di kota Ambon bahkan di provinsi Maluku. Bagaimana tidak, dalam jejak digital tercatat, Ely adalah Ketua DPRD perempuan pertama di Kota Ambon. Bahkan jadi yang pertama pula dari partai Golkar di Maluku. Tentu catatan itu pasti membuat pribadi, keluarga dan partai bangga. Bahwa perempuan juga bisa memimpin para lelaki.

Sejarah ini berhasil ditorehkan Ely di masa bhakti 2019-2024 atau periode keduanya menjadi wakil rakyat dari daerah pemilihan Ambon III (Kecamatan Nusaniwe) usai dilantik saat sidang paripurna DPRD, Selasa (29/10/19). Pasalnya selama ini lembaga “yang terhormat” itu, tak pernah dipimpin oleh seorang perempuan.

Lihat saja dalam 15 tahun terakhir. Kursi pimpinan DPRD kota didominasi PDI Perjuangan yang notabene laki-laki yakni Jemmy Maatita (2014-2019), Reinhard Toumahuw (2009-2014), Lucky Wattimury (2004-2009).

Sama halnya dengan PDI Perjuangan, wajah kepemimpinan Golkar juga dikuasai kaum adam baik pada posisi ketua maupun wakil ketua DPRD hingga periode 2009-2014. Terakhir, palu sidang dipegang Richard Louhenapessy (1999-2004).

Selain mengukir sejarah, Golkar bersama Ely Toisuta, Zeth Pormes, Margareth Siahay dan Frederika Latupapua juga berhasil mengembalikan kejayaan beringin dari tangan banteng moncong putih, perolehan kursi sama hanya selisih suara dan persebaran dapil jadi pembeda. Sebab cukup lama, baru periode ini Golkar kembali memimpin DPRD kota Ambon, meski beberapa kali menangi Pilwakot hanya kalah di Pileg.

Bahkan, jika diperhatikan dari 11 kabupaten/kota di Provinsi Maluku, seluruh ketua DPRD baik masih sementara maupun sudah defentif, hanya kota Ambon yang sukses dinahkodai perempuan, Ely Toisuta. 10 kabupaten/kota lain sama adanya, laki-laki jadi pimpinan.

Jelas, Ely sudah menjadi perhatian publik di Maluku saat ini dan mungkin lima tahun kedepan. Tentu kinerja ibu tiga anak ini pun dapat menjadi pembanding. Bahkan bukan tidak mungkin, kepiawaiannya dalam dunia politik bisa saja sebagai stimulus bagi perempuan lainnya untuk berkarya dan bisa sejajarkan diri dengan laki-laki.

Bahkan, dalam perjuangan menuju ketua DPRD pun, Ely harus bersaing ketat dengan kompatriotnya Zeth Pormes dan Margareth Siahay. Dukungan kala itu berdatangan untuk ketiganya dari berbagai tingkatan kepengurusan, namun “titah” DPP memilih Ely dibanding dua rekannya itu.

Salah satu faktornya yang menonjol sehingga putusan itu kepadanya adalah berpengalaman sebagai pimpinan DPRD yakni wakil ketua di sisa masa jabatan 2014-2019 meski hanya PAW gantikan almarhum Husein Toisuta. Memang, dalam aspek perolehan suara di Pileg 2019, Pormes lebih unggul 1.710 suara berbanding 1.548 milik Ely, namun itu tidak dijadikan ukuran DPP Golkar.

Prinsip bendahara DPD Golkar kota Ambon itu, tidak ada kata menyerah sepanjang perjuangan masih terus dilakukan dan harapan itu sungguh ada. Hal itu yang coba diterjemahkannya dalam pelaksanaan tugas fungsi sebagai wakil rakyat dengan mengusung rumus yang disebutnya KOP atau kritis, objektif dan proporsional.

Kritis, berkaitan dengan sigap dalam menyikapi hal-hal yang menyangkut kepentingan rakyat; objektif, tentang cara pandang luas dan komprehensif didalam menganalisis kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada rakyat dan proporsional; tentang bijak untuk mengambil keputusan bersama eksekutif demi kepentingan rakyat.

Tak cukup sampai disitu, sifatnya yang ke-Ibu-an bakal ditunjukkan Ely bersama dua rekan pimpinan Gerald Mailoa (PDIP) dan Rustam Latupono (Gerindra) lima tahun kedepan. Sebab sudah ada janji bersama, ketiganya akan memberikan warna yang menarik dan nuansa kesejukan, sesejuk kasih seorang ibu didalam rumah tangganya yang senantiasa setia untuk tersenyum dalam situasi apapun.

Meminjam bait puisi yang dibacakannya saat pertama kali pegang palu sebagai ketua DPRD kota Ambon defenitif periode 2019-2024, Selasa (29/10/19) “Martha Christina Tiahahu, Pahlawan Wanita Dari Maluku, Catatan Sejarah Semua Tahu, Ada Wanita Pimpin DPRD di Maluku”.

Puisi itu, jelas memberi pesan dan makna, bahwa penyuka warna kuning itu telah menorehkan catatan emas dalam perjalanan di partai berlambang pohon beringin maupun DPRD kota Ambon khususnya, dan akan dikenang selamanya dalam pentas politik.

Selamat mengemban amanah rakyat, srikandi kebanggaan beringin. Buktikan bahwa proses tidak pernah khianati hasil. (Iwan)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed